
Mereka kembali duduk lesehan di atas tikar, “Ini teteh, ini
aku,” ucap Caca sambil memberikan salah satu boneka yang terbuat dari samping
tersebut kepada Vanessa. Vanessa menerimanya dan mulai mengikuti permainan
Caca, “Teteh sini dede mau celita,” ucap Caca sambil menggoyangkan bonekanya,
memeragakan bahwa boneka itu sedang berbicara pada boneka yang di peganya.
“Mau celita apa?” tanya Vanessa sambil memperagakan suara
anak kecil.
“Aku tuh sedih, soalnya ibu terperangkap gak bisa pulang,”
ucap Caca sambil menggoyang-goyangkan bonekanya.
Vanessa mengrenyitkan dahinya, sepertinya Caca ini ingin
bercerita masalah ibunya tetapi dia malu untuk langsung bercerita padanya. Makanya
dia menggunakan boneka sebagai sarana mengungkapkan perasaanya. “Ibu kok bisa
terperangkap?” tanya Vanessa dengan meniru suara Caca.
“Aku gak tau, tapi kata papa ibu gak bisa pulang soalnya
terperangkap,” ucap Caca sambil menguap. Anak itu sepertinya mengantuk, “Caca
kita ke kamar yu,” ajak Vanessa.
Caca menganggukan kepalanya sambil mengucek matanya. Vanessa
menutun Caca untuk ke kamar tadi, dia merebahkan tubuhnya di samping Caca yang
sudah hampir memejamkan matanya, “Gampang sekali tidurnya tidak rewel,” gumam
Vanessa.
Vanessa bangkit dari tidurnya melihat mahluk pelangi itu
yang kini terlihat seperti manusia, dia memakai penutup kepala dari anyaman
__ADS_1
dengan bajunya yang terlihat sedikit kotor. Vanessa tersenyum canggung, merasa
kepergok oleh mahluk itu.
Tanpa berkata mahluk itu menutup kembali gorden sebagai
pengganti pintu. Vanessa berjalan keluar mengikuti mahluk itu, “Aku panggilnya
apa yah?” tanya Vanessa.
“Nama saya Koswara,” jawab mahluk itu tanpa melihat kearah
Vanessa, dia fokus pada gelas yang sedang di isi air olehnya.
“Saya Vanessa,” ucap Vanessa memperkenalkan diri.
“Saya sudah tau.”
Vanessa kesal mendengarnya, “Perasaan hidup gue ketemu mulu
sama orang dingin mulu, kebanyakan makan ice cream kayanya … jadi di kutuk gini
deh,” batin Vanessa.
ujar Vanessa. Dia menunggu reaksi Koswara si mahluk pelangi itu.
Setelah menunggu lama mahluk itu tidak mengeluarkan suara
juga, akhirnya Vanessa kembali angkat bicara, “Kok tidak kamu bebaskan saja?”
tanya Vanessa.
“Kalau kamu mati, istri saya akan bebas,” ucap Koswara
sambil menatap Vanessa tajam.
“Kok jadi aku?” tanya Vanessa tidak mengerti.
“Kamu penyebab semuanya!” suara Koswara meninggi karena
tidak bisa menahan emosinya.
“Kok aku lagi, aku gak tau apa-apa. Jangan teriak, Caca baru
__ADS_1
tidur, kesian kalau kebangun,” ucap Vanessa memperingatkan agar Koswara
menurunkan suaranya.
“Setiap kepala keluarga akan mendapat tugas dari kepala
desa, dan tugas yang mereka berikan pada
saya adalah membunuh kamu,” ucap Koswara dengan santai.
Vanessa mundur satu langkah, ada rasa takut di hatinya
mendengar tugas Koswara yang harus membunuh dirinya. “Kamu gagal membunuh saya,
lalu?” tanya Vanessa.
“Istri saya sebagai jaminannya harus terkurung di tempat
tertentu, dia tidak akan pernah bisa keluar jika kamu belum mati.” Koswara menghabiskan
minumnya, dia menatap Vanessa.
“Lalu kenapa kamu membiarkan aku hidup kembali?” Vanessa
tidak bisa menutupi rasa penasarannya. Karena mahluk itu yang membantu Vanessa
agar bisa menggerakan seluruh anggota tubuhnya.
“Wajah kamu persis seperti istri saya,” jawab Koswara sambil
memalingkan wajahnya.
Vanessa terkejut mendengar pengakuan Koswara bahwa wajah
Vanessa mirip dengan istrinya, apa itu alasan Koswara membiarkannya hidup
kembali. “Apa istrimu tidak berharga di matamu?” tanya Vanessa.
“Bukan masalah itu, tugas yang di berikan kepala desa tidak
masuk di akal. Biasanya semua kepala keluarga mendapat tuga untuk menjaga
manusia dari bahaya, bukan malah membunuhnya!” ucap Koswara dengan raut wajah
__ADS_1
yang terlihat penuh amarah.