Cinta Nathan & Vanessa

Cinta Nathan & Vanessa
Bab 2 (Belum Selesai)


__ADS_3

Sesampainya di kantor Vanessa keluar dari lift di lantai


lima, dan masuk ke ruangan staf keuangan. Ruangannya masih tampak kosong, Vanessa


sengaja datang lebih pagi ada pekerjaan yang harus dia kerjakan, sangat urgent


karena Niko akan melakukan persentasi nya siang ini.


Ruangan staf mulai terdengar ramai, Vanessa sudah


menyelesaikan pekerjaannya. Dia keluar dari kubikelnya, berjalan menuju ruangan


Niko. Niko terlihat tidak bersemangat mukanya kusut, “Kenapa kaka ipar?” tanya


Vanessa.


“Teman mu itu ngambekan,” lirih Niko.


Vanessa tersenyum, pria satu ini akhirnya jatuh cinta juga


dengan Putri sahabatnya. Dia duduk di hadapan Niko, “Memangnya ada masalah apa


?” tanya Vanessa.


“Kemarin itu aku lupa janji ketemu sama dia, dia marah gak


mau angkat telpon.”


“Data untuk persentasi hari ini beres?” tanya Vanessa.


“Justru itu kemarin aku keasikan ngerjain, soalnya takut gak


keburu. Sampe lupa ada janji sama Putri, dia tuh marah-marah dulu di telpon


karena udah nunggu dua jam di sana katanya,” ujar Niko.


“Kirim aja bunga, terus makanan, sama coklat ke kosan. Nanti


juga dia yang nelpon abang duluan,” ucap Vanessa memberi ide.


“Kaya gitu doang?” tanya Niko dengan nada tidak percaya.


“Ya emangnya harus gimana, emangnya abang mau buat drama berlutu

__ADS_1


gitu di hadapan Putri?”


Niko menggelengkan kepalanya, “Ngapain gak ada kerjaan


banget,” ketus Niko.


“Ya makanya aku kasih ide yang simple. Pokoknya makanannya


yang banyak, biasanya kalau dia lagi kesel tuh makannya banyak kadang punyaku


juga di embat dia,” ucap Vanessa. Dia masih ingat saat Putri putus dengan


pacarnya, kerjaannya tuh cari makanan terus ngeluh-ngeluh sakit hati


ujung-ujungnya minta makanan, katanya biar ada tenaga buat ngadepin kehidupan


yang pahit. Vanessa ingin tertawa jika mengingat kejadian itu.


“Oke, thanks yah.”


Vanessa menganggukan kepalanya, lalu memberikan hardisk. “Udah


beres nih bang, moga sukses yah persentasinya.”


fokus pada ponselnya. “Gerecep banget si abang langsung pesen bunga,” batin


Vanessa saat mengintip layar ponsel Niko. Tanpa berpamitan Vanessa berjalan


keluar ruangan Niko.


***


Saat semua orang pergi untuk ke kantin Vanessa malah naik ke


atas untuk menemui suaminya. Ruang sekertaris Nathan tampak kosong, Vanessa


membuka ruangan Nathan tanpa mengetuknya dulu. Nathan terlihat sedang fokus


pada layar laptopnya. Vanessa duduk di sofa dan membuka kotak makan yang ada di


atas meja. Ini peraturan yang harus dia ikuti, Nathan tidak ingin Vanessa makan


di kantin bersama yang lain karena menurutnya makan siang adalah me time mereka

__ADS_1


di kantor.


Nathan mengalihkan perhatiannya melihat Vanessa yang sedang


asik bermain ponsel sambil makan. “Kemapa senyum-senyum?” tanya Nathan sambil


duduk di sebelah Vanessa.


“Itu Putri lagi sombong di kasih bunga, coklat dan makanan


dari abang,” ucap Vanessa menjelaskan.


Nathan membuka kotak makannya, “Tumben abang nagsih bunga,”


gumam Niko.


“Mereka lagi marahan, makanya aku kasih saran buat


ngeluluhin hati Putri,” jawab Vanessa setelah menelan makanan yang ada di


mulutnya.


“Kalau kamu lagi marah aku gituin luluh juga gak?” tanya


Nathan sambil menatap istrinya.


“Tergantung marahnya karena apa dulu?” tanya Vanessa sambil


memasukan daging kedalam mulutnya.


“Kalau aku mau anak sebelas, kamu marah gak? Nanti aku kasih


bunga yang banyak.”


“Memangnya kamu serius mau punya anak banyak?” tanya


Vanessa. Dia menutup kotak makannya, meskipun makanannya masih tersisa tapi


nafsu makannya hilang karena ucapan Nathan yang membahas masalah anak lagi.


“Iya aku pengen banget, soalnya dulu itu mami gak mau


ngelahirin lagi waktu aku minta adik. Jadi aku Cuma bisa main sama Niko doang …

__ADS_1


gak seru kalau Cuma main berdua.”


__ADS_2