Cinta Jeong Wibowo

Cinta Jeong Wibowo
* aku menemukannya *


__ADS_3

Malam ini masih jam sebelas, kami mempersiapkan segala sesuatu untuk pertemuan dengan penculik itu. Sebenarnya hanya dua yang harus kami siapkan uang dan mental, uang sudah kami bawa dua tas, tas yang disiapkan ayah Bara ayahnya Shanum dan satunya lagi tas yang aku bawa. Persiapan kedua adalah mental ini yang sangat sulit, sulit bagaimana jika terjadi apa-apa dengan Syakila itu yang aku cemaskan


"Tenang, harus bisa mengendalikan diri" Reza mengingatkanku


"aku takut Za, aku takut jika terjadi apa-apa dengan Syakila" aku mulai rapuh


"kalau kamu rapuh siapa yang akan diandalkan Syakila" ucap Reza


"iya kau benar, huhh... KUAT.... KUAT.... KUAT" aku menyemangati diri ku sendiri. Waktu terasa berjalan sangat lambat, jam 12 lewat kami menuju lokasi pertemuan, rombongan Moko sudah siap, aku juga sudah menghubungi komandan Robi. Ku katakan pada mereka tolong jangan bergerak sedikitpun sebelum Syakila di tangan ku.


"ayo Jeong! " ajak Reza, akupun berdiri "biar aku aja yang nyetir" pinta Reza. Kali ini Reza yang nyetir dia khawatir aku bertindak emosi yang akan merugikan kami sendiri. Kami tiba jam satu kurang. Para penculik itu sudah ada di sana


"Hahahaaa, rupanya kamu sudah tidak sabar ya? " kata si bos yang berambut panjang.


"Ada dua tas, total semua 2M" ucap Reza "Mana Syakila?? " sambung Reza lagi menanyakan keberadaan Syakila. Aku masih di dalam mobil mengamati sekeliling mencari Syakila.


"Hahahaaa kalian banyak melakukan kesalahan, pertama dia mengaku sebagai istrimu padahal bukan, kedua sudah kukatakan pergi sendirian tapi kau membawa teman!!! " ucap preman brengsek itu.


"aku tanya sekali lagi, mana Syakila??!! " bentak Reza


"heii!! disini aku yang pegang kendali, lihat!!!" preman itu menunjukkan posisi Syakila yang berada di atas pagar jembatan. aku keluar dari mobil diam-diam, dengan mengendap-endap aku mendekati posisi Syakila, badannya lemah, wajahnya pucat pasi, terlihat bajunya basah.


"berikan Syakila!! " kata Reza


"tidak!! lempar dulu uangnya!! " ucap preman itu dengan keras. dilempar Reza satu tas anak buah yang dekat situ langsung mengambilnya.

__ADS_1


"turun kan Syakila!! " bentak Reza


"lemparkan tas satu lagi, atau tidak sama sekali!! " Reza melempar tas itu dan langsung di ambil anak buahnya lagi dan si bos masih menodong kan pistol rakitan ke arah Reza, sedang anak buahnya cepat bergerak masuk dalam mobil. Reza belum bisa bergerak apa-apa karena masih ditodongkan senjata, anak buahnya yang di atas cepat mendorong Syakila ke bawah dan dengan cepat mereka semua masuk mobil. Aku yang memang posisinya sudah dekat dengan Syakila langsung ikut terjun ke bawah menyusul Syakila.


Rasanya dekat sekali ingin ku gapai dress yang dikenakan Syakila tapi tidak sampai dan keburu masuk ke air. Aku menyelam menyusul Syakila tapi tidak ada. Kemana Syakila?? Aku naik ke permukaan mengambil napas ku tengok tidak ada sesuatu di permukaan aku kembali menyelam mencari menggapai gapai, tapi tidak ada aku naik ke permukaan lagi." Ya Allah, dimana Syakila ya Allah jangan sampai dia hilang" aku hampir putus asa, aku merasa kaki ini terasa ada sesuatu aku langsung menyelaminya ternyata itu dress nya Syakila yang nyangkut di kaki ku. "Ya Allah Terima kasih ya Allah, akhirnya aku menemukannya" aku sangat bahagia, kuraih dan ku tarik Syakila, namun susah sekali karena posisi tangannya yang terikat. Syakila sudah tak sadarkan diri. Reza menyusulku dan membantu menarik Syakila ke tepi.


Setelah mereka mengambil semua tas yang berisi uang dengan cepat mereka naik mobil sedangkan dua orang yang di atas jembatan setelah mendorong Syakila mereka langsung masuk mobil, si bos yang melihat anak buah nya sudah aman cepat berlari masuk mobil dan menembakkan senjatanya ke arah Reza, dan Reza langsung berguling kesamping dan terjun ke bawah juga membantu Jeong mencari Syakila. Rombongan preman sudah tancap gas meninggalkan tanpa mereka sadari di ujung sana sudah ada rombongan Moko yang menanti sedangkan di ujung sini ada pasukan komandan Robi yang berjaga.


Syakila sudah berhasil kami bawa ke tepian, badannya sangat dingin.


"Laa... Laa... " tanpa terasa airmata ini mengalir menetes. "Laaa ku mohon bangunlah... " ku tepuk pelan pipinya. Bunda datang dengan ayah.


"Jeong biar bunda bantu" Bunda dengan gesit memompa dada Syakila, aku memperhatikan apa yang dilakukan bunda.


"Sya.. Syasa... bangun nak.. " kami bergantian memompa nya "La.. Lalaaa.. bangun la" aku mencoba menyadarkan Syakila. bunda memberi napas bantuan namun Syakila masih diam saja. Bunda Maya muda adalah seorang dokter anak, namun setelah menikah dia fokus mendampingi suami nya berbisnis dan mendidik anak-anak nya. Aku ikut memberi napas bantuan setelah di beri arahan dari bunda.


Uhuks... uhuks... Syakila memuntahkan air yang sempat terminum. "Laaaa.. " kupegang pipinya yang lebam, ku cium kepalanya.. ya Allah terimakasih ya Allah " aku tak henti-hentinya mengucap syukur.


"Dingin.... " ucap Syakila lemah. Ayah langsung membuka jas panjangnya. Kami membawa Syakila ke dalam mobil menuju rumah bu Hamidah untuk mengganti pakaian Syakila yang basah lalu kami pergi ke rumah sakit terdekat.


"Jeong, ayo kita bawa kerumah sakit" pinta bunda, Ku gendong tubuh mungil lemah tak berdaya ini. " oh Tuhan, selamatkan lah dia, aku sangat mencintainya " aku berdoa dalam hati. Ku pangku kepala nya sampai badannya ke pegang sambil kupeluk, kakinya di luruskan kesamping diletakkan dipangkuan kaki bunda. Dan untungnya aku tadi ikut ganti baju juga.


Syakila hanya memejamkan mata, "bun, tubuhnya dingin sekali" aku peluk dia. Bunda yang duduk di samping mengusap seluruh tubuh Syakila dengan minyak kayu putih. Air mata ini kadang menetes mengalir begitu juga dengan bunda. Ayah Bara di depan sebagai sopir. Shanum dan Reza di mobil yang berbeda


"peluk dia Jeong, biar hangat" ucap bunda

__ADS_1


"iya bun" aku peluk dia "Laa.. Laaa.. Lala" aku panggil Syakila, dia menarik napas panjang, alhamdulillah berarti ada respon dari Syakila.


"Jeong..... " panggilnya lemah, "iya " jawabku kulihat air matanya mengalir "ada apa? " tanya ku pelan


"dingin.. " ucapnya terasa tak terdengar.


"bertahanlah sebentar lagi kita sampai rumah sakit" aku menyemangatinya.


"Jeong, ajak dia bicara jangan sampai dia tak sadarkan diri" kata bunda Maya.


"iya bun" jawab ku


"Laa, jangan tidur" aku mengelus pipinya yang lebam, "Laa.. " ku panggil lagi


"hhmm" lirih suaranya. Ya Allah aku tak kuat melihat dia menderita begini ya Allah.


Kami sampai di rumah sakit, dengan cepat ayah mendaftarkan dan mengurus administrasi sedangkan aku dan bunda membantu Syakila masuk ke ruang pemeriksaan.


Ya Allah bantu dia ya Allah


Selamatkan dia ya Allah


Sembuh kan dia ya Allah


Aku sangat mencintainya ya Allah

__ADS_1


Do'a ku dalam hati


__ADS_2