
Vanessa masuk ke dalam rumah, lalu berjalan menuju kamarnya. Dia duduk di atas tempat tidur untuk meluruskan kakinya yang terasa pegal.
Dering suara telepon Vanessa membuatnya terpaksa mengubah posisi duduknya untuk mengambil ponsel yang berada di atas Nakas.
Layar ponselnya menunjukkan tanda panggilan video call dari ibunya. Vanessa menekan tombol hijau dan tersenyum pada layar ponselnya yang menampakkan wajah ibunya yang terlihat bahagia.
“Bagaimana kabarnya teh?”
“Teteh baik-baik aja,bu. Ibu dan yang lainnya apa kabar?” tanya Vanessa.
Raut wajah ibu berubah, terlihat sedih. Vanessa menunggu ibunya angkat bicara. Namun yang Vanessa lihat adalah air mata ibunya yang menetes. “Kenapa bu?”
Ibu menghapus air matanya, “Penyakit Galih kambuh, teh.”
Vanessa mengernyitkan dahinya, dia tidak pernah tahu apa pun tentang adik sambungnya itu. “Memangnya Galih sakit apa bu?”
“Ceritanya terlalu panjang Teh, mungkin nanti Ibu bakal cerita.”
Vanessa menimbang-nimbang pertanyaannya, namun sepertinya dia harus bertanya. “Sebenarnya apa alasan Ibu menikah dengan Ayah?”
Ibu menatap Vanessa sendu, dia merasa sangat bimbang. “Sebenarnya ibu menikah dengan Ayah karena terpaksa. Ibu masih mencintai Papa dan Ibu tidak bisa meninggalkan kalian saat itu, tapi-“ ibu memotong ucapannya.
__ADS_1
Vanessa mendengar helaan nafas dari mulut ibunya, Vanessa tau ini pilihan sulit untuk Ibunya.
“Setelah perusahaan papa bangkrut, nenek kamu menjodohkan Ibu dengan Ayah.”
Vanessa diam, dia melihat ibunya yang berlinang air mata. Andai saja dia ada di sana, Vanessa ingin memeluk ibunya yang terlihat rapuh.
“Ibu tidak ingin menandatangani surat cerai itu, tetapi kakekmu mengancam ibu. Kalau ibu tidak menurut mereka akan membuat teteh dan Riko sengsara, dengan cara mencelakai papa.”
Air mata Vanessa turun begitu saja dengan rasa sesak di hatinya, bagaimana bisa seorang kakek dan nenek ingin melihat cucunya menderita hanya karena harta.
Ibu Vanessa menghela nafas, “Ini memang berat, tapi ibu tidak bisa melihat kalian lebih menderita jika bersama ibu.”
Vanessa menghapus air matanya menggunakan punggung tangannya, semua terjawab sudah. Harta adalah hal yang paling berharga di mata kakek dan neneknya.
“Ayah baik pada ibu, begitu pun kedua Galih dan Angel. Mereka menerima ibu, awalnya Galih memang tidak suka. Tapi lambat laun dia baik pada ibu dan menganggap ibu sebagai bundanya yang telah pergi karena melahirkan Angel.”
Vanessa merasa senang setidaknya ibunya tidak menderita dengan pernikahannya. “Ibu,” panggil Vanessa.
“Iya kenapa teh?”
“Riko bu.” Vanessa mencoba mengingatkan ibu tentang adiknya.
__ADS_1
Air mata ibunya kembali meluncur, Vanessa yang melihatnya merasakan sakit yang sama.
“Adek ganteng sekarang ya teh. Tapi kayaknya Adek masih marah sama ibu. Dia gak pernah angkat telepon atau balas pesan ibu.”
“Nanti biar teteh coba bicara ya bu sama adek,” Vanessa tersenyum mencoba meyakinkan ibunya bahwa adiknya tidak benar-benar marah pada ibunya.
“Makasih ya teteh udah jagain ade, maafin ibu.”
Vanessa menggelengkan kepalanya melihat tangis ibunya yang kembali pecah. “Jangan menangis lagi bu, Ade Cuma bingung aja sama keadaannya. Teteh yakin adek pasti kangen banget sama ibu.”
“Bunda.” Vanessa mendengar suara Galih yang memanggil ibu, dan ibu tampak mengalihkan perhatiannya.
“Kenapa kak?”
“Kaka haus.”
Sepertinya ibunya menyimpan ponselnya, Vanessa masih menunggu namun dia terkejut melihat Galih yang tampak pucat di layar ponselnya.
“Hai,” sapa Galih.
Vanessa mengernyitkan dahinya, bagaimana bisa dia melihat sorot mata itu dan hoodie hitam yang di pakai galih.
__ADS_1
“Hai,” sapa Vanessa canggung. Berbagai pertanyaan hinggap di kepalanya.