Cinta Jeong Wibowo

Cinta Jeong Wibowo
Diamond butterfly


__ADS_3

Saat ini Syakila berada di kamar tamu di kediaman kakek Ronald. Dia sedang sibuk mengotak-atik kalung kecilnya dulu.


"dek, sibuk apa sih dari tadi ngerem aja di kamar" Jeong menghampiri Syakila yang sedang asik dengan aktifitas nya dan sangking sibuknya pintu kamar dibuka Jeong pun dia tidak sadar


"kakak... " Syakila menarik napas panjang


"adek ingin menukar liontin kakak dengan kupu-kupu adek" kelihatan susah sekali Syakila membuka liontin kupu-kupu nya yang masih terpasang di kalung yang lama


"susah banget?" tanya Jeong


"iya.. " Syakila sudah putus asa, Syakila memeluk Jeong


"eehh ada apa ini, kok melow sih" tanya Jeong yang kaget melihat Syakila melingkarkan tangannya di perut Jeong.


"adek ingin pakai liontin ini, siapa tau ada yang mengenali adek" dengan wajah sedihnya " tapi gak berhasil, jari udah sakit semua kena besi" rengek Syakila


"udah ah nanti sore saat pulang kita mampir dulu ke toko perhiasan minta kalungnya dituker ama yang lebih panjang, gitu kan maksudnya?" tanya Jeong, syakila pun mengangguk.


"Itu dari tadi di cariin kakek, yuk kita keluar! kakak kira tadi kemana kok gak ada orangnya suaranya juga gak ada, ternyata bertapa di kamar" bujuk Jeong.


Jeong menarik tangan Syakila menghampiri kakek yang asik membaca buku.


"kakek masih bisa membaca?" tanya Syakila heran mengingat umur kakek yang sudah tidak muda biasanya umur bertambah tapi nikmat berkurang.


"masih bisa sedikit sedikit, makanya nih matanya jadi empat" canda kakek Ronald


"biasanya nih yang seumuran kakek ini udah kurang jelas kek, tapi kakek hebat Lala salut deh buat kakek" syakila mengacungkan dua jempolnya untuk kakek


"katanya biar matanya tetap sehat harus banyak banyak makan wortel bu dokter? makanya kakek rajin minum jus wortel" canda kakek lagi.


Kehadiran Syakila memang membuat tingkat emosional kakek menjadi stabil bisa lebih rileks, bercanda tidak serius melulu mikirin pekerjaan, mikirin perusahaan, harga saham, kakek merasa lebih santai


"La, sering seringlah maen kesini, tengokkan orang yang sudah renta ini, kakek selalu sendiri tidak ada teman, kalau ada Lala Jeong merasa betah disini tapi kalau dia sendirian yang pulang, yah ketemunya di ruang kerja, di ruang makan, udah!! Hahahaha.. kakek tertawa.


" Kami berdua sama-sama keras, sama egoisnya, jadi kalau ketemu kutub utara ketemu kutub utara jadinya saling tolak menolak, hahahaha" jarang sekali melihat kakek tertawa lepas

__ADS_1


"ngapain aja dari tadi diam di kamar?" tanya kakek mulai sedikit serius


"mau nukar kalung kupu-kupu nya yang lebih panjang" jawab Syakila sedikit sendu


"berhasil?" tanya kakek


Syakila menggelengkan kepala "kalungnya gak jadi jari udah ketusuk besi semua" Syakila menunjukkan jarinya pada kakek


"biar nanti Jeong yang betulin, bilang aja apa yang diinginkan pasti dipenuhi sama Jeong!" usul kakek


"sudah Jeong bilang tadi kek, nanti sore sekalian antar Lala pulang mampir dulu ke toko perhiasan benerin kalung itu" Jeong menjelaskan rencananya pada kakek


"jadi kalian mau pulang???" kecewa nya kakek nampak sekali di wajahnya.


"minggu depan Lala kesini lagi kek" bujuk syakila yang melihat orang tua itu mulai sedih


"tapi masih lama, dan terkadang pula pula, yah apalah arti orang yang sudah tiada ini??" kakek bisa melow juga


"minggu ini Jeong tidur disini" Jeong bermaksud menenangkan orang tua itu yang semakin hari semakin sensitif melakukannya seperti anak kecil saja.


syakila tersenyum melihat keduanya


"makanya cepatlah menikah, tinggal di sini saja pasti rame, nanti ada cicit yang banyak, kakek pasti sangat kerepotan" kakek tersenyum tapi matanya berkaca-kaca


"iya Jeong usahakan secepatnya kita menikah ya kan La?" Jeong mencari dukungan


Syakila mengiyakan dan mengangguk.


"oh iya kakek lupa, kata asisten Tom, menurut penyelidikan nya ada di daerah Martapura di Kalimantan ada toko perhiasan yang mempunyai simbol kupu-kupu, namanya DIAMOND BUTTERFLY" jelas kakek


"Nanti kakek minta Tom selidiki lagi, bila perlu kita kesana untuk lebih puasnya" ucap kakek lagi


"makasih ya kek" Syakila memeluk kakek Ronald


"maaf, tuan besar, aden, dan nona makan siang udah siap" emak ipah datang menyuruh mereka makan siang karena memang sudah waktunya makan siang.

__ADS_1


"makasih emak ipah, maaf hari ini Lala enggak bantuin emak ipah masak" kata Syakila sambil tersenyum dan meraih tangan emak ipah


"enggak pa pa non emak ipah malah seneng kalau emak ipah aja yang masak, di sini banyak koki dan pelayan non" emak ipah menuntun ketiganya masuk ruang makan.


"emak ipah sudah makan?" tanya kakek dengan suara beratnya


"nanti aja tuan" jawab emak ipah sambil menunduk


"makanlah di sini bersama kami, ini permintaan nona Syakila" ajak kakek. emak ipah adalah salah satu orang kepercayaan kakek, kakek sangat sayang dengan emak ipah, emak ipah pun orang terlama yang menemani dan melayani tuan tuan di rumah ini.


Jeong berdiri dan menuntun emak ipah makan di sebelahnya.


"kek, aku bagai raja makan ditemani dua wanita cantik" canda Jeong pada Syakila dan emak ipah


"nona Lala yang cantik kalau emak ipah udah keriput Den.. " emak ipah jadi tidak enak hati.


Setelah makan Syakila membantu emak ipah membersihkan meja makan, membawa piring kebelakang


"non, tidak usah ada pelayan nanti yang bersihkan" emak ipah jadi rempong sekali pasalnya Syakila gak mau diem sih


"iya baiklah emak ipah.. " Syakila kembali ke kamarnya


"ngapain lagi?" tanya Jeong


"sholat dzuhur dulu" Syakila melenggang masuk ke kamarnya.


Dia sangat senang dengan apa yang diberitahukan kakek tadi, mengenai diamond butterfly


"ya Allah, ya Rohman ya Rohim, Engkau Maha segalanya, Maha Berkuasa, Maha berkehendak tolong hambaMu ini ya Allah semoga aku cepat ketemu dengan keluargaku, ya Allah semoga sebelum kami menikah aku sudah dipertemukan, amin" doa Syakila setelah selesai sholat dzuhur.


Tak terasa hari sudah sore sekitar jam empat Syakila pamit pulang kepada kakek. Besok dia sip pagi.


Jeong juga pamit sama kakek dia berjanji minggu ini pulang ke rumah kakek.


Suasana hati kakek sangat sedih dia merasa sendiri dan kesepian lagi. Ternyata tidak semua kebahagian karena uang. Tak terasa air matanya jatuh di pipi yang sudah keriput. Dia berpikir seharusnya di masa tuanya dia di kelilingi anak dan cucunya. Namun nyatanya tak seorangpun ada di sini hanya rumah besar ini saja yang setia di sini.

__ADS_1


Emak ipah menghampiri tuan besarnya. Yah hanya emak ipahlah teman cerita hal-hal yang santai hal-hal yang menyenangkan hati dan terkadang mendapat siraman Rohani dari pembantu setianya itu.


__ADS_2