
Vanessa kembali ke kamar tamu, terlihat Anatasya sudah
memakai baju yang sudah di siapkannya. “Nona mau makan? … bi Sari sudah membuat
sup untuk nona,” ujar Vanessa sambil tersenyum.
“Maaf karena kedatanganku merepotkan kamu,” ucap Anatasya
sambil menundukan kepalanya.
Vanessa tidak tega melihat wajah Anatasya yang tampak sedih,
terkahir mereka betemu mungkin enam bulan yang lalu. Saat itu wajah Anatasya
terlihat berseri dan penuh semangat di hidupnya, berbeda dengan sekarang wanita
itu terlihat murung, “Nona tidak merepotkan, mari,” ajak Vanessa.
Selama menunggu Anatasya makan Vanessa memakan beberapa
buah-buahan. Nathan sepertinya benar-benar ke lelehan pria itu tidak keluar
dari kamar, padahal Vanessa berharap Nathan menyambut Anatasya.
Setelah menghabiskan makanannya, Anatasya menatap Vanessa. Ada
keraguan di hatinya, tetapi dia tidak tau harus pergi ke mana, apalagi kondisi
di luar hujan deras.
“Vanessa,” panggil Anatasya.
“Iya, kenapa nona?” tanya Vanessa.
“Aku sebenarnya malu untuk membicarakan masalah yang sedang
ku hadapi tapi aku membutuhkan teman yang mau mendengar masalahku,” ujar
Anatasya.
Vanessa melihat Anatasya tampak menahan air yang memenuhi
kelopak matanya, “Nona tidak usah sungkan berbagilah denganku.”
Buliran air mata mulai membasahi pipi Anatasya, perasaan
__ADS_1
sesak menyeruak di dalam hatinya. Sebetulnya dia malu harus membagi aibnya
dengan orang lain, tetapi dia juga butuh seseorang teman yang bisa memahaminya.
Melihat perlakuan baik Vanessa, Anatasya merasa yakin bahwa Vanessa bisa
membantunya.
Vanessa berdiri dari duduknya, “Lebih baik kita ngobrol di
kamar,” ajak Vanessa. Anatasya tidak mengeluarkan suara, dia mengikuti Vanessa
yang menuntunya kembali ke kamar tadi.
Stelah menutup pintu kamar Vanessa dan Anatasya duduk
berhadapan di atas tempat tidur. “Aku tidak tau harus pergi ke mana Nes,” ucap
Anatasya di sela isak tangisnya.
Vanessa menautkan kedua alisnya, dia tidak mengerti dengan
ucapan Anatasya setaunya di ibu kota dia memiliki kaka yang bertugas menjadi
dokter di salah satu rumah sakit.
perlahan, mencoba menenangkan dirinya. Dia menghapus air matanya, menggunakan
punggung tangannya, “Ayah ingin aku menggugurkan bayi yang ada di dalam perut
ku, awalnya aku pergi ke tempat kaka tapi ternyata Ayah lebih dulu sampai di
sana sebelum aku.”
“Nona hamil?” tanya Vanessa dia tidak bisa menutupi rasa
terkejutnya.
Anatasya menganggukan kepalanya, “Iya, usia kandungannya
baru menginjak empat minggu,” lirih Anatasya.
Vanessa tidak mungkin bertanya siapa ayah dari bayi itu atau
kemana bayi itu, mendengar tuan Pasusanto ingin menggugurkan bayinya Anatasya sudah
__ADS_1
bisa di pastikan ada masalah besar yang menimpa Antasya.
“Aku hamil di luar nikah,” lirih Anatasya di sela isakannya.
Vanessa menggengam tangan Anatasya, mencoba memberi kekuatan
pada wanita yang terlihat pucat di depannya. Dia tidak pernah berada di posisi
yang sedang di alami Anatasya, tetapi melihat wanita di hadapannya yang
terlihat hancur Vanessa mengerti perasaan yang di rasakan Anatasya. Bahkan dia
merasa sangat bangga kepada Anatasya, karena mau mempertahankan kandungannya. Sementara
dia luaran sana banyak wanita yang menggugurkan atau membuang bayinya, dia
merasa miris jika mendengar perempuan yang mengugurkan bayinya sementara
malaikat kecil di dalam sana tidak bersalah sedikitpun namun harus merasakan
kekejaman orang tuanya.
“Ini pasti pilihan sulit, tapi pilihan nona untuk
mempertahankan bayi yang ada di dalam rahim nona adalah pilihan yang paling
benar. Nona tidak perlu mendengarkan cemohoohan orang-orang yang menghina nona,
saat bayi itu lahir dia pasti merasa sangat gembira karena memiliki ibu yang
luar biasa seperti nona,” ucap Vanessa mencoba menghibur Anatasya.
***
Selamat pagi semuanya
Gimana sudah baca bab 3 dan 4 yang baru lulus kemarin malam?
Yang belum baca, bisa kembali dulu ke bab 3 dan 4 supaya
tidak kebingungan dengan alurnya, Author sampai pusing mikirin dua bab yang
nyagkut itu.
Jangan lupa dukung author terus ya lewat vote, like dan
__ADS_1
komentarnya
Sampai jumpa di bab selanjutnya