Cinta Jeong Wibowo

Cinta Jeong Wibowo
menuju puncak


__ADS_3

Jeong mengendarai mobilnya menuju rumah sakit Teratai Medica. Ketika tiba di pelataran parkir rumah sakit dia mengotak atik handphonenya untuk meminta izin kepada Reza bahwa dia sedang ada keperluan di rumah sakit.


Jeong turun dari mobilnya dengan kesan yang sangat keren meminta perhatian para wanita yang melihatnya.


langkah kaki yang gagah dan tubuh yang tegap membuat siapa pun yang melihat akan terpesona dan terpana. tak terkecuali pun dengan Lira.


"oppa" panggil Lira dari jauh, dan dengan percaya dirinya Lira ketika Jeong melewati ruangan syakila.


"oppa, oppa mau kemana?" ketika Jeong menghentikan langkahnya di hadapan Lira


"mau ke ruangan dokter Broto" ucap Jeong dengan sedikit tersenyum


"ayo Lira antar" Lira menawarkan bantuannya dengan sedikit manja sambil menggapit lengan Jeong.


"apa tidak mengganggu, bukannya seorang dokter sangat padat jadwalnya?" tolak Jeong halus. namun beda yang dirasakan Lira, dengan pertanyaan yang di berikan Jeong kepada Lira dipikirnya Jeong mengharapkan sekali atas bantuannya.


"operasi lagi kosong, lagipula ada tim dokter bedah yang lain kan" Lira berjalan terus mengikuti langkah Jeong sambil tetap menempel pada Jeong


"maaf, Ra, jangan begini aku gak ingin nanti ada yang salah paham" Jeong berusaha melepaskan lengannya yang dipeluk Lira erat


"enggak ada yang lihat kok" jawab Lira dengan santainya.


Jeong mengalah dan membiarkan itu terjadi sampai di depan ruangan dokter Broto


"lepaskan!" Jeong meminta sedikit meninggikan suaranya


"pelit!!!" dengan manjanya Lira melepaskan pelukannya.


Lira mengetuk dan membuka handle pintu ruangan tersebut. Ternyata dokter Broto tidak ada di ruangan nya, sebenarnya Lira sudah tahu dia hanya ingin berdua an saja dengan Jeong. kapan lagi ada kesempatan berduaan dengan Jeong.


Jeong membuka layar handphonenya, bermaksud ingin menelpon dokter Broto


"telpon siapa sih?" tanya Lira yang ikut duduk di sofa.


kemudian melihat Lira duduk, Jeong pun berdiri


"hallo" ucap Jeong menyapa orang yang sedang di telponnya


"hallo dok, maaf saya sekarang ada di ruangan dokter,


"____"


"saya mau minta izin, dokter Syakila hari ini tidak bisa hadir"


"____"


"iya dia di minta menemani kakek, iya, Terima kasih dok, saya langsung mohon pamit.

__ADS_1


Jeong mematikan sambungan telepon nya.


Lalu dia berjalan menuju pintu ruangan tersebut. dan dengan sigap Lira berlari menyusul dan memeluk dari belakang.


" oppa, aku sudah menurunkan harga diriku, aku menyukai oppa!!" ucapnya seakan tak mau melepaskan Jeong.


Dengan suasana begini Jeong cepat tanggal dia langsung membuka tangan Lira dan keluar dari ruangan itu. dia sadar dengan keadaan yang hanya berdua saja takut khilaf dan salah takut ada syetan sebagai pihak ketiga dari mereka.


tanpa berkata apapun Jeong dengan langkah yang cepat pergi meninggalkan Lira.


Lira kesal bukan main. Dia sudah menjatuhkan harga dirinya dia sudah bilang suka. karena bagi Lira untuk merebut punya atau pun calon punya Syakila dia tidak perlu menyembah mereka langsung berpaling dan menyembahnya.


Lira menghentakkan kakinya kesal "apa sih hebatnya dia, apa kelebihannya? baru kali ini apa yang ku ingin tidak dapat, baru kali ini aku kalah! apa hebatnya dia!! Lira kesal, marah bukan main.


Jeong sudah pergi meninggalkan rumah sakit dan melaju menuju kantornya.


Sedangkan Syakila sudah serta merta bersama kakek, schedule mereka hari ini ke spa, ke salon, ke butik, beli gaun pesta, beli sandal sepatu, tas, perhiasan.


" perasaan dari tadi kakek yang ngajak kok belanjaannya banyak punya Lala ya?" protes Syakila pada sang kakek.


"ya, sekali sekali kakek traktir, malam ini cucu kakek harus tampil paling cantik!" kakek Ronald memang paling bisa menyenangkan hati orang.


"kita makan siang dulu yuk! Kasian Jeong sudah menunggu dari tadi" ajak kakek


Kakek, asisten Tom dan Syakila menghampiri Jeong yang sudah menanti mereka dari tadi


"enggak, baru juga datang" ucap Jeong yang terpesona melihat wajah Syakila yang dari spa,


"enggak cape keliling sama kakek?" tanya Jeong kemudian


"enggak, adek pake flatshoes" Syakila menunjukkan kearah kakinya


Jeong tersenyum dan mengacak rambut Syakila, dia senang Syakila memakai flatshoes yang dibelikannya. "kakek tidak cape?" tanya Jeong kemudian kepada kakeknya dia khawatir dengan usia kakeknya itu.


"kami tidak melakukan hal yang berat berat dari tadi perawatan, jadi kakek juga ikut perawatan" jelas kakek


"tuan muda jangan khawatir, kakek juga tadi menikmati perawatan yang dianjurkan sesuai dengan usianya" tambah asisten Tom


"syukur lah, selanjutnya apa lagi rencana kalian?" tanya Jeong penasaran


"istirahat dulu, di hotel tempat acara nanti malam" jawab asisten Tom


" ya sudah, dek kakak kerja lagi, kalau ada apa-apa hubungi kakak, ok" Jeong mencium rambut Syakila dan juga mencium pipi kakek nya


"dia, kalau ada maunya baru sayang sama kakek" kakek tersenyum bahagia dapat hadiah kecupan di pipi dari Jeong.


Setelah acara makan mereka menuju ke hotel yang dimaksud.

__ADS_1


Hotel berbintang yang sangat megah itu kepunyaan keluarga Jeong. hotel dimana Teratai Medica akan menyelenggarakan ulang tahun nya malam nanti. terlihat sangat sibuk, pelayan bolak balik entah apa yang di kerjakan, ada yang masuk membawa bunga, ada yang keluar membawa kardus, pokoknya mereka sibuk mempersiapkan acara nanti malam.


"nona, ini kamar nona" asisten Tom memberi kunci berupa kartu sebagai akses untuk keluar masuk kamar tersebut kepada Syakila.


" kamar kakek ada di sebelah" ucap kakek memberi tahu Syakila. Syakila tersenyum dan mencium pipi kakek Ronald


", terimakasih kek atas hari ini, Lala sangat bahagia" ucap Syakila seraya masuk ke dalam kamarnya.


Syakila masuk ke dalam kamar tersebut. kamar hotel ini lebih besar dari rumah ku pikir Syakila. dia membuka jendela dan menatap kota siang ini yang sangat terik sekali dan kemudian di turupnya kembali tirai tersebut. merebah kan tubuhnya ke atas tempat tidur mewah berukuran big.


Dia memandang sekeliling sungguh mewah, dan sungguh enak jadi orang kaya mau apa juga ada. tanpa sengaja dia berpikir kehidupan nya kelak ketika sudah menjadi nyonya Jeong wibowo.


"ya Allah ingatkan selalu hamba mu ini dalam kesahajaan dan kesederhanaan, jangan sampai aku lupa diri lupa akan moral, lupa akan adat, lupa akan agama ya Allah" Syakila terlelap untuk beberapa saat.


dan terbangun ketika suara handphonenya berbunyi.


"ya, assalamualaikum" jawab Syakila dengan malasnya


"buka pintu, kakak udah di depan dek" ucap Jeong yang sudah berada di depan kamar Syakila


Syakila membukakan pintu


"dek,mandilah dulu, ini ada pihak salon yang dipesan kakek untuk merias adek" kata Jeong yang gemes melihat muka bantal Syakila.


Syakila sebenarnya ingin menolak cuma apa daya dan dia hanya menikmati servis plus yang di berikan kakek untuk hari ini.


"mbak, saya tidak apa kan menunggu di sini?" tanya Jeong pada perias Syakila


"enggak pa pa mas" jawab sang perias sopan.


Jeong pun duduk di sofa sambil mengecek pekerjaan melalui handphone dan laptopnya.


Setelah beberapa lama selesai juga, Syakila memlih make-up yang natural tidak begitu tebal.


Syakila telah siap dengan gaunnya. Gaun berwarna dusty berbahan brukat halus, dengan model atas seperti kemben dan bawahnya melebar selutut. sepatu kaca berwarna dusty juga, rambut di gulung untuk menambah kesan dewasanya. Dan sentuhan terakhir Syakila menggunakan anting kecil bemata berlian yang serasi dengan cincinnya. sedangkan untuk bagian leher dia tetap menggunakan diamond butterfly nya.


"permisi tuan" Sang perias undur diri pamit


Jeong tersentak dan menjawab hanya dengan anggukan kepala. dan ketika melihat Syakila alangkah terkejutnya Jeong melihat seorang peri cantik yang nyata


"kakak... " rengek Syakila


"apa ada yang salah?" tanya Syakila kemudian


"cantik dek, malah cantik banget... " ucap Jeong


"Aaaaa coba sudah halal,,,,??" Jeong menggaruk kepala nya

__ADS_1


"tunggu ya kakak mandi dulu, siap siap, bentar kok" Jeong mengkode dengan mengacungkan jempolnya


__ADS_2