
**
Aku penasaran ada apa di depan. Yah, kami terjebak macet dan antrian panjang. Ku buka jendela dan ku tanyakan pada bapak bapak yang lewat. Ternyata ada kecelakaan beruntun dan menyebabkan banyak korban dan macet karena posisi mobil mobil yang berserakan menghabiskan sisi jalan. Tanpa sadar karena naluriku sebagai dokter, aku langsung mengambil tas berisi alat kesehatan, dan akan membuka pintu mobil.
"Mau kemana La?" Jeong mencegah tanganku, dia paham aku akan kesana apalagi setelah aku mengalungkan 🆔ku
"pakai dulu jaket? kata Jeong
" Hah" aku bengong dan tersadar kalau gak bawa jaket dan aku hanya menggunakan baju lengan pendek yang tipis, namanya mau ke pantai.
"Aku gak bawa jaket" cemas ku menatap mata Jeong. ku lihat Jeong dengan cepat membuka jaketnya.
"kalau aku lihatnya sih kesannya kecil dan rata, tapi gak tau bapak bapak yang tadi lewat, para sopir truk, abang-abang angkot" iya, Jeong benar aku langsung membongkar tas, biasanya ada jas putih di bagian bawah sekali. Dan benar ternyata aku membawanya
"makasih ya, aku mau melihat ke depan dulu siapa tahu ada yang bisa aku lakukan" Jeong tersenyum dan mengacak rambutku
"Hati-hati" aku tersenyum dan melangkah menuju lokasi. Dalam perjalanan aku baru sadar apa yang dikatakan Jeong tadi katanya KECIL DAN RATA, maksudnya apa itu dia mengatakan dadaku kecil dan rata, kurang ajar sekali dia, dasar tidak sopan.
*
Mendengar ada kecelakaan dia cepat mengambil tas nya tanpa memperdulikan penampilannya, dress tipis, tanpa lengan, celana pendek. kalau dia menunduk pasti kelihatan kemana-mana. Nanti bukannya menolong orang malah dia yang ditolong. Aku membuka jaket ku ketika dia bilang gak bawa jaket, dia memeriksa tas nya ternyata dia membawa jas kebesarannya, jas putih.
Aku cemas, takut terjadi apa-apa dengannya, dia orangnya lugu, polos, dia kira semua orang baik sama dengan nya. Aku mencari celah untuk menepikan mobilku. Setelah bisa parkir di pinggir jalan, aku segera keluar dan mencari Syakila.
Tragis juga, mobil jungkir balik berserakan ringsek sana ringsek sini, korban-korban tergeletak dimana-mana, tangis pecah dari korban yang selamat atau luka ringan, belum lagi suara sirine mobil ambulan memkak telinga, menambah suasana semakin tegang, banyak orang yang hanya cuma menonton karena bingung mau melakukan apa.
"Lala.. " akhirnya aku menemukannya, baju nya udah banyak bercak darah, " gimana? " tanya ku
"untuk sementara 19 luka-luka, 3 kritis, dan 2 meninggal di tempat" jelas nya, mendengar itu reflek aku memeluknya. Aku tidak pernah menyaksikan peristiwa setragis ini.
"Jeong, kenalkan ini pak Robi" dia mengenalkan ku pada komandan Robi, aku menganggukan kepala dan berjabat tangan, Robi pun tersenyum dan memeluk.
"kalian saling kenal? " tanya Syakila bingung
"siapa yang gak kenal komandan Robi Sugara seluruh pelosok kota tidak ada yang tidak kenal" puji ku
"Kau yang berlebihan, dari dulu kau yang selalu hebat, selalu memenangkan Olimpiade, sampai sekarang pemuda segudang prestasi. " Robi membesar-besarkan.
"kalian.. " Syakila bingung
"kami satu SMA" jawab Robi
"jadi bagaimana?" tanyaku pada Syakila
__ADS_1
"pulang, kerumah sakit, atau lanjut ke pantai? " sambung ku lagi
"pulang aja, nanti mau ke rumah sakit" lemah suaranya
"Rob, kita pulang dulu," aku pamit pada Robi
"sampai ketemu di rumah sakit pak" pamit Syakila.
"Terima kasih dokter, Terima kasih atas pertolongan pertama yang dokter berikan" ucap Robi tulus "mereka merasa sangat bersyukur melihat kedatangan dokter tadi, terimakasih" Robi menjabat tangan Syakila, Syakila hanya tersenyum.
Kami berjalan beriringan, ku acak-acak rambutnya, tidak ada penolakan, dia hanya mengerucutkan bibirnya, ku lihat wajahnya sangat letih. Aku membeli air mineral ukuran besar, dan menyuruhnya untuk cuci tangan dan membersihkan wajahnya.
***
Mereka masuk mobil, kedua nya saling diam lalu saling pandang.
"ada apa? " tanya Jeong, sambil mengangkat kedua bahunya
"aku hubungi Shanum dulu" kata Syakila, Jeong hanya mengiyakan.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"kenapa.. "
"Ada kecelakaan, korbannya banyak, aku harus ke RS"
"jadi gimana"
"ya kalian lanjut aja, Num, bukalah hatimu, semoga dia yang terbaik"
"amin makasih ya"
"bilang sama Reza, tuh kue ama jus bayar denger gak"
"iya"
Syakila menutup handphone nya. Jeong hanya diam mendengarkan pembicaraan kedua sahabat itu
"Dia marah besar sama Reza tapi masih mendoakan semoga Reza yang terbaik tuk Shanum, dia marah tapi masih bercanda supaya mereka membayar makanan dan minuman yang diberikannya. " Jeong berbicara dengan hatinya sendiri.
"huh, dasar matre" Jeong bermaksud menggoda dan bercanda
__ADS_1
"MATRE" Syakila menyipitkan matanya
"kau juga bayar, makanan yang sudah kau habiskan! " jawab Syakila sinis
"matre" sindir Jeong lagi
"Hei pak Jeong!, duit mu mana yang sudah ku bahkan, barangmu yang mana yang sudah kau berikan, ada mobil yang kamu belikan untuk ku" Syakila tambah sengit. sesak, kesal sudah di ubun-ubun.
Syakila diam aja, lebih baik diam dari pada berdebat bikin sesak
"kok diem.. " Jeong menabuh genderang perang
"males!!, males ngomong sama kamu!! " makin esmosi.
"yee, selain matre ternyata ambekan juga ya" Jeong memancing keributan
Syakila menatap tajam ke arah Jeong. tatapannya setajam silet
"kenapa?? " Jeong seakan senang menggoda Syakila
"aku mau turun" suara Syakila sudah pecah
"belum sampe La.. " Jeong masih dengan santai
"pokok nya aku mau turun disini!!" teriak Syakila, dia sudah kesal sekali, sesak sampai ke dada, mata udah mulai panas, air mata sudah mau terjun
"ih, yang lagi ngambek jelek ah" maksud Jeong mau menghibur dia ingin mengacak acak rambut Syakila
"jangan sentuh" langsung ditepis Syakila, dia melotot ke arah Jeong, entah apa yang dipikirkannya tentang Jeong saat ini, napasnya naik turun menahan sesak di dada, tanpa dia sadari air matanya sudah jatuh lolos ke pipi.
" La, jangan nangis, jelek ah" Jeong jadi bingung,
"La, maaf tadi cuma becanda, kamu seriusan sih" Jeong malah gak mau disalahkan. Air mata Syakila malah tak bisa berhenti, Jeong menepikan mobilnya
"maaf ya, maaf tadi aku gak serius kok, aku cuma candaan" Jeong menjelaskan
"Aku mau turun disini aja" Syakila keras kepala dan masih dengan terisaknya
" nanti aja belum sampe dokter Lala yang baik hati" bujukan Jeong tidak digubris Lala. Dia hanya diam sesekali mengusap airmatanya. Jeong bingung.
Mobil dilakukan kembali, namun Syakila tetap diam, dia hanya mengamati suasana di luar jendela. Dan mereka tetap saling diam sampai di tempat tujuan.
" Yaah, senjata makan tuan" Jeong mengaku salah
__ADS_1
"kenapa dia hari ini kesal terus sama aku"