Cinta Nathan & Vanessa

Cinta Nathan & Vanessa
Bab 25 (Tekanan)


__ADS_3

Malam itu Nathan kekamar, dia melihat Vanessa yang tampak


melamun. Dia memeluk Vanessa yang sedang duduk di atas tempat tidur,


pandangannya terlihat kosong. Nathan merasa ada yang aneh dengan sikap


istrinya, Vanessa tidak pernah seperti ini. “Kamu kenapa, sayang?” tanya


Nathan.


Nathan melihat reaksi terkejut dari Vanessa, namun istrinya


itu tampak mengulaskan senyum tipis miliknya. “Aku gak papa,” jawab Vanessa.


“Sayang cerita dong, aku tau kamu gak bakal kaya gini kalau


gak ada penyebabnya.”


Vanessa menghela nafasnya, dia tidak bisa menyembunyikan


sesuatu dari suaminya. Vanessa menatap kotak biru langit di atas nakas.


Nathan yang melihat tatapan istrinya langsung bangkit dan


membuka kotak itu, reflesk dia melempar kotak itu dengan wajah memerah menahan


amarah, tangannya mengepal. Namun amarahnya runtuh seketika melihat Vanessa


meneteskan air matanya, ini bukan saatnya untuk menumpahkan kemarahannya. Ada wanita


yang dia cintai terlihat rapuh mendapat kiriman yang menyakiti hatinya.


Vanessa merasakan Nathan yang menuntunnya untuk merebahkan


tubuhnya di atas tempat tidur. Dia memilih tempat ternyaman untuk menangis,


yaitu dada bidang milik Nathan.


Nathan tidak bisa membiarkan Vanessa terus menangis, dia

__ADS_1


mengangkat dagu Vanessa agar menatapnya. “Sayang kamu gak perlu takut ada aku


di sini, aku akan berusaha lebih baik lagi menjaga kamu. Aku gak akan biarkan


kejadian enam bulan yang lalu menimpa kamu lagi,” ucap Nathan. Ada rasa sakit


melihat mata istrinya yang memancarkan kesedihan, dia bisa merasakan bagaimana


ketakutannya Vanessa sekarang.


Nathan menyatukan kening mereka, “Kamu yakin kan, kalau aku


bisa jaga kamu dan tidak ceroboh lagi?” tanya Nathan.


Vanessa takut jika orang yang menginginkan kematiannya


menggunakan cara licik lagi seperti kemarin. Dia dan Nathan tidak bisa berkutik


sedikitpun, bahkan dia nyaris meninggal. Bukan nyaris lagi dia memang meninggal


namun keberuntungan masih berpihak padanya.


menitikan air matanya. Namun tangan Nathan menghapusnya, “Kamu gak yakin sama


aku?” tanya Nathan dengan raut wajah kecewa.


Vanessa menggelengkan kepalanya, dia lebih memilih memeluk


Nathan. Vanessa kembali terisak, “Aku takut,” ucap Vanessa di tengah tangisnya.


Perasaanya gelisah, dia merasa ini seperti akhir dari hidupnya. Mungkin orang


yang menginginkan Vanessa akan melakukan cara apapun demi melihatnya pergi dari


dunia ini.


Nathan mengelus punggung Vanessa, berusaha menenangkan


istrinya. Ada perasaan yang terus mengganjal di hatinya, “Sebenarnya siapa yang

__ADS_1


menginginkan kematian Vanessa?” tanya Nathan pada hatinya. Hatinya berkata


bahwa Pasusanto dan Antasya yang menginginkan kematian istrinya, tetapi kemarin


banyak kesempatan Anatasya untuk membunuh Vanessa. Tetapi dia lihat dari CCTV


Anatasya tampak tenang dan tidak mencurigakan sama sekali, meskipun Nathan


masih tidak habis pikir Anatasya yang menggodanya secara terang-terangan.


Nathan rasa jika Pasusanto yang menginginkan kematian Vanessa dia mungkin akan


bertindak kasar, seperti yang di alami Nathan dulu. Bahkan Pasusanto berani


menusuk Nathan di dadanya tanpa rasa takut sama sekali.


Nathan tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya sendiri,


dia bahkan tidak pernah memiliki musuh. Jika memang rekan bisnisnya kenapa


orang itu seperti ingin membunuh Vanessa tanpa meninggalkan bekas. Jelas polisi


tidak akan pernah bisa mengendus pelaku. Seperti kejadian Vanessa yang hampir


tertabrak kereta, jelas dia tidak bisa melapor pada polisi


Kepalanya terasa pusing, Nathan memijat pelipisnya pelan. Dia


harus lebih waspada, dan menemukan pelaku itu sebelum keselamatan Vanessa


benar-benar terancam.


Isak tangis Vanessa tidak terdengar lagi, Nathan merasa lega


karena istrinya sudah tertidur. Setidaknya Nathan tidak terlalu merasa


khawatir, dia harus kembali mengejakan pekerjaanya yang kacau akibat pandemi


ini.

__ADS_1


__ADS_2