
Vanessa menetap wajah roh itu terlihat sangat mengerikan,
wajahnya seperti luka bakar yang membusuk.
“Ayo cepat berpikir,” batin Vanessa. Dia harus mencari jalan
keluar sebelum semuanya terlambat.
Kakinya gemetar saat tangan roh itu membelai pipinya, bahkan
Vanessa menahan nafas saat aroma busuk itu benar-benar membuatnya mual.
Vanessa memejamkan matanya, saat lengan roh itu mulai
mengerat di lehernya. Vanessa mencoba menarik nafasnya meskipun bau busuk,
setidaknya dia memiliki setok nafas jika roh itu mecekik lehernya.
Dan benar saja roh itu mencekik leher Vanessa cukup kuat, Vanessa
mencoba memberontak ingin melepaskan cekalan itu namun dia tidak bisa menggapai
lengan roh itu.
Untuk pertama kalinya Galih meneteskan air mata, saat
melihat orang yang dia sayangi sebagai kaka kini dalam keadaan bahaya, dan
dirinya tidak bisa membantu apa pun.
Galih yang tidak kuasa melihat Vanessa hampir kehabisan
nafasnya mencoba bangkit, namun baru beberapa langkah tubuhnya ambruk ke tanah.
Dia tidak memiliki tenaga lagi, Galih menundukan kepalanya
dengan tetesan air mata yang membasahi rumput di bawahnya.
Agung tersenyum puas melihat Vanessa yang hampir kehabisan
nafas, itu artinya ritual ini tidak akan sia-sia seperti ritual sebelumnya yang
__ADS_1
dia lakukan untuk membunuh Vanessa.
Koswara yang melihat Vanessa hampir kehabisan nafas memasuki
lingkaran pemujaan itu, fokusnya hanya satu pada lilin yang tadi di nyalakan
Agung dengan meneteskan darah di atasnya.
Dengan langkah santainya Koswara mendekat dan meniup lilin
tersebut hingga padam. Koswara tersenyum meremehkan saat tatapannya bertemu
dengan Agung.
Vanessa benar-benar hampir kehabisan nafas, dengan perlahan
dia duduk dan memegangi dadanya yang terasa sesak. Vanessa mencoba mengatur
nafasnya agar kembali normal.
Galih tersenyum melihat Vanessa bisa bernafas lagi,
pandangannya mulai menghitam Galih sudah tidak bisa menahannya. Kesadaran Galih
Dengan sisa tenaganya Agung mengeluarkan kekuatannya untuk
membangunkan abdi miliknya yang sengaja di tanam di tubuh Galih.
Koswara melihat arah pandang Agung pada tubuh Galih, “Bodoh
sekali, kau tidak akan berhasil!” bentak Koswara pada Agung.
Koswara berjalan medekat pada Vanessa yang duduk di atas
tanah, di lihatnya Galih yang bangun dengan kilat bola mata berwarna biru
terang.
Galih bisa bangun karena abdi milik Agung yang ada di
tubuhnya, padahal jelas Galih sudah kehilangan kesadarannya.
__ADS_1
Galih berdiri dan mengangkat tangannya siap memberikan
serangan agar keinginan tuan Agung terlaksanakan untuk membunuh Vanessa.
Koswara menepis kilatan biru yang Galih tujukan untuk
Vanessa, “Percuma tuan mu sudah tidak beradaya,” ucap Koswara dengan tenang.
“Bedebah!” Galih memberikan beberapa serangan namu semuanya
berhasil di tepis oleh Koswara.
Vanessa yang melihat pertarungan itu memilih menjauh dan
mendekat kea rah Agung yang terduduk lemah dengan bersandar pada pohon.
Melihat tangan Vanessa yang mengepal, Agung hanya tersenyum
melihat reaksi Vanessa yang marah padanya.
Vanessa memberikan tamparan pada pipi Agung dengan cukup
keras hingga menimbulkan bekas memerah di pipi Agung.
“Siapa yang menyuruhmu untuk membunuhku?” tanya Vanessa.
Agung menatap Vanessa sambil menampilkan seringainya. “Tidak
ada.”
Vanessa memberikan tamparan lagi di pipi Agung, dia benar-benar
tidak menyanga bahwa Agung akan setega ini padanya.
“Lalu kenapa kau mau aku mati?”
“Kau.” Agung menunjuk wajah Vanessa dengan terlunjuknya.
“Karena suami mu, Anatasya kehilangan segalanya, bodoh!”
Vanessa mengernyitkan dahinya, dia tidak mengerti apa yang
__ADS_1
Agung bicarakan. “Bukankah Nathan sudah meminta maaf, bahkan dia tidak
mempenjarakan Pasusanto. Kenapa malah kau yang ingin aku mati?”