Cinta Jeong Wibowo

Cinta Jeong Wibowo
**takut hilang juga**


__ADS_3

"kakak juga mau cerita, sebenarnya cerita ini untuk kakak sendiri supaya kakak lebih waspada dan tegas" Jeong menarik napas panjang


"Sepertinya Lira tinggal di apartemen yang sama dengan kakak tapi kakak juga tidak tau dia lantai berapa, tadi pagi secara tidak sengaja kami bertemu di lobby" mereka terdiam beberapa saat. Jeong menarik napas panjang "sepertinya kakak tinggal di rumah kakek aja, sekalian jagain kakek ya enggak dek?" tanya Jeong ketika mengeluarkan pendapatnya


"kalau adek sih terserah kakak aja, memang keduanya ada plus minus nya" syakila tersenyum


"tinggal di apartemen enaknya dekat gak bakal khawatir kesiangan berangkat ke kantor, bolak-balik rumah sakit, gak cape tapi hidup sendirian kalau ada apa-apa gak ada yang nolong kecuali kita yang minta tolong, tinggal di rumah kakek jauh memakan waktu satu jam-an belum lagi ditambah macet, takut kesiangan yang pasti akan cape, namun sisi positif nya kakak bisa menemani kakek, merawat kakek meskipun sudah banyak pembantu yang bekerja akan terasa lain di rasakan oleh kakek jika ada anak, cucu atau keluarga di dekatnya" Syakila kembali menarik napas panjang


"sebenarnya adek lebih suka kakak tinggal di rumah kakek bukan berarti karena di apartemen ada Lira, adek hanya memikirkan kakek dengan usia yang sudah sangat lanjut adek takut ada apa-apa dengan kakek, bukan berarti adek mendoakan kakek ada apa-apa, adek takut dia jatuh atau terpeleset namanya aja udah kakek kakek" syakila tersenyum


"jadi adek gak takut kakak di ambil Lira" tanya Jeong menggoda Syakila


"ya takut, cemas, cuma adek berpikir positif aja, semua sudah ada jalannya jika kita berjodoh maka pasti akan menikah, hidup bersama sampai menua, namun kalau tidak berjodoh mau diapakan meskipun dipaksakan dan menangis air mata darah tetap tidak akan berjodoh.. " Syakila tersenyum getir


"dek jangan ngomong kayak gitu ah, kakak selalu berdoa semoga adek jodohnya kakak" Jeong menggenggam jemari Syakila


"cepat atau lambat itu yang akan terjadi" Syakila menautkan tangan satunya di tangan tangan Jeong tadi. "adek juga berdoa kakak jodohnya adek, bukan karena kakak cucu miliader, bukan karena anak angkatnya papa Harun, karena kakak adalah Jeong Wibowo, adek sudah sangat bersyukur hidup seperti ini, adek tidak silau dengan harta dunia adek lebih senang kita hidup sederhana, jika punya rezeki berlebih lebih baik kita berbagi" syakila tersenyum kembali, Jeong mengacak rambut Syakila


"I ❤ u " ucap Jeong singkat sejuta makna


"l love you too" jawab Syakila dan dengan cepat Jeong mencium pipi Syakila.


"pulang ah" ucap Jeong mengambil handphone nya yang tergeletak di meja


"kenapa buru-buru banget" Syakila kaget mendengar Jeong mau pulang


"nanti kakak pengen kan belum halal, adek sih gemesin" di cubit Jeong pipi Syakila


"tapi adek masih kangen" teriak Syakila melihat Jeong yang sudah berdiri hendak melangkah "jadi pulang kemana nih?" tanya Syakila penasaran


"yeeey tadi bilangnya sok sok an banget sekarang giliran pulang tanya pulang kemana!!" Jeong menggoda Syakila


"tau ahk" Syakila ngambek


"ke apartemen dulu beres-beres apa aja yang mau dibawa ke rumah kakek" jawab Jeong santai, namun tidak dengan syakila dia langsung memeluk Jeong


"jangan genit ya, adek maunya kakak cuma untuk adek" akhirnya kata-kata pamungkas itu keluar dari mulut Syakila

__ADS_1


Jeong membalas pelukan Syakila mereka diam sesaat


"ih ternyata nyonya Jeong posesif juga ya? tapi gak apa kakak suka kok" Jeong senang banget menggoda Syakila


"dek, kita jalan keluar yuk, naek motor aja jalan-jalan beli roti bakar!!" ajak Jeong "di gerbang depan sana dek kalau malam banyak banget orang yang dagang" Jeong memberikan informasi yang basi. yaa basilah sebab yang dikasih tau yang tinggal di perumahan cempaka. ada-ada aja oppa park Jeong.


"boleh.. " jawab Syakila penuh semangat


Mereka berdua pergi keluar sebentar jalan jalan keliling perumahan naek motor matic Syakila. Motor matic itu melaju pelan melewati blok demi blok dan terkadang para warga menyapa memanggil Syakila


"bu dokter"


"mampir bu dokter!"


"mau kemana bu dokter"


itulah sapaan mereka terkadang anak anak juga memanggil. Jeong memang mengendarai mengelilingi perumahan.


"rame juga ya dek?" tanya Jeong


"karena lokasinya pinggir jalan, dekat sekolah dan rumah sakit jadi banyak peminat" jawab Syakila seolah menjadi marketing perusahaan perumahan tersebut.


"adek mau beli apa?" tanya Jeong


"adek mauu, sate aja sama bakso bakar" Jawab Syakila sedikit berpikir "kakak pesen apa?" tanya Syakila balik


"kalau kakak apa ya?" Jeong sedikit berpikir juga "bakso dan roti bakar bandung" lanjut Jeong


Setelah Syakila memesan mereka menunggu di kursi plastik yang disediakan oleh pedagang itu.


"bang roti bakarnya tiga ya" seru Jeong pada penjual roti bakar "keju semua aja bang" teriak Jeong lagi


"banyak banget pesen tiga" kata Syakila


"satu untuk makan di rumah adek satu untuk nanti lembur, satu lagi untuk pak parmin sekuriti di apartemen kakak" jelas Jeong


"ooooooo" jawab Syakila panjang

__ADS_1


"adek kira untuk siapa?" tanya Jeong mulai aksinya menggoda Syakila


pesenan mereka datang, semangkok bakso dan sepiring sate. dan untuk roti dan bakso bakar dibungkus


"dek, boleh kok cicip bakso kakak tapi kakak cicip sate adek ya" tanpa persetujuan Syakila Jeong sudah mengambil setusuk sate dan langsung masuk mulut.


"enak deh ya" ucap Jeong dengan mulut yang penuh.


"kakak gak pa pa makan di pinggir jalan begini?" tanya Syakila


"ya gak pa pa? emang kenapa?" Jeong menatap Syakila yang sedang asyik makan sate


"kan tuan muda, biasanya gak mau duduk kayak beginian, takut kotorlah" jawab Syakila santai


"tuan muda itu hanya keturunan saja dek!! kami sering kok ngumpul bareng nongkrong di taman atau nongkrong di pecel lele pinggir jalan" jelas Jeong


Selesai bercanda tawa bersama mereka memutuskan untuk pulang.


"dek, kakak pulang" Jeong agak sedikit berteriak


Syakila mengangguk "hati-hati ya" pesan Syakila


dan seperti biasa Jeong dengan senang hati mengacak-acak rambut Syakila


Jeong masuk dalam mobil dan kaca jendela depan masih terbuka, Syakila mendekat


"ingat ya jangan genit jangan centil" Syakila menyematkan pesan Tambahan lagi untuk Jeong


Jeong melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju apartemen nya. Setelah sampai Jeong membawa bungkusan roti bakar tadi dan dikasih kan pada pak parmin satu.


"pak, buat bapak" ucap Jeong sambil menyerah kan bungkusan itu


"apaan ini mas?" tanya pak parmin basa basi


"roti bakar" Jeong tersenyum. Jeong memang sangat familier kepada kedua keamanan apartemen ini pak parmin dan pak jono.


Jeong meninggalkan mereka berdua dan masuk kedalam. ketika melewati loby Jeong sedikit kaget melihat Lira yang sedang duduk di kursi loby.

__ADS_1


"oppa" panggil Lira


__ADS_2