Cinta Nathan & Vanessa

Cinta Nathan & Vanessa
Bab 7 (Tugas)


__ADS_3

Mereka kembali duduk lesehan di atas tikar, “Ini teteh, ini


aku,” ucap Caca sambil memberikan salah satu boneka yang terbuat dari samping


tersebut kepada Vanessa. Vanessa menerimanya dan mulai mengikuti permainan


Caca, “Teteh sini dede mau celita,” ucap Caca sambil menggoyangkan bonekanya,


memeragakan bahwa boneka itu sedang berbicara pada boneka yang di peganya.


“Mau celita apa?” tanya Vanessa sambil memperagakan suara


anak kecil.


“Aku tuh sedih, soalnya ibu terperangkap gak bisa pulang,”


ucap Caca sambil menggoyang-goyangkan bonekanya.


Vanessa mengrenyitkan dahinya, sepertinya Caca ini ingin


bercerita masalah ibunya tetapi dia malu untuk langsung bercerita padanya. Makanya


dia menggunakan boneka sebagai sarana mengungkapkan perasaanya. “Ibu kok bisa


terperangkap?” tanya Vanessa dengan meniru suara Caca.


“Aku gak tau, tapi kata papa ibu gak bisa pulang soalnya


terperangkap,” ucap Caca sambil menguap. Anak itu sepertinya mengantuk, “Caca


kita ke kamar yu,” ajak Vanessa.


Caca menganggukan kepalanya sambil mengucek matanya. Vanessa


menutun Caca untuk ke kamar tadi, dia merebahkan tubuhnya di samping Caca yang


sudah hampir memejamkan matanya, “Gampang sekali tidurnya tidak rewel,” gumam


Vanessa.


Vanessa bangkit dari tidurnya melihat mahluk pelangi itu


yang kini terlihat seperti manusia, dia memakai penutup kepala dari anyaman

__ADS_1


dengan bajunya yang terlihat sedikit kotor. Vanessa tersenyum canggung, merasa


kepergok oleh mahluk itu.


Tanpa berkata mahluk itu menutup kembali gorden sebagai


pengganti pintu. Vanessa berjalan keluar mengikuti mahluk itu, “Aku panggilnya


apa yah?” tanya Vanessa.


“Nama saya Koswara,” jawab mahluk itu tanpa melihat kearah


Vanessa, dia fokus pada gelas yang sedang di isi air olehnya.


“Saya Vanessa,” ucap Vanessa memperkenalkan diri.


“Saya sudah tau.”


Vanessa kesal mendengarnya, “Perasaan hidup gue ketemu mulu


sama orang dingin mulu, kebanyakan makan ice cream kayanya … jadi di kutuk gini


deh,” batin Vanessa.


ujar Vanessa. Dia menunggu reaksi Koswara si mahluk pelangi itu.


Setelah menunggu lama mahluk itu tidak mengeluarkan suara


juga, akhirnya Vanessa kembali angkat bicara, “Kok tidak kamu bebaskan saja?”


tanya Vanessa.


“Kalau kamu mati, istri saya akan bebas,” ucap Koswara


sambil menatap Vanessa tajam.


“Kok jadi aku?” tanya Vanessa tidak mengerti.


“Kamu penyebab semuanya!” suara Koswara meninggi karena


tidak bisa menahan emosinya.


“Kok aku lagi, aku gak tau apa-apa. Jangan teriak, Caca baru

__ADS_1


tidur, kesian kalau kebangun,” ucap Vanessa memperingatkan agar Koswara


menurunkan suaranya.


“Setiap kepala keluarga akan mendapat tugas dari kepala


desa, dan tugas  yang mereka berikan pada


saya adalah membunuh kamu,” ucap Koswara dengan santai.


Vanessa mundur satu langkah, ada rasa takut di hatinya


mendengar tugas Koswara yang harus membunuh dirinya. “Kamu gagal membunuh saya,


lalu?” tanya Vanessa.


“Istri saya sebagai jaminannya harus terkurung di tempat


tertentu, dia tidak akan pernah bisa keluar jika kamu belum mati.” Koswara menghabiskan


minumnya, dia menatap Vanessa.


“Lalu kenapa kamu membiarkan aku hidup kembali?” Vanessa


tidak bisa menutupi rasa penasarannya. Karena mahluk itu yang membantu Vanessa


agar bisa menggerakan seluruh anggota tubuhnya.


“Wajah kamu persis seperti istri saya,” jawab Koswara sambil


memalingkan wajahnya.


Vanessa terkejut mendengar pengakuan Koswara bahwa wajah


Vanessa mirip dengan istrinya, apa itu alasan Koswara membiarkannya hidup


kembali. “Apa istrimu tidak berharga di matamu?” tanya Vanessa.


“Bukan masalah itu, tugas yang di berikan kepala desa tidak


masuk di akal. Biasanya semua kepala keluarga mendapat tuga untuk menjaga


manusia dari bahaya, bukan malah membunuhnya!” ucap Koswara dengan raut wajah

__ADS_1


yang terlihat penuh amarah.


__ADS_2