
Malam itu Nathan kekamar, dia melihat Vanessa yang tampak
melamun. Dia memeluk Vanessa yang sedang duduk di atas tempat tidur,
pandangannya terlihat kosong. Nathan merasa ada yang aneh dengan sikap
istrinya, Vanessa tidak pernah seperti ini. “Kamu kenapa, sayang?” tanya
Nathan.
Nathan melihat reaksi terkejut dari Vanessa, namun istrinya
itu tampak mengulaskan senyum tipis miliknya. “Aku gak papa,” jawab Vanessa.
“Sayang cerita dong, aku tau kamu gak bakal kaya gini kalau
gak ada penyebabnya.”
Vanessa menghela nafasnya, dia tidak bisa menyembunyikan
sesuatu dari suaminya. Vanessa menatap kotak biru langit di atas nakas.
Nathan yang melihat tatapan istrinya langsung bangkit dan
membuka kotak itu, reflesk dia melempar kotak itu dengan wajah memerah menahan
amarah, tangannya mengepal. Namun amarahnya runtuh seketika melihat Vanessa
meneteskan air matanya, ini bukan saatnya untuk menumpahkan kemarahannya. Ada wanita
yang dia cintai terlihat rapuh mendapat kiriman yang menyakiti hatinya.
Vanessa merasakan Nathan yang menuntunnya untuk merebahkan
tubuhnya di atas tempat tidur. Dia memilih tempat ternyaman untuk menangis,
yaitu dada bidang milik Nathan.
Nathan tidak bisa membiarkan Vanessa terus menangis, dia
__ADS_1
mengangkat dagu Vanessa agar menatapnya. “Sayang kamu gak perlu takut ada aku
di sini, aku akan berusaha lebih baik lagi menjaga kamu. Aku gak akan biarkan
kejadian enam bulan yang lalu menimpa kamu lagi,” ucap Nathan. Ada rasa sakit
melihat mata istrinya yang memancarkan kesedihan, dia bisa merasakan bagaimana
ketakutannya Vanessa sekarang.
Nathan menyatukan kening mereka, “Kamu yakin kan, kalau aku
bisa jaga kamu dan tidak ceroboh lagi?” tanya Nathan.
Vanessa takut jika orang yang menginginkan kematiannya
menggunakan cara licik lagi seperti kemarin. Dia dan Nathan tidak bisa berkutik
sedikitpun, bahkan dia nyaris meninggal. Bukan nyaris lagi dia memang meninggal
namun keberuntungan masih berpihak padanya.
menitikan air matanya. Namun tangan Nathan menghapusnya, “Kamu gak yakin sama
aku?” tanya Nathan dengan raut wajah kecewa.
Vanessa menggelengkan kepalanya, dia lebih memilih memeluk
Nathan. Vanessa kembali terisak, “Aku takut,” ucap Vanessa di tengah tangisnya.
Perasaanya gelisah, dia merasa ini seperti akhir dari hidupnya. Mungkin orang
yang menginginkan Vanessa akan melakukan cara apapun demi melihatnya pergi dari
dunia ini.
Nathan mengelus punggung Vanessa, berusaha menenangkan
istrinya. Ada perasaan yang terus mengganjal di hatinya, “Sebenarnya siapa yang
__ADS_1
menginginkan kematian Vanessa?” tanya Nathan pada hatinya. Hatinya berkata
bahwa Pasusanto dan Antasya yang menginginkan kematian istrinya, tetapi kemarin
banyak kesempatan Anatasya untuk membunuh Vanessa. Tetapi dia lihat dari CCTV
Anatasya tampak tenang dan tidak mencurigakan sama sekali, meskipun Nathan
masih tidak habis pikir Anatasya yang menggodanya secara terang-terangan.
Nathan rasa jika Pasusanto yang menginginkan kematian Vanessa dia mungkin akan
bertindak kasar, seperti yang di alami Nathan dulu. Bahkan Pasusanto berani
menusuk Nathan di dadanya tanpa rasa takut sama sekali.
Nathan tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya sendiri,
dia bahkan tidak pernah memiliki musuh. Jika memang rekan bisnisnya kenapa
orang itu seperti ingin membunuh Vanessa tanpa meninggalkan bekas. Jelas polisi
tidak akan pernah bisa mengendus pelaku. Seperti kejadian Vanessa yang hampir
tertabrak kereta, jelas dia tidak bisa melapor pada polisi
Kepalanya terasa pusing, Nathan memijat pelipisnya pelan. Dia
harus lebih waspada, dan menemukan pelaku itu sebelum keselamatan Vanessa
benar-benar terancam.
Isak tangis Vanessa tidak terdengar lagi, Nathan merasa lega
karena istrinya sudah tertidur. Setidaknya Nathan tidak terlalu merasa
khawatir, dia harus kembali mengejakan pekerjaanya yang kacau akibat pandemi
ini.
__ADS_1