Cinta Nathan & Vanessa

Cinta Nathan & Vanessa
Bab 51 (Dendam)


__ADS_3

Vanessa menetap wajah roh itu terlihat sangat mengerikan,


wajahnya seperti luka bakar yang membusuk.


“Ayo cepat berpikir,” batin Vanessa. Dia harus mencari jalan


keluar sebelum semuanya terlambat.


Kakinya gemetar saat tangan roh itu membelai pipinya, bahkan


Vanessa menahan nafas saat aroma busuk itu benar-benar membuatnya mual.


Vanessa memejamkan matanya, saat lengan roh itu mulai


mengerat di lehernya. Vanessa mencoba menarik nafasnya meskipun bau busuk,


setidaknya dia memiliki setok nafas jika roh itu mecekik lehernya.


Dan benar saja roh itu mencekik leher Vanessa cukup kuat, Vanessa


mencoba memberontak ingin melepaskan cekalan itu namun dia tidak bisa menggapai


lengan roh itu.


Untuk pertama kalinya Galih meneteskan air mata, saat


melihat orang yang dia sayangi sebagai kaka kini dalam keadaan bahaya, dan


dirinya tidak bisa membantu apa pun.


Galih yang tidak kuasa melihat Vanessa hampir kehabisan


nafasnya mencoba bangkit, namun baru beberapa langkah tubuhnya ambruk ke tanah.


Dia tidak memiliki tenaga lagi, Galih menundukan kepalanya


dengan tetesan air mata yang membasahi rumput di bawahnya.


Agung tersenyum puas melihat Vanessa yang hampir kehabisan


nafas, itu artinya ritual ini tidak akan sia-sia seperti ritual sebelumnya yang

__ADS_1


dia lakukan untuk membunuh Vanessa.


Koswara yang melihat Vanessa hampir kehabisan nafas memasuki


lingkaran pemujaan itu, fokusnya hanya satu pada lilin yang tadi di nyalakan


Agung dengan meneteskan darah di atasnya.


Dengan langkah santainya Koswara mendekat dan meniup lilin


tersebut hingga padam. Koswara tersenyum meremehkan saat tatapannya bertemu


dengan Agung.


Vanessa benar-benar hampir kehabisan nafas, dengan perlahan


dia duduk dan memegangi dadanya yang terasa sesak. Vanessa mencoba mengatur


nafasnya agar kembali normal.


Galih tersenyum melihat Vanessa bisa bernafas lagi,


pandangannya mulai menghitam Galih sudah tidak bisa menahannya. Kesadaran Galih


Dengan sisa tenaganya Agung mengeluarkan kekuatannya untuk


membangunkan abdi miliknya yang sengaja di tanam di tubuh Galih.


Koswara melihat arah pandang Agung pada tubuh Galih, “Bodoh


sekali, kau tidak akan berhasil!” bentak Koswara pada Agung.


Koswara berjalan medekat pada Vanessa yang duduk di atas


tanah, di lihatnya Galih yang bangun dengan kilat bola mata berwarna biru


terang.


Galih bisa bangun karena abdi milik Agung yang ada di


tubuhnya, padahal jelas Galih sudah kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


Galih berdiri dan mengangkat tangannya siap memberikan


serangan agar keinginan tuan Agung terlaksanakan untuk membunuh Vanessa.


Koswara menepis kilatan biru yang Galih tujukan untuk


Vanessa, “Percuma tuan mu sudah tidak beradaya,” ucap Koswara dengan tenang.


“Bedebah!” Galih memberikan beberapa serangan namu semuanya


berhasil di tepis oleh Koswara.


Vanessa yang melihat pertarungan itu memilih menjauh dan


mendekat kea rah Agung yang terduduk lemah dengan bersandar pada pohon.


Melihat tangan Vanessa yang mengepal, Agung hanya tersenyum


melihat reaksi Vanessa yang marah padanya.


Vanessa memberikan tamparan pada pipi Agung dengan cukup


keras hingga menimbulkan bekas memerah di pipi Agung.


“Siapa yang menyuruhmu untuk membunuhku?” tanya Vanessa.


Agung menatap Vanessa sambil menampilkan seringainya. “Tidak


ada.”


Vanessa memberikan tamparan lagi di pipi Agung, dia benar-benar


tidak menyanga bahwa Agung akan setega ini padanya.


“Lalu kenapa kau mau aku mati?”


“Kau.” Agung menunjuk wajah Vanessa dengan terlunjuknya.


“Karena suami mu, Anatasya kehilangan segalanya, bodoh!”


Vanessa mengernyitkan dahinya, dia tidak mengerti apa yang

__ADS_1


Agung bicarakan. “Bukankah Nathan sudah meminta maaf, bahkan dia tidak


mempenjarakan Pasusanto. Kenapa malah kau yang ingin aku mati?”


__ADS_2