Cinta Jeong Wibowo

Cinta Jeong Wibowo
target baru


__ADS_3

Sore ini Jeong menjemput Syakila, karena agak belum jam lima sore akhirnya Jeong memutuskan menunggu di ruangan Syakila.


Jeong berjalan santai kearah ruangan Syakila.


"oppa" panggil seorang wanita yang tidak lain adalah Lira


Jeong tersenyum kepada Lira yang baru keluar dari ruangannya


"kerja disini juga?" tanya Jeong


"iya, baru dua minggu ini" Lira tersenyum centil mencari perhatian pada Jeong.


"oppa ngapain kesini? berobat? sakit apa?" tanya Lira sok akrab


"jemput dokter Lala" jawab Jeong sambil menunjukkan kearah ruangan Syakila


"Syakila?" tanya Lira tak percaya. Jeong mengangguk dan tersenyum


"maaf saya masuk dulu" Jeong pun masuk ruangan Syakila.


"tapi dokter syasa sedang operasi" kata Lira cepat bermaksud menahan Jeong jangan masuk ruangan Syakila dengan menyentuh tangan Jeong


"iya saya tahu tadi dia bilang sedang ada operasi saya akan menunggunya disini" jawab Jeong lagi sambil menepis tangan Lira dengan halus


"oppa mau Lira temenin?" tanya Lira kecentilan


"tidak perlu sebentar lagi udah mau selesai kok" tolak Jeong


"tidak apa apa oppa saya juga sedang tidak ada kerjaan atau kita bisa mengobrol di ruangan saya?" sedak Lira, dia mencari segala cara untuk bisa membuat hubungan Jeong dan Syakila retak. Tadi pagi dia sudah menetapkan bahwa akan menargetkan Jeong sebagai gebetannya. dan ketika Jeong bilang ingin menjemput Syakila makan tambah mantaplah hatinya untuk menargetkan Jeong harus jadi miliknya apapun caranya.


"maaf Lira, saya tidak mau Syakila salah paham" jawab Jeong. sebagai seorang lelaki normal dia sudah tau maksud dan tujuan Lira ini


Dan ketika Jeong ingin membuka ruangan Syakila, suster Mira datang


"pak Jeong, kata dokter syasa tadi pak Jeong tunggu di dalam saja, kalau sukses tidak ada halangan insyaallah sebentar lagi operasinya selesai" kata suster Mira mempersilahkan Jeong masuk.


Mira memang sedikit kurang senang dengan dokter Lira pasalnya Lira omongan ya ketus dan memandang status orang dengan sangat rendah apalagi Mira yang sebagai suster bantu dia tidak mau di samakan dengan dirinya yang notabane seorang dokter. jangankan mau bergaul untuk sekedar menyapa saja Lira sangat tidak mau apalagi dia yang merasa keponakan dirut rumah sakit ini


Lira keluar dan pulang dengan kesal "aku tidak salah dengar apa ya oppa menjemput Syakila? hebat betul dia sekarang jam terbangnya sudah banyak apa ya? setau ku dia cuma seorang kutu buku yang culun! kampungan! miskin! sialan aku banyak ketinggalan info tentang dia! aku harus merebut Jeong darinya! aku harus mendapatkannya! selama ini semua cowok yang bermaksud mendekatinya selalu berhasil aku ambil!" itulah pikiran jahat yang ada di kepala Lira saat ini. dia merasa selalu kalah padahal Syakila tidak pernah mempermasalahkan soal akademik ataupun masalah cowok dia selalu merasa tidak puas dengan apa yang di milikinya


Setengah enam Syakila baru masuk ke ruangannya. Jeong sibuk memainkan handphone nya sejak tadi. Syakila masuk dan langsung duduk di sebelah Jeong.


"cape?" tanya Jeong lalu meletakkan handphone nya di atas meja


"enggak" Syakila tersenyum simpul

__ADS_1


"gimana operasinya?" tanya Jeong


"untuk sementara ini aman tinggal melihat keadaan pasien pasca operasi, yah semoga sembuh, dapat kembali beraktivitas" Syakila menarik napas sejenak "kasian juga kak, dia kepala rumah tangga anaknya tiga masih kecil-kecil, adek berharap dia cepet sembuh dan dapat mencari nafkah untuk anak dan istrinya" kata Syakila sedikit melow


"yuk kita pulang" ajak Jeong sambil mengacak rambut Syakila.


Setelah mengambil tasnya Syakila dan Jeong keluar ruangan itu dan berjalan keluar rumah sakit


"oppa... " panggil Lira dengan nada yang manja


Syakila dan Jeong berbalik badan


"aku ikut oppa ya, mobil ku mogok!!" keluh Lira dengan manja


"maaf saya masih ada urusan dengan dokter Syakila" tolak Jeong


"tidak apa apa aku bisa kok menunggu atau ikut juga" paksa Lira


"tidak bisa, ini urusan sangat pribadi, saya akan kerumah dokter Syakila" tolak Jeong lagi


"apa kamu keberatan sya?" tanya Lira


"kalau aku sih gak keberatan" jawab Syakila serba salah pasalnya dia tidak tau apa apa


"dek, kakak yang keberatan" sanggah Jeong cepat


Jeong memang sudah terbiasa membentengi dirinya dari para wanita-wanita penggoda, dalam urusan bisnis banyak wanita tipe Lira yang siap menghalalkan cara untuk mencapai tujuannya dan Jeong bukan sekali atau dua kali berurusan dengan wanita tidak tau malu seperti Lira ini.


"maaf ya" ucap Jeong


"ayo sayang" Jeong menggengam jemari Syakila dia sengaja menunjukkan kemesraan nya pada Syakila di hadapan Lira supaya wanita ini sadar diri


"kak, adek merasa tidak enak dengan Lira" ucap Syakila ketika berada di dalam mobil


"adek mau kakak berduaan saja pulang dengan Lira saat pulang setelah nganter adek?" tanya Jeong dengan serius. Syakila hanya menggelengkan kepalanya tanda mengerti


"dengar, kakak gak mau adek salah paham sama kakak lagi, jadi jangan coba-coba membuka peluang kepada orang ketiga di antara kita walaupun hanya sebatas celah" Jeong memegang kedua pipi Syakila dengan Lembu "kakak gak mau kehilangan adek lagi" Syakila mengangguk


"maafkan adek ya, tapi pasti Lira sangat kesal dengan adek" Syakila diam. mereka pun sama-sama diam


Lalu tiba-tiba Syakila ingat sesuatu


"kenapa dia panggil kakak oppa?" Syakila memperagakan Lira saat panggil Jeong


"dia adek Barata temen kakak waktu SMA, kami sering ngumpul bareng kadang di rumahnya atau di rumah siapa, kakak dan Barata satu tim basket di sekolah. Dan dari dulu memang dia panggil kakak oppa park Jeong katanya karena orang tua kakak orang Korea" Jeong menjelaskan

__ADS_1


"dia tau orang tua kakak di korea?" tanya Syakila penasaran


"tuh kan belum apa apa aja udah penasaran apalagi kalau sampai pulang bareng berdua" Jeong meledek Syakila "kakak tidak tau dia tau dari mana mungkin dari Barata" Jeong mengusap lembut rambut Syakila.


"udah sampai, ayo turun.. " ajak Jeong


Mereka berdua turun dan masuk ke rumah Syakila. kedua nya membersihkan diri dan bersiap sholat magrib. Jeong memilih sholat berjamaah ke masjid dekat rumah Syakila, sedangkan Syakila tetap sholat di rumah.


Setelah sholat Syakila menyiapkan untuk makan malam mereka.


"assalamu'alaikum" salam Jeong yang baru pulang dari masjid berjalan bersama para penghuni perumahan ini. Jeong memang sudah sangat akrab dengan mereka


"waalaikumsalam" jawab Syakila dari dapur


"ayo kak makan, adek sudah laper sekali!!" ajak Syakila tumben dia merasa laper


"tumben semangat sekali mau makan?" tanya Jeong


"iya adek laper banget, mungkin karena energi banyak terkuras habis dalam operasi tadi" Syakila mengambilkan Jeong nasi dan lauk ke dalam piring Jeong


"ikan bakar?" tanya Jeong penuh semangat


"maaf, adek gak masak, ini adek beli" aku Syakila


"iya gak pa pa, ayo makan"


Syakila memang paling suka dengan hal yang dibakar, biasanya kalau ada ikan bakar dia akan lupa dengan nasinya


"dek, nasinya dihabisi jangan lauknya aja" pinta Jeong yang melihat nasi dalam piring Syakila tidak berkurang kurang.


Setelah selesai makan dan dapur bersih mereka berdua seperti biasa duduk santai di sofa ruang tengah. Jeong memeriksa pekerjaan nya untuk besok sedangkan Syakila membaca buku yang dibawanya dari kamarnya.


"oh ya kak, adek mau cerita ini soal Lira" tiba-tiba Syakila ingin membahas kembali tentang Lira. Jeong langsung menghentikan aktivitas nya dan menoleh ke Syakila


"ih kakak, responnya cepet banget kalau lagi bahas soal cewek cantik?!" Syakila jadi sewot


"bukan seperti itu sayang, kakak cuma heran aja padahal tadi kan udah di bahas kok sekarang di bahas lagi" Jeong nembela diri dia sangat tidak ingin dikatakan bahwa dia tertarik dengan Lira.


"dia temen adek satu SMA, kami selalu di posisikan untuk berjuang menjadi yang terbaik di setiap ada lomba, peringkat kelas atau pun perwakilan yang di utus untuk mengikuti olimpiade" Syakila diam sejenak "adek tidak pernah menganggap semua itu serius karena adek berjuang bukan berharap untuk jadi yang terbaik, bukan untuk jadi nomor satu tapi adek berjuang demi kakek jika adek kalah adek kasian kakek, dia cuma pensiun tentara gaji pensiunnya cuma cukup untuk dia sendiri tapi dengan memungut adek biaya hidupnya harus dibagi dua, makanya adek selalu berjuang untuk jadi yang pertama jika dapat hadiah adek berikan pada kakek" Jeong mendengar dengan seksama


"tapi tidak dengan Lira, dia selalu merasa adek merebut semua kesempatan darinya..


terkadang adek pikir adek salah apa?" Syakila menyandarkan kepalanya ke lengan besar Jeong


"tadi adek sempat berpikir apa dia ingin mengambil kakak juga" Syakila menarik napas panjang

__ADS_1


"sholat maghrib tadi adek berdoa semoga kita selalu kuat dengan segala cobaan dan ujian, semoga kita tetap bersama semoga kita berjodoh" Syakila menatap Jeong


"Amiiin" jawab Jeong


__ADS_2