
Kegiatan selanjutnya adalah hiking, panitia sudah menyiapkan jalur untuk hiking dengan finish sebuah air terjun alam yang sangat memanjakan mata panoramanya.
Jeong mendampingi Syakila yang diperbantukan sebagai tim medis, jadi tugasnya sebenarnya santai Syakila hanya membantu saja. Jeong memang sengaja memasukkan Syakila ke dalam tim medis, karena selama bertemu teman-temannya Syakila sedikit melupakan Jeong waktunya lebih banyak dihabiskan bersama Mona CS.
Jeong dan Syakila saling bergandengan berjalan santai menyusuri jalan tanah berbatu dengan pemandangan hamparan perkebunan teh yang sangat luas, udara yang sejuk dan sedikit mendung membuat suasana sangat santai dan rileks.
"kak, masih jauh ya?" tanya Syakila yang sedikit sudah bercucuran keringat
"cape?" tanya Jeong merasa kasihan dengan sang pukaan hati
"enggak juga, cuma kok rasanya enggak sampai sampai aja" keluh Syakila.
Jeong sudah menjongkok di depan Syakila " yuk, naiklah!!" pintanya. tanpa mengulang tawaran Jeong Syakila langsung meloncat ke punggung Jeong.
"makasih ya sayang" ucap Syakila sambil merebahkan kepalanya ke punggung Jeong
Tak seberapa jauh mereka berjalan di pondok pinggir jalan ada peserta yang beristirahat karena kelelahan dan hampir pingsan.
Jeong menurunkan Syakila dan menghampiri mereka. Syakila dengan gesit memeriksa keadaan pasien "enggak pa pa kok, istirahat saja bentar kalau enggak istirahat di penginapan aja tuh mumpung ada panitia yang lagi lewat" Syakila menawarkan peserta yang kelelahan itu kembali saja dan untung nya ada panitia yang lewat menggunakan mobil Roxy nya.
"adek bener masih kuat mumpung ada panitia nih ikut pulang aja!" pintar Jeong
"kakak pulang juga?" tanya Syakila
"kakak tanggung pulang bentar lagi udah mau nyampe tuh suara airnya aja sudah terdengar" Jeong menunjuk ke arah sumber suara air terjun.
"kalau gitu adek ikut lihat air terjun juga lah" Syakila merasa yakin seyakin yakinnya.
"ya sudah kalau gitu kita terusin lagi jalannya" ajak Jeong
"kak, apa rombongan Mona udah nyampe ya?" tanya syakila
"mungkin" jawab Jeong
"tuh kan coba kalau ikut jadi peserta pasti udah nyampe, ini jadi tim medis malah belakangan sampenya" Syakila mengeluh dan mengerucutkan bibirnya
"itu bibir tolong dikondisikan, jangan monyong terus kayak gitu nanti kakak khilaf malah kena cium" goda Jeong.
Mereka tiba di lokasi air terjun memang sangat indah, udara di sekitar menjadi lembab karena percikan air yang diterpa dan terbawa angin.
Keduanya turun ke lembah dasar air terjun melalui anak tangga yang sudah dibangun oleh pemerintah setempat. Peserta yang lain sudah berada disana sejak tadi ada yang hanya sekedar menikmati keindahan ciptaan Tuhan, namun ada juga yang langsung mencicipi suasana terjun ke air, berenang atau hanya bermain air.
Mona in the Genk sudah masuk ke air.
"kalian bawa pakaian ganti" teriak syakila dari atas udah geram mau nyebur namun tersadar dengan pakaiannya
"enggak" jawab Inge
__ADS_1
"kamu gak mandi Nge?" tanya Syakila yang ikut duduk di sebelah Inge
"aku lagi datang bulan" jawab Inge "mana pacar kamu sya? kamu bawa baju ganti?" tanya Inge
"ini di belakang kita" Syakila menoleh kebelakang "aku gak bawa ganti" wajah Syakila gemes udah mau nyebur
"kamu bisa berenang?" tanya Inge
"enggak" jawab Syakila pendek sambil menggeleng kepala.
"udah duduk disini aja daripada ntar ada apa-apa" bujuk Inge. Dari dulu Inge memang tampilannya sangat dewasa mungkin karena dia seorang ketua band Genta jadi secara alamiah jiwa kepemimpinannya terbentuk.
Lama mereka berbincang-bincang bernostalgia sambil menikmati keindahan alam lalu berdiri.
Tak seberapa jauh dari mereka berdiri di belakang ada rombongan Lira CS,
"Tuh, rival mu!" ucap Muja memanas-manasi
"enggak level ya rivalan sama dia, apa yang dibanggakan! di lihat dari sedotan pun beda jauh apalagi dilihat dengan mata telanjang" Lira mendorong Muja bermaksud Muja terdorong kearah Syakila dan akhirnya Syakila jatuh. Itu planning nya Lira, namun sayang manusia hanya berencana nasib sudah digariskan.
Ketika hendak mendorong Muja ternyata Inge mengajak Syakila pindah tempat bermaksud ingin mencari tempat duduk yang nyaman mungkin ada cafe di sekitar atau pun sedekar kedai kecil.
tangan Syakila ditarik Inge "yuk.. " ajak Inge namun kaki Syakila sudah ikut melangkah
"kemana?" tanya Syakila
Byuurrrr
Muja jatuh ke air. Semua memandang ke arah jatuhnya Muja, mungkin Muja terkena batu atau kayu atau apa, terlihat air agak merah.
"kak, tolong bantu" Syakila meminta Jeong membantu Muja ke atas.
Dan benar kaki Muja tergores agak besar.
Setelah dinaikkan ke atas Muja menangis memeluk Inge karena Inge lah yang berada di sebelah Muja. Sedangkan Jeong di samping Syakila yang sedang membalut luka supaya darah berhenti keluar.
"Ini harus di jahit tolong bawa Muja ke atas, di atas ada tenda tim medis" pinta Syakila pada tim medis yang sudah berada di dekat mereka. Dengan sigap anak anak PMI SMA Kumbang membawa Muja ke atas dengan tandu.
"Kasian juga anak-anak PMI medannya nanjak, untung udah dibuat jalan dan tangga" ucap Syakila. "yuk kita ke atas" ajak Syakila.
Jeong dan Syakila naik ke atas sedangkan Inge memilih menunggu Genk mereka yang mau ganti baju. "ayo.. " Jeong menarik tangan Syakila. dengan lembut Jeong menarik tangan Syakila, di genggam nya erat takut Syakila jatuh pasalnya kejadian tadi tidak luput dari penglihatan Jeong dan seandainya Syakila tidak beranjak pergi tadi maka Syakila yang bernasib seperti Muja sekarang ini.
Sesampainya di atas. Jeong memeluk Syakila dengan erat. "kenapa?" tanya Syakila
"untung adek enggak kenapa napa" Jeong melepaskan pelukannya dan mengajak Syakila masuk tenda tim medis.
"Ja, mau dijahit disini atau rumah sakit?" tanya Syakila pada Syakila.
__ADS_1
"Jahitannya sama saja, cuma kalau disini lebih cepat ditangani lebih baik, darah tidak semakin banyak keluar, gadingnya juga masih merah belum berwarna putih karena kehabisan darah, kumannya juga belum terlalu banyak yang nempel?" jelas Syakila
"disini aja, Sya tapi pelan-pelan ya, aku takut Sya!" pinta Muja yang dari tadi sudah menangis saja.
"iya.. " Syakila tersenyum memberikan kekuatan pada Muja, maklum lah dia anak mami.
Syakila membuka balutan pada kaki Muja tadi lalu membersihkan sekitar luka dengan alkohol. Dengan hati-hati dan teliti Syakila menjahit luka itu cukup panjang juga enam jahitan.
Setelah selesai Syakila mencuci tangan nya dan mendekat pada Muja
"sudah enggak pa pa, nanti sampe di kota konsultasi sama dokter kecantikan dan dokter kulit bagaimana cara menghilangkan bekas jahitan" ucap Syakila yang tahu akan kekhawatiran Muja
"makasih ya" ucap Muja tulus
"tidak apa apa, kalau dibawa ke Puskesmas terdekat pun pasti akan di jahit, kalau dibiarkan terbuka akan infeksi" jelas Syakila lagi.
"makasih Sya.. " ucap Muja lagi.
"Mau tunggu rombongan Lira di sini atau ke penginapan?" tanya Syakila
"kamu mau pulang?" tanya Muja, Syakila hanya menjawab dengan mengangguk.
Jeong membuka pintu mobil belakang untuk tempat Muja. Muja seper sekian detik terpana dengan ketampanan Jeong bahkan sewaktu tadi Jeong menolongnya di air tadi Jeong terlihat sangat keren di matanya "pantas si Lira kayak kebakaran jenggot liat Syakila dengan pacarnya, pacarnya emang bikin hati meleleh..." gumaman Muja dalam hati.
Syakila duduk di bangku sebelah supir, dan sebagai supir tidak lain tidak bukan adalah Jeong.
"kak, udah acara hiking apalagi selanjutnya?" tanya Syakila yang sudah malas ikut acara selanjutnya, dia udah cape, Syakila memang tidak terlalu hoby kegiatan di alam terbuka, sebenarnya bukan tidak suka tapi keadaan yang memaksa dia berdiam di rumah.
"kenapa? udah cape?" tanya Jeong yang melihat Syakila menyandarkan badan nya ke sandaran kursinya.
" udah acara ini selesai, kita cabut duluan aja kalau adek udah cape?" usul Jeong
"emang gak pa pa?" tanya Syakila seakan takut diajak bolos sekolah
"ya boleh lah dek, emang sekolah kalau bolos dipanggil oleh pak Sukirno" jawab Jeong sambil mengenang masa lalu, dia pernah di ajak bolos ada turnamen basket di sekolah lain.
"emang jaman kakak pak Sukirno udah jadi kesiswaan juga kak?" tanya Syakila
"he ehm" jawab Jeong "kakak pernah sekali dapet surat wasiat dari beliau waktu diajak Bara nonton turnamen basket di sekolah sebelah" cerita Jeong
"abis kakak dimarahi kakek" kenang Jeong
"dah sampe, adek nanti papah temannya ya, kakak mau langsung ke kamar beres-beres" Jeong mengacak-acak rambut Syakila.
udah deh udah kambing congek Muja duduk di belakang nemenin orang pacaran.
Kalau jaman dulu istilahnya jadi obat nyamuk.
__ADS_1