
Mobil Jeong sudah tiba di depan rumah Shanum.
Bunda terlihat sedang duduk santai di teras depan ditemani pelayan setia nya.
Syakila keluar mobil, Jeong pun mengiringi dengan membawa sepaket parcel buah yang sudah dikemas cantik oleh pelayan toko buah tadi.
Jeong dan Syakila sengaja memilih bermacam macam buah, karena dengan pertimbangan Shanum yang sedang hamil mungkin ada diantaranya yang dia inginkan.
"assalamualaikum, bunda" sapa Syakila
"waalaikumsalam, sayang tumben tumben banget ngunjungin bunda, ayo masuk" jawab bunda yang terkejut akan kedatangan Syakila dan Jeong.
"masuk nak Jeong" ajak bunda
Mereka duduk di ruang keluarga.
"aduh sayang cantik sekali hari ini? apa yang beda?" tanya bunda Maya penasaran
"apa yang beda, masih pake bedak yang sama, parfum yang sama, emang sih baju Jeong yang beliin, apa karena baju nya bun?" tanya Syakila heran
"ahh bunda jadi selama ini Syasa jelek dong karena biasanya pake baju murahan???" Syakila sedikit cemberut.
bunda Maya masih tetap memperhatikan penampilan Syakila
"yang mana yang buat beda?" tanya bunda.
bunda sedikit menarik Syakila agar agak menjauh dari tempat duduk Jeong
"Sya kamu dibeliin Jeong kalung baru ya?" tanya bunda Maya sedikit berbisik.
"oooo, ini bun" tunjuk Syakila "ini kalung Syasa waktu kecil dulu" jelas Syakila
"iya??" jawab bunda tidak percaya "tapi ini sekali lihat saja bermata berlian Sya?" tanya bunda lagi
"iya bun, tadi toko perhiasan tempat kami memperbaiki kalung ini juga bilang begitu" jelas Syakila yang membenarkan dugaan bunda Maya.
"jadi saat kamu ilang waktu masih kecil kamu pake kalung ini Sya??? bunda emang dasar emak-emak rempong! matanya melotot
" Jeong, bener bukan kamu yang beliin kalung ini?" tanya bunda Maya kepada Jeong yang dari dari geli melihat kekepoan bunda
"iya bun, Jeong gak ada duit sebanyak itu untuk menaburkan berlian pada butterfly nya" jelas Jeong
"ah nak Jeong ini bisa aja merendah?" kata bunda Maya
"eee balik ke permasalahan awal, jadi ini kalung yang dipakaikan orang tua mu Syaaa??" tanya bunda lagi yang dalam pikiran nya senang berarti dengan adanya bukti ini setidaknya ada titik terang tentang keluarga kandung Syakila.
Syakila mengangguk, "jadi Sya, kita sudah ada alat penerang menuju keluarga kandung mu nak!!! ya Allah, alhamdulillah ya Allah" ucap mama terharu sangking senangnya dia sampai meneteskan air matanya
"Sya, pakai terus kalung ini, mungkin salah satu keluarga mu ada yang lihat, tapi mama pesen harus hati-hati karena kalung ini bukan sembarang kalung, ini mahal sayang" ucap bunda memeluk Syakila.
"Jeong, tolong jaga Syakila" pesen bunda pada Jeong
"pasti bunda, tidak dipesan pun akan Jeong jaga" jawab Jeong mantap
"bun, ngomong ngomong ayah ada? tanya Jeong to the point
" jadi main kesini pake acara bawa buah segala cuma mau nyariin ayah!?!?!" tanya bunda sambil menyindir kedua nya
"Ayah bentar lagi nyampe tadi bunda telpon masih di jalan" bunda memang tadi nelpon ayah sebelum mereka berdua datang.
__ADS_1
"kenapa kesini gak kasih kabar dulu sama bunda, jadi bunda kan bisa panggang ikan gurami kesukaan kamu Sya" kata bunda lagi yang memonopoli keadaan
"Shanum mana bun?" taunya Syakila
"eee tuh anak sudah semingguan ini ikut Reza ngantor ya kan Jeong?" tanya bunda membenarkan pernyataan nya.
"iya" jawab Jeong singkat
"dalam rangka apa kak?" tanya Syakila ikut kepo
"dalam rangka jadi istri posesif" Jeong dengan datarnya
"apaaa? sejak kapan ma Shanum jadi begitu?" Syakila rasa enggak percaya
"sejak ada si utun" jawab mama.
"hahahaaha" ketiganya tertawa bersama
Dari luar terdengar langkah kaki
"hah kalian tertawa dengan senangnya, pasti ada yang seru nih?" shanum dari ruang depan menuju ruang keluarga beriringan dengan Reza.
"hahahaa, yang lagi ditertawai datang??!" ucap bunda.
"bundaaa, ngetawain Shanum ya?" tanya Shanum mulai sensitif
"enggak sayang, tadi Syasa tanya kamu kemana kok sepi" bunda menjelaskan biar Shanum enggak salah paham
"tumben maen berdua?" tanya Reza
"iya, kata Syakila kangen sama bunda" jawab Jeong asal
"sama kamu paling kangen dong" keduanya saling berpelukan kayak teletubies.
"assalamualaikum, wiih tumben rame begini?" sapa ayah dan bertanya pada bunda
Bunda langsung mencium tangan ayah, dan ayah pun minta dicium pipi juga
"ih malu ah banyak anak anak" bunda menolak karena enggak enak dengan adanya Jeong dan Syakila
"alah biasanya nyosor aja ya yah?" shanum pembelaan terhadap sang ayah
"sudah, sekarang mandi, sholat maghrib setelah makan malam!!!" titah ibu ratu sudah keluar
mereka pun bubar masing-masing,
Syakila masuk ke kamar tamu yang ada di lantai bawah sedangkan ayah, Reza, dan Shanum naik ke lantai atas.
Semuanya melaksanakan sholat maghrib di ruang sholat yang ada di rumah itu
"Jeong, imam?" ayah menawarkan Jeong untuk jadi imam sholat kali ini
"calon imam anak ayah harus di tes dulu lulus gak?" ucap ayah tegas
Jeong pun maju ke tempat di depan sekali. Mereka kemudian melaksanakan sholat maghrib secara berjamaah.
"Alhamdulillahirobbil'alamin" ucap ayah setelah mereka saling sujud bersalaman.
"alhamdulillah sudah keren sekali jadi imam, bacaan lafaz alhamdulillah benar, bearti ayah sudah tidak ragu lagi memberikan Syakila pada nak Jeong" ucap ayah diplomatis
__ADS_1
"cieee ciee" ucap Shanum menggoda
"sudah ayoo, kita makan malam dulu, ada yang ingin Jeong sampai kan pada ayah" kata bunda ketika anak-anaknya sudah pada keluar menuju meja makan.
"soal apa?" tanya ayah
"enggak tau bunda, pengen nya bunda ngobrolin masalah pernikahan!!" bunda langsung aja
"huh mau nya" ucap ayah sambil mengusap kepala bunda Maya.
Mereka pun makan, menyantap apa yang sudah disediakan sang bibi, pelayan mereka.
Mereka makan dengan hening dan hanya sesekali dari mereka yang membuka suara untuk meminta di dekatkan makanan yang diinginkan oleh mereka.
Setelah makan mereka kembali ke ruang keluarga,
"katanya ada yang ingin disampaikan kepada ayah" tanya ayah membuka pembicaraan
"iya yah, tapi bukan cuma dengan ayah saja dengan bunda juga" ucap Jeong dengan rasa hormat.
"penting???" tanya ayah penuh penekanan
keduanya menjawab dengan anggukan kepala.
"ayo kita bicara di ruang kerja ayah saja" ajak ayah
", seprivasi itu kah bun" tanya Syakila
"biar lebih enak ngobrol nya" ucap bunda yang tau akan kegugupan Syakila
"anak bunda" bunda mengusap kepala Syakila sambil berjalan menuju ruang kerja ayah.
Keempatnya pun duduk di sofa yang ada di ruang tersebut.
"nah sekarang, coba katakan pada ayah ada apa?" tanya ayah tanpa basa-basi
"begini yah, dengan niat yang suci kami berdua sudah sepakat untuk menikah" ucap Jeong yang sedikit bingung memilih kata-kata.
"alhamdulillah, kalau sudah ada niatan seperti itu" ucap ayah
"jadi ayah, bunda insyaallah kakek akan meminta Syakila pada ayah dan bunda karena untuk saat ini ayah bunda lah keluarga Syasa" ucap Syakila agak sedikit bergetar
bunda langsung memeluk Syakila dari samping
"iya, ini bunda mu sekarang nak, katakan ingin yang seperti apa?" tanya bunda
"apa tekad kalian sudah bulat, ayah inginnya pernikahan itu sekali seumur hidup, jadi sebelum terlambat pikirkanlah dulu Jeong?" tanya ayah dengan tegas
"Syakila gadis miskin, tidak tau asal usul dan keluarga nya, apa tidak apa dengan keluarga kalian yang terpandang?" tanya ayah lagi
"InsyaAllah kakek merestui yah, bun" jawab Jeong dengan cepat
"Syakila bagaimana?" tanya ayah yang menatap tajam pada Syakila
"InsyaAllah Syakila yakin dengan kak Jeong Yah" jawab Syakila
"yah kalau niat kalian sudah bulat kapan kakek mau kesini?" tanya bunda
"InsyaAllah setelah ulang tahun Teratai Medica Yah" jawab Jeong tegas.
__ADS_1