
Mobil Jeong sudah terparkir di depan rumah sakit. Syakila segera masuk ke dalam mobil tersebut. Mereka meluncur pulang ke rumah.
Syakila mengeluarkan segelas jus jambu merah dan sepiring bolu pisang tepat di meja depan Jeong duduk di ruang tamu. Seperti biasa Jeong selau membuka pekerjaannya jika ada tempat dan waktu. Dia membuka leptop dan handphone nya.
Syakila masuk ke kamar, mandi dan bersiap untuk menemui kakek.
"Jeong.. " teriaknya dengan mengeluarkan kepalanya di pintu kamar "pakai baju yang mana? tanya nya.
" Apa saja yang penting jangan warna hitam" seru Jeong dari ruang tamu.
"Ayo.. " ajak Syakila, tidak ada yang berlebihan make-up tipis minimalis.
"Jeong... suara siapa itu... kau ada dimana sekarang" Jeong membiarkan panggilan video callnya.
Jeong hanya melongo menatap Syakila, dia terpesona menurutnya Syakila hari ini sangat berbeda, padahal sama saja orang nya juga sama, Jeong.. Jeong...
"Ayoo.. " ajak Syakila sekali lagi.
"Za, nanti lagi ya!!! " yang ditelpon di sana bengong, mati penasaran dengan suara wanita itu. "Wanita mana yang telah merebut sahabat nya itu, si Gunung Es itu sudah mencair" pikir Reza tak percaya
Mereka mampir di apartemen Jeong sebentar, Jeong mau ganti baju. Apartemen Jeong sangat besar dan luas dibanding dengan rumah mungilnya. Ruangannya bersih tertata rapi, klasik dan elegan, banyak terdapat unsur kayu. Syakila duduk di ruang sambil memainkan handphone nya.
"ayo! " ajak Jeong "rumah kakek sekitar satu jaman, nanti kita magrib di jalan saja" mereka pun pergi menuju rumah kakek.
**
Tiba di sebuah rumah dengan gerbang yang besar dan menjulang tinggi. Sangat besar dan luas, bahkan lebih besar dari rumah keluarga Shanum. Aku diam saja, Jeong menggenggam tangan ku
"jangan gugup" ledeknya "aku tidak gugup" jawab ku sewot, dia selalu saja menggoda ku.
Pintu terbuka lebar, " tuan muda kecill..." seorang wanita paruh baya memeluk Jeong, dari tampilannya biasa saja mungkin pengasuhnya dulu karena ibu itu juga memanggil Jeong dengan sebutan tuan "Aden gagah banget sekarang, tambah ganteng lagi.." Jeong membalas pelukannya " emak ipah sehat? " emak ipah mengangguk.
"mak, ini Syakila" memperkenalkan aku dengan emak ipah, aku membungkuk dan bersalaman.
__ADS_1
"cantik den, imut" puji emak ipah
"ah mak ipah ini, dia dokter mak, kalau emak sakit sama dia aja" huh Jeong pamer, aku hanya tersenyum
"HEH EM.. " suara deheman berat suara laki-laki, ku lihat dia duduk di singgasana nya. seorang laki-laki berumur rambut putih memegang tongkat.
Jeong hanya membungkuk, hubungan yang kaku antara kakek dan cucunya, aku tersenyum manis kepada kakek itu.
"Ini Syakila" kata Jeong, aku tersenyum dan mengambil tangan kakek lalu ku cium punggung tangannya, jadi ingat kakek ku yang telah tiada. Kakek Jeong terlihat pucat, aku yakin seratus persen keadaannya saat ini pasti sedang sakit. Tangannya sangat dingin.
Dia ingin berdiri aku reflek ingin membantunya. Tapi Jeong diam saja, aku langsung melotot ke arah Jeong untuk membantu, Jeong membantu kakeknya berdiri.
"tidak apa apa kek" aku masih memapahnya duduk di sofa walau beliau terlihat enggan ditolong.
"siapa nama mu?" tanya kakek
"Syakila kek, kalau Jeong panggilnya Lala" ucapku ingin menghilangkan kekakuan ini. Kakek itu melirik Jeong, apa aku salah ngomong
"apa kegiatanmu sehari-hari?" tanya kakek
"dia seorang dokter" Jeong yang menjawab dengan datar. Aku melirik ke arah Jeong.
Jeong berdiri "sudah ku katakan jangan ganggu dia" Jeong sedikit meninggikan suaranya, aku langsung mencubit tangan nya, Jeong menatapku, aku menggeleng kan kepada ku.
"aku tidak tau dari keluarga mana kek? aku hilang sejak umur 2tahun, seorang kakek pensiunan tentara menemukan ku" jawabku dengan lembut
"kau tidak diterima di keluarga ini! " kata kakek keras, Jeong langsung berdiri, aku menyuruhnya duduk kembali.
"tidak apa apa kek, aku senang bisa berkunjung ke rumah ini" jawab ku lagi
"kami permisi" Jeong marah dan menarik tangan ku.
"tunggu dulu, aku belum selesai" kakek terlihat gemetaran.
"untuk apa, untuk dihina" kata Jeong tanpa melihat kearah sang kakek. Aku muak dengan mereka berdua, rindu tapi sama-sama egois.
"kek, kami pulang dulu, besok-besok kami berkunjung lagi, kakek jaga kesehatan, mintalah siapapun orang di rumah ini untuk mengecek darah kakek, atau berkunjunglah ke Teratai Medica aku akan membantunya, aku mohon kek... " aku mengatakan seperti itu karena sepertinya kakek keracunan dan beliau tidak sadar.
__ADS_1
"aku belum selesai" bicara kakek terbata-bata dia menahan tangis.
"Jeong... " aku memanggilnya. "kakek sakit??" aku mendekatinya, kusentuh tangan dan kaki nya terasa dingin sekali lalu aku menyentuh dahi "maaf ya kek" dahinya berkeringat. Jeong diam dan kelihatannya mulai cemas. sayang bilang sayang, rindu bilang rindu gitu aja kok repot Jeong.
"Jeong, kakek sakit, aku ingin memeriksanya, bawa kakek ke tempat yang paling aman di rumah ini, ku mohon" aku menggenggam tangan Jeong. Tidak ada lagi kemarahan di wajahnya.
*
Aku terkejut Syakila mengatakan kakek sakit, aku tidak percaya, kakek ku sangat kuat, beliau ada tim dokter keluarga yang selalu mendampinginya. Tapi aku percaya pada Syakila, aku membantunya memapah kakek masuk ke ruang kerja kakek.
"yakin ini tempat yang paling aman?" tanyanya lagi, ada apa ini? aku bertanya dalam hati.
Syakila menyuruhku mengambilkan tas medis nya di mobil ku. aku menuruti perintahnya.
"apa yang kakek keluhkan? tanya Syakila "kepala pusing, terasa berat?" kakek mengangguk, ku genggam tangan kakek
"pandangan kabur? lidah keluh? ingatan cepat lupa? tangan dan kaki berasa kesemutan tak bertenaga?" kakek mengangguk "semua itu normal jika di periksa ke dokter, mereka mengatakan faktor usia, tapi yang aku heran wajah kakek pucat dan bibir kebiruan, serta tangan dan kaki dingin" Syakila diam sebentar sambil memeriksa jantung, mata, mulut, dan denyut nadi kakek. "kekek belum terlambat, sebentar lagi akan sembuh, asalkan kita menjaga nya" Syakila menyemangati kami. dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, lalu dia mengambil air sisa di gelas kakek, dibungkusnya, air itu dengan plastik yang ada di tasnya dan dimasukkan ke dalam wadah
"La, katakan apa yang terjadi pada kakek?" tanya ku penasaran
"maaf ya kek aku mengambil sampel darah kakek ya untuk diperiksa" Syakila diam
"Jeong, kek, aku belum tau pasti keadaan kakek, karena antara minuman dan darah belum diperiksa ke lab, dugaan sementara sepertinya kakek keracunan, semoga itu hanya dugaanku saja ya kek..?" aku terkejut
"Laaa... " aku terdiam "ini tidak mungkin?"
"apapun bisa terjadi, tugas kita sekarang menjaga kakek" jelas Syakila
Kami mengantar kakek ke kamarnya untuk istirahat. kucium dahi kakek ku "kek, nanti malam aku tidur di sini" kakek menatapku, dan mengangguk.
"kek, Lala pulang dulu, kalau boleh diizinkan besok Lala mau kesini lagi, mau periksa kakek, bawain makan siang kakek, dan obat herbal kakek, boleh..???" tanya Syakila. kakek hanya mengangguk
"La, Terima kasih sudah membawa Jeong pulang" kakek menangis
"maafkan Jeong kek" aku memeluk kakek
...Kita tidak tahu umur kita, juga umur mereka...
__ADS_1
...berikan yang terbaik untuk orang yang kita cinta ataupun yang mencintai kita selagi ada kesempatan...
...terimakasih...