
Vanessa duduk di tempat favoritnya, sofa di dekat jendela.
Dia memperhatikan Nathan yang sedang serius melihat layar laptopnya, terlihat
sedang mengerjakan sesuatu.
Dia menikmati potongan buah sambil memperhatikan Nathan,
tetapi suara tanda panggilan menganggu pendengarannya.
Vanessa berjalan mendekati tempat tidur dan mengambil
ponselnya. Tanpa menunggu lama dia mengangkat telpon berupa video call dari
ibunya.
Dia tampak terkejut melihat layar ponselnya yang menampakan
wajah Galih yang di buat so cool, tetapi terlihat menyebalkan bagi vanessa.
“Ada apa?” ketus
Vanessa, dia sungguh kesal pada adik sambungnya itu yang semena-mena
mencemohoonya.
“Suami lo mana? … eh maksud gue kaka ipar mana?”
Terdengar menyebalkan di telinga Vanessa, bagaimana Galih
seenaknya dalam berucap. “Mau ngapain?”
“Kepo, buruan panggil kaka ipar!” titah Galih.
Vanessa mencoba menelpon nomor Nathan agar masuk ke room
video callnya dengan Galih. Tidak butuh waktu lama Nathan sudah tersambung di
layar, dia tampak mengrenyitkan dahinya melihat layar ponsel.
“DIa siapa?” tanya Nathan.
Vanessa tau pertanyaan itu di tunjukan untuknya, namun adik
sambung yang songong itu dengan cepat menjawab.
“Halo kaka ipar Nathan, kenalin gue Galih. Adik sambung
Vanessa.”
__ADS_1
“Oh.”
Vanessa tersenyum melihat tanggapan tidak peduli yang di
tunjukan Nathan.
“Gimana bang, udah di coba?” tanya Galih sambil
menaik-naikan satu alisnya.
Terlihat wajah Nathan datar, berbeda dengan Vanessa yang
tampak penasaran maksud pertanyaan Galih.
“Lo yang kirim paket itu?” tanya Nathan masih dengan wajah
datarnya.
“Lo harus coba, tokcer tuh gua yakin.”
“Bentar-bentar paket apaan?” tanya Vanessa, dia tidak bisa
menutupi rasa penasarannya.
“Energi pasak bumi,” jawab Galih.
Vanessa mengerutkan keningnya, “Energi pasak bumi, apaan
“Perempuan gak perlu tau,” ucap Galih dengan nada sombong.
Adiknya itu benar-benar menyebalkan, Vanessa rasanya ingin
menjambak jambul katulistiwa milik adiknya yang menjulang tinggi.
“Sayang pasak bumi itu apaan?” tanya Vanessa pada Nathan.
“Cih, umbar kemesraan,” ketus Galih.
“Apaan sih lo, nyari ribut mulu,” ketus Vanessa.
“Minuman laki,” jawab Nathan.
Vanessa tampak berpikir, sementara Galih menahan tawa
melihat kebingungan kaka sambungnya.
“Lo harus minum sehari dua kali bang, biar bisa kasih gue
ponakan,” ujar Galih.
__ADS_1
“Lo meremehkan gue banget, belum tentu punya lo bisa lebih
lama dari punya gue. Paling baru masuk juga udah keluar,” ejek Nathan.
Melihat keduanya tampak beragumen kini Vanessa tau, arah
pembicaraan mereka.
“Punya gue bisa tahan enam jam,” ucap Galih bangga dengan
menepuk dadanya.
“Paling pake obat kuat murahan, gak jauh dari yang lo
kirim.”
“Belaga lo, tahan enam jam. Pacar aja kagak punya,” sungut
Vanessa, dia tidak terima pusaka Nathan di remehkan oleh adiknya.
“Eh kalo main tuh gak perlu punya pacar, banyak cewe yang
ketagihan belaian gue.”
“Gue bilangin Ayah, tau rasa lo!”
“Apaan sih lo gak asik ngadu-ngadu,” ucap Galih dengan nada
sedikit ketakutan.
“Obrolan gak penting,” ucap Nathan sebelum mengakhiri
panggilannya.
“Eh kemana tuh suami lo, main cabut aja,” keluh Galih.
“Suami gue tuh sibuk cari duit, gak kaya lo yang hobi
gangguin hidup orang. Tenggelam aja lo sono!”
Vanessa mengikuti Nathan untuk mengakhiri panggilannya.
Setelah panggilannya di akhiri oleh Vanessa, Galih tidak
berhenti mengumpat. Dia merasa kesal Karena di abaikan, seharunya Galih
mendapat ucapan terima kasih. Tetapi di luar dugaan kedua kaka nya itu seakan
tidak tau diri, pergi begitu saja meninggalkannya, “Shit,” umpat Galih.
__ADS_1
Seharian ini Vanessa hanya memperhatikan Nathan yang tampak
serius di balik laptopnya.