
Shanum bergegas meninggalkan gudang itu, dia cepat menuju jalan raya, tujuannya adalah kampung terdekat. Dia menumpang pada mobil pik up yang melintas dan turun di sebuah rumah.
"Assalamualaikum bu, bu..
"Assalamu'alaikum pak.. bu... " Shanum dengan suara agak keras
"Walaikumsalam " jawab seorang ibu
"Bu, tolong saya bu.., saya korban penculikan... " suara Shanum melemah,
"masuk dulu neng" ibu hamidah menyuruh shanum masuk ke dalam rumahnya lalu dia mengambil kan segelas air putih.
"bu, saya baru saja terlepas dari penculikan" Shanum menangis
"ada apa buk" tanya suami bu hamidah
"neng ini dia baru saja lepas dari penculiknya" jawab bu hamidah
Setelah shanum menjelaskan kejadiannya Shanum meminta izin untuk meminjam handphone dia ingin menghubungi keluarganya di kota dan menyuruh mereka menjemputnya. Dan beruntungnya Shanum bertemu dengan orang yang baik.
"assalamu'alaikum, bik mana bunda"
"waalaikumsalam, ini bunda ada apa, shanum ini ya?"
" bun, jemput shanum, shanum tadi di culik"
"kamu dimana sekarang? "
"di desa.. desa apa bu?" tanya shanum pada bu hamidah, lalu memberikan handphone nya menyuruh bu hamidah yang bicara
"hallo, bu kami di desa A,"
"iya bu, gimana ceritanya? shanum baik-baik saja?
" anak ibu baik-baik saja, nanti saja ceritanya kalau sudah sampai disini. "
"ya bu, terimakasih ya bu, titip anak saya bu"
Mereka menyudahi panggilannya. Tadi sebenarnya Shanum menghubungi Reza, namun gak diangkat - angkat. Bunda dengan cekatan menghubungi Reza. Reza sama dengan bunda, dia cepat menghubungi Jeong. Dan Reza juga menghubungi nomor bu hamidah yang sudah di berikan bunda maya. Bunda dan Reza cepat ke desa A. Di dalam perjalanan bunda penasaran menelpon bu hamidah kembali.
"assalamualaikum" jawab Shanum, rupanya Shanum yang pegang handphone bu hamidah
"bunda.. "
"iya, bunda dalam perjalanan, gimana ceritanya?
__ADS_1
" bun, Syakila masih disekap"
"apa Syakila juga? "
"iya, kami berdua di culik, sebenarnya yang ingin mereka culik Shanum tapi Syakila menyuruh Shanum pergi dia mengaku jadi istri mas Reza bun, bun Shanum sedang hamil makanya Syakila nyuruh Shanum pergi.... hihihihiiiii"
"ya Allah Shanum, ya sudah bunda mau telpon ayah dulu"
Bunda memutuskan sambungan telepon, "ada apa bun,? tanya Reza
" Syakila masih disekap, bunda mau hubungi ayah supaya menyiapkan uang tebusan, Shanum lagi hamil, Syakila menyamar jadi istrimu, jadi sebenarnya cuma istri kamu Za yang dicari mereka tapi Syakila dan Shanum tertangkap semua" bunda panik, Reza segera menghubungi Jeong. Bunda Maya dan Reza sekarang menuju desa A.
*
Setelah mengantar Selly pulang aku ke rumah Syakila, maksudnya hari ini aku ingin mengatakan semua yang terjadi sehingga Syakila tidak salah paham kepada ku. Sejak kejadian hari itu aku gak pernah ketemu dengan Syakila, dia seperti menghindar dan menjauh dari ku. Dan aku gak mau itu terjadi, aku ingin selalu dekat dengan nya. Pintu rumahnya masih terkunci, apa mungkin masih sama Shanum.
Aku duduk di kursi santai depan rumah nya. Dia tadi cantik sekali memakai baju biru yang aku belikan. Suara adzan maghrib berkumandang, aku menunaikan sholat magrib di masjid dekat rumah Syakila, selesai aku menuju rumah itu kembali. Handphone ku berbunyi, kulihat Reza menghubungi
"iya"
"jeong, Syakila dan Shanum di culik"
"apaaaa? di culik dimana?
"depan rumah Syakila"
"cepatlah kemari di desa A, aku tunggu"
Sambungan telpon ku matikan. Rasa tak percaya, baru tadi aku melihat dia makan di cafe bersama Shanum. ku hubungi patner IT ku, aku minta CCTV dekat taman tempat kejadian penculikan. Aku melihat rekaman CCTV yang di berikan Zul teman IT ku tadi. Rasa tak percaya tapi ini nyata. Aku diam dan menghubungi nomor HPnya Syakila, tut.. tut... tut... tak ada jawaban, masih penasaran aku mengecek keberadaan nya melalui GPS yang ku pasang di HP Syakila dan ternyata benar dia berada dekat desa A. Tanpa ragu aku langsung tancap gas meluncur ke desa A. Dalam perjalanan aku menelpon Reza kembali.
"gimana sudah ada kabar? "
"Tadi ada pihak yang menelpon, katanya mereka minta 1M lokasi belum di tentukan"
"aku akan memenuhi permintaan mereka"
"ayah sudah mengurus nya"
Satu jam perjalanan, aku sudah sampai di kediaman bu Hamidah. Ku lihat Reza duduk di teras luar, aku cepat turun dan masuk. Terlihat ada bunda, ayah, dan Shanum. Ada Shanum lalu dimana Syakila
" Mana Syakila??? " tanya ku dengan suara tinggi aku sudah begitu emosi, jika ini permainan, ini tidak lucu.
"duduk dulu Jeong, ada ayah dan bunda" kata Reza mengingatkan aku
"MANA SYAKILA!! " aku tambah emosi,
__ADS_1
"Jeong, Syakila masih di sekap" jawab Reza
"kenapa Syakila masih disekap? kalian hanya membebaskan Shanum?" aku marah sekali, ku dobrak meja di ruang tamu bu Hamidah,sungguh aku kecewa "jangan pikirkan uang aku sudah membawanya 1M jika merasa kurang ku pintakan pada kakek" aku terasa sesak sekali, sangat kecewa, " Syakila... ya Allah jangan sampai terjadi apa-apa padanya ya Allah " semua mata tertuju padaku, mereka pasti heran dengan perbuatan ku, mereka pasti bertanya-tanya kenapa aku peduli sekali pada Syakila.
"Ayo kita keluar! " Reza memapahku ke luar duduk di teras "tadi ketika penculik itu telpon, keadaan Syakila baik-baik saja. kami belum melakukan apa-apa karena belum ada instruksi dari mereka" jelas Reza hati-hati.
"Lalu kenapa Shanum sudah kembali? " tanya ku lemah. aku menangis, Reza menepuk pundakku
"apa dia wanita itu Jeong? " tanya Reza
"iya, aku sangat mencintainya Za" aku menangis memeluk Reza
"keluarga Shanum juga sangat mencintai nya sama seperti anak mereka sendiri" aku mulai agak tenang mendengar perkataan Reza "ketika mereka di sekap Syakila mengaku sebagai istri ku, karena yang mereka incar sebenarnya Shanum, namun karena Syakila yang sangat baik dan sayang sama Shanum, dia menyuruh Shanum keluar dengan menggadaikan cincin dan kalung yang kau beri, Syakila tidak ingin terjadi apa-apa pada Shanum karena Shanum lagi hamil" Jeong kaget mendengar cerita Reza
"Shanum sedang hamil? " tanya ku "aku juga tidak tahu, kabar baik seperti dia berikan kepada Syasa daripada kepada suaminya" Reza juga terlihat sedih, Reza memelukku "Jangan khawatir aku juga berada paling depan untuk menyelamatkannya" Reza menangis "aku berhutang dua nyawa pada Syakila" dia terharu pada Syakila.
"Aku sudah menyuruh rombongan Moko menuju lokasi, aku pernah memasang GPS di HP Syakila" kami pun terdiam.
"sejak kapan kamu mencintainya? kenapa tidak cerita? sebenarnya aku sempat ingin memberi perhitungan pada wanita yang sudah mencuri Jeong ku" Reza diam.
"sedang apa dia sekarang Za? pasti dia ketakutan!! semoga tidak terjadi apa-apa padanya" ucapku
"Jeong, rombongan Moko sudah menemukan gudang itu jadi bagaimana? " tanya Reza yang baru dapat kabar dari Moko.
"jangan bergerak dulu, kita ikuti aja dulu alur mereka, aku takut terjadi apa-apa dengan Lala" Reza pasti menghargai keputusan ku biasanya kami tidak pernah ada belas kasih pada musuh-musuh kami.
Drtd.. drtd.. drtd... suara handphone Reza bergetar
"kalian berbohong!! bukan!! wanita ini berbohong!! mereka mengarahkan kamera kearah Syakila, tampaklah Syakila dengan luka lebam di pipi akibat tamparan, dari sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah
" SYAKILA...LA...LALAA... "dengan lemah dia melihat kearah ku " bertahan lah...ku mohon... aku mencintaimu..."
"HALLO..HALLOO.. dengar aku akan menambah dua kali lipat dari yang kalian minta tapi ku mohon jangan sakiti dia"
"itu akibat dia berbohong, malam ini jam satu di jembatan tua, tidak ada teman dan tidak ada polisi" telepon terputus.
"SYAKILA AA... " aku berteriak "Za,, aku mau kesana" aku tidak bisa tenang melihat luka dan lebam di wajahnya, pasti dia sangat kesakitan "Laaa... "
"Jeong... Jeong... dengar aku, kau harus tenang, bagaimana kamu bisa menyelamatkan dia kalau kamu begini" Reza benar, yah aku harus tenang "dengar kita tidak boleh gegabah, ada Syakila di tangan mereka, kita salah sedikit saja nyawa Syakila jadi taruhannya" Reza menyadarkan aku, iya Reza benar ada Syakila yang jadi sandera mereka.
"bos, mereka pindah tempat, mereka berjumlah enam orang, dua orang membawa senjata tajam"
"jangan bertindak, aku tidak ingin terjadi apa-apa terhadap Syakila"
"baik bos"
__ADS_1