Cinta Nathan & Vanessa

Cinta Nathan & Vanessa
Bab 34 (Si Bawang Merah dan Bawang Putih)


__ADS_3

Maaf yah udah buat kalian nunggu lama.


Selamat membaca ❤️


***


Vanessa memperhatikan halaman belakang rumahnya, kali ini gazebo itu tampak kosong. Nathan tidak ada di sana, Vanessa meraih ponselnya mengirimkan pesan pada Nathan.


“Kamu di mana, sayang?”


Vanessa masih setia memandangi layar ponselnya, helaan nafas keluar dari mulut Vanessa, saat layar ponselnya berubah jadi gelap tetap tidak ada balasan dari Nathan.


Suara ketukan di pintu membuat Vanessa bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati pintu. “Siapa?” tanya Vanessa setengah berteriak.


“Buka sayang!” ucap Nathan di balik pintu.


“Kamu kan tau kalau aku kena virus,” ujar Vanessa.


“Engga kamu gak kena virus, ini hasilnya udah keluar. Sekarang buka pintunya.”


Vanessa takut kalau apa yang di katan Nathan adalah sebuah kebohongan, tapi hati kecilnya meyakinkan Vanessa kalau Nathan tidak mungkin berbohong.


Vanessa membuka pintu perlahan, pertama kali yang dia lihat adalah senyum mengembang milik suaminya. Vanessa menghambur kepelukan Nathan, dengan air mata yang keluar dari kelopaknya.


Nathan membalas pelukan Vanessa, dia sangat merindukan istrinya. Dengan penuh kasih sayang Nathan mengelus rambut Vanessa, seperti kebiasaan favoritnya.

__ADS_1


Nathan menarik dagu Vanessa agar menatapnya, “Maafin aku gak bisa jagain kamu, sayang.”


Vanessa menggelengkan kepalanya, “Bukan salah kamu, sayang. Aku yang terlalu ceroboh dan tidak hati-hati.”


Nathan menghapus air mata Vanessa menggunakan ibu jarinya, “Jangan menangis lagi aku ada di sini untukmu.”


Air mata Vanessa kembali meluncur membasahi pipi yang baru saja Nathan bersihkan. Rasa haru menyelimutnya, bagaimana tidak Nathan selalu ada dan menguatkannya saat Vanessa membutuhkannya.


“Udah dong nangisnya, aku laper masakin yah?” bujuk Nathan sambil menghapus air mata Vanessa.


“Mau di masakin apa?” tanya Vanessa.


“Yang waktu aku ke Bandung itu loh, yang kata Papa ikan asin juragan.”


“Soalnya aku ingetnya itu juragan. Eh ada stok gak?”


Vanessa mencoba mengingat-ingat. “Kalau gak salah ada, waktu itu bi Nani beli. Kayaknya belum di masak deh.”


“Aku bantuin masaknya yah,” ucap Nathan dengan semangat yang menggebu-gebu.


“Yaudah ayok,” ujar Vanessa sambil menarik tangan Nathan.


Nathan memperhatikan Vanessa yang sedang memilah-milah bumbu rempah, yang jelas Nathan tidak tau satu persatu nama bumbu yang di pilih Vanessa.


“Terus aku ngapain?” tanya Nathan.

__ADS_1


Vanessa mengalihkan perhatiannya dari tempat rempah, dan menatap suaminya yang sedang duduk.


“Kamu ngulek bawang putih sama bawang merahnya dulu deh, tapi kupas dulu yah.”


“Bawang putih yang mana? Bawang merah juga yang mana aku gak tahu.” Keluh Nathan.


Vanessa menghentikan aktifitas memilih rempah-rempah yang akan di pakainya.


Vanessa menghampiri Nathan, “Yang ini bawang merah, yang ini bawang putih. Dua-duanya di kupas dulu terus di ulek.”


Vanessa memberi contoh cara mengupas bawang putih dan bawang merah. “Bisa kan? Cuma gini doang.”


“Bisa-bisa, aku bisa sendiri.”


Vanessa tersenyum meremehkan Nathan, karena Vanessa tahu Nathan tidak pernah berkutat di dapur. Vanessa sibuk dengan mencari bahan-bahan yang bisa dia jadikan teman nasi untuk ikan asin.


“Sayang ini udah di kupasnya, langsuk ulek aja?”


“Iya.” Jawab Vanessa singkat.


Nathan mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mengulek si bawang merah dan putih.


Pltak pltak suara ulekan terdengar memekik di telinga Vanessa.


Vanessa berjalan menghampiri Nathan, “Kamu mau ngulek apa mau perang. Liat itu jadi pada lompat bawangnya,” ucap Vanessa kesal sambil memungut bawang-bawang yang berserakan di atas meja.

__ADS_1


__ADS_2