
**
Pulang dari rumah kakek aku langsung membawa sampel darah dan sampel minuman kakek ke rumah sakit. Malam ini mungkin hampir jam sebelas, aku ke ruang laboraturium.
"mbak Yuri, tolong aku, periksa dulu kedua sampel ini" pinta ku
"sampel apa dok?" tanya Yuri
"aku ada pasien, dugaan sementara keracunan makanya aku membawa kedua sampel ini, mohon mbak ya, ini gawat darurat" aku memohon pada Yuri
"kalo bisa besok pagi aku ingin mengambilnya" pinta ku lagi.
"tapi besok hari minggu dok" elak Yuri
"aku mohon mbak, ini urusan hidup dan mati" aku memelas, mbak Yuri mengacungkan jempolnya. Setelah selesai dengan urusan lab, aku pulang.
Pagi ini aku minta jemput di rumah sakit, aku habis mengambil hasil lab.
"Mau dibuka sekarang atau di rumah?" candaku
"di rumah saja, supaya kalau pingsan cuma kamu yang merawatnya" canda Jeong tersenyum
"kalau kamu pingsan di rumah aku ceburkan ke kolam aja" aku memang suka becanda nanti kalau kalah bedebat ngambek nangis
"La, itu kolam apaan di samping?" tanya Jeong penasaran "kolam putri duyung?" sambungnya lagi
"bukan, masa putri duyung nya gak bisa berenang" ucap ku cemberut, karena memang aku gak bisa berenang, sebenarnya kolam itu dibuat untuk belajar berenang
"kamu enggak bisa berenang? Hahahaaa" dia tertawa
Tak terasa dengan candaan kami sampai di rumah. Jeong duduk di ruang tengah tempat favorit nya. Dibukanya amplop itu, " La ini maksudnya apa? aku gak mengerti baca nya" Aku keluar dengan baju santai. Aku duduk di sebelah nya.
"ini ya maksudnya darah dan minuman kakek sama sama mengandung zat XX" jelas ku
"artinya? " tanya Jeong
"sesuai dugaanku kakek keracunan" jawabku mantab. Jeong lemas "sungguh aku tidak percaya, istana itu sungguh kejam ingin melakukan kudeta, penghianatan kepada kakek, siapa yang melakukan ini, siapa kira-kira orang-orang yang masuk dalam kandidat penghianat itu? Jeong bicara sendiri, dia sampai tidak sadar aku yang menyetir, kami mau ke pasar induk mencari obat herbal dan bahan makanan
*
__ADS_1
Aku terkejut dengan hasil lab kakek, tidak mungkin ada persekongkolan penghianatan di rumah itu. Kakek mempunyai dua anak laki-laki, papa dan paman. Paman tidak mempunyai anak dalam pernikahannya dan dia meninggal dunia ketika aku berusia sepuluh tahun. sedangkan papa, papa menikahi wanita kalangan biasa berkewarganegaraan Korea, mereka bertemu ketika papa membuka cabang bisnisnya di sana, dan ketika papa pulang dia membawa istri dan anaknya. Kami tidak diterima di keluarga ini. Kakek ku Ronald Wibowo, konglomerat Belanda yang menikah dengan putri keraton Surakarta. Nama Wibowo didapat kakek dari Keraton Surakarta karena menikah dengan putrinya maka kakek di beri gelar Raden Wibowo artinya Laki-laki yang berwibawa.
Papa boleh bersama mama dengan syarat aku harus tinggal disini sebagai calon pengendali Ronald Grup. Sebagai diktator kakek merampas semua masa kecilku. Hingga aku ingin melanjutkan kuliah kami bertengkar hebat. Kakek menginginkan mengambil jurusan menejemen bisnis sedangkan aku mau mengambil teknik sipil.
Dan aku mengalah mengambil jurusan yang kakek inginkan tapi dengan syarat aku keluar dari rumah ini, semua fasilitas ku kembalikan kepada kakek. aku kuliah di Amerika mengambil dua jurusan di Universitas yang berbeda. aku meneruskan mengambil arsitek karena memang aku dapat beasiswa dan menejemen bisnis sesuai keinginan kakek. Selama itu aku tidak pernah pulang, dan tidak pernah minta apa pun pada kakek. untuk biaya kuliah dan biaya hidup aku menjual hasil desain-desain ku. Dan selama di negeri rantau aku berkolaborasi dengan Reza
Syakila menyadari sikap bingungku, lalu hanya menyengir kuda
"maaf " katanya, aku senyum dan mengacak-acak rambutnya. Setelah yang dicari sudah dapat kami langsung pulang.
Aku duduk di meja makan melihat dia meracik obat herbal sambil membuka buku kecil catatannya.
"kamu belajar obat juga?" tanya ku penasaran
"waktu di jepang tetangga ku seorang tabib aku banyak belajar darinya, belajar meracik obat dan akupuntur" jelasnya
"setelah lumayan bisa aku mulai membantu sepulang dari kampus" jelasnya lagi, aku hanya mendengarkan dia cerita.
"Jeong, nanti ini semua bayar ya, kan di dunia ini enggak ada yang gratis" aku tersenyum, aku tau maksud dia itu bercanda
" berapa biaya nya?" tanya ku mengikuti candaannya
"iya nanti aku bilang sama kakek" jawabku
"jangan Jeong, jangan kasih tau aku cuma candaan" dia terlihat sangat cemas
"iya aku juga tau kamu cuma candaan" kataku
Hampir jam sebelas dia sudah menyiapkan bekal tuk kakek, obat herbal kakek, dan puding mangga.
Kami sampai di rumah ini lagi. Aku langsung mengajak Syakila ke kamar kakek,
"assalamualaikum kakek" sapa Syakila
"waalaikumsalam " jawab kakek
"gimana kabarnya hari ini? " tanya Syakila sambil memeriksa kakek. kakek hanya tersenyum
"Jeong, jangan keluar dulu, bantu aku" pinta nya dan aku mendekat
__ADS_1
"ada apa? " tanya ku
"kek, hari ini kita terapi akupuntur ya, biar racun-racun nya keluar" ucap nya, baru kali ini dia berinteraksi dengan pasien, cukup sabar dan lembut
"Jeong, bantu membuka baju kakek" perlahan aku membuka baju kakek, Syakila mulai menancapkan satu persatu jarum akupuntur nya di titik titik tertentu.
"Jeong, nanti kakek akan terasa mual dan muntah, biarkan saja, racunnya keluar sedikit demi sedikit, nanti setelah itu kita makan kek" jelas Syakila
Dan benar kakek mulai merasa tidak nyaman, Syakila menyiapkan sebuah tempat untuk muntahan kakek. dan kakek muntah. Dengan cekatan dia membersihkan muntahan kakek, dan yang membuat aku heran kakek muntah darah.
"La, apa kakek enggak pa pa?" tanya ku
"enggak pa pa Jeong, itu racunnya keluar, nanti baru minum obat herbalnya, lalu makan siang ya kek, Naah setelah kakek muntah tadi tangan dan kaki akan terasa enteng." jelas Syakila.
Aku keluar kamar kakek, ku tinggalkan mereka berdua yang sedang makan sambil mengobrol. Rumah ini tak ada yang berubah, hanya orang-orang penghuninya saja yang semakin serakah dan tamak akan dunia. Aku memasang CCTV di beberapa titik diantaranya kamar kakek, ruang kerja kakek dan bagian dapur.
**
Hari ini aku melakukan pemeriksaan pada kakek, terapi akupuntur, lalu menyuapi kakek dan minum obat. Setelah itu ku papah dia untuk keluar ke ruang tengah.
Rumah yang sangat besar dan luas tapi suasananya terasa tak nyaman, lebih enak di rumahku yang mungil.
"Kek, mau buah, Lala kupas kan? atau mau puding, Lala tadi bawa puding mangga dari rumah?" aku menawarkan sesuatu kepada kakek.
"Jeong kelihatan sekali lebih betah tinggal di rumah mu? kenapa dia tidak nyaman ini?" tanya kakek
"tidak tinggal kek, hanya numpang makan dan istirahat saja katanya" jawabku
"iya kakek tau, kakek selalu tau apa yang dia lakukannya semenjak dia memutuskan untuk keluar dari rumah ini" kakek menarik napas panjang.
"Maafkan dia kek, dulu dia seorang pemuda yang masih labil, masih mencari jati diri nya, sebenarnya dia juga sangat menyayangi kakek" hibur ku, aku tak bisa berkata apa apa karena memang Jeong tidak pernah cerita, dia lebih suka menyimpan semua untuk dirinya sendiri.
"Dua belas tahun dia tidak pernah menginjakkan kakinya di rumah ini, dia juga tidak pernah memanggilku dengan sebutan kakek, kamarnya masih terus dibersihkan emak ipah berharap dia pulang, emak ipah orang yang mengasuh Jeong sejak kecil" cerita kakek, aku hanya diam mendengarkan
"Terima kasih La, karena kamu dia kembali" ucap kakek
"bukannya kakek yang meminta?" tanya ku
"iya, kakek menggunakan mu untuk mengancamnya" kakek tersenyum. Ahh kakek, aku jadi ingat kakek ku
__ADS_1
...Berdamailah dengan keadaan meskipun terasa sulit karena dengan begitu kita akan menjalani hidup dengan senyuman apapun yang terjadi. ...