
Vanessa kembali ke kamarnya, dia membawa laptop miliknya
yang di simpan di lemari. Dia lebih memilih duduk di sofa dekat jendela, angin
menerpa wajahnya membuat Vanessa merasa rileks. Pikirannya melayang pada pagi
ini, Nathan seperti menghindarinya, selama sarapan suaminya tidak melirik
Vanessa sedikitpun. Bahkan saat Vanessa ke ruangan suaminya, tidak ada tatapan
yang bersahabat begitu dia mengucapkan maksudnya untuk meminta Nathan
memberikan kesempatan pada Anatasya tinggal di rumah ini sampai lockdown ini
berakhir.
Laptopnya sudah menyala, Vanessa membuka email berisi
laporan penjualan tiket kemarin. Semua perjalanan melonjak naik, mungkin
orang-orang ingin pulang selama dua minggu pemerintah menetapkan semua karyawan
untuk work from home.
Ponselnya terus berbunyi beberapa kali, menandakan ada notif
pesan yang di terima. Vanessa membuka ponselnya, melihat grup WA Karyawan
keuangan, di sana Niko sudah mulai menghimbau untuk bawahannya agar bekerja
seperti biasa. Staf keuangan yang terdiri 10 orang mulai mengisi ruang chat
dengan beberapa pertanyaan.
Vanessa lebih memilih untuk mulai mengerjakan pekerjaannya,
supaya cepat selesai. Tiga jam berlalu begitu cepat, Vanessa sudah
menyelesaikan pekerjaannya, dia mengambil ponsel dan mengubungi atasan
sekaligus kaka iparnya yang bernama Niko.
“Hallo pak,” sapa Vanessa dengan nada pormal seperti biasa.
“Iya,” jawab Niko singkat.
“Laporan yang bapak minta, sudah selesai mau saya kirim
sekarang lewat emai?” tanya Vanessa.
“Kirimkan sekarang saja,” jawab Niko di sebrang sana.
__ADS_1
“Abang,” panggil Vanessa. Jika sudah menyangkut masalah
pribadi Vanessa memanggil kaka iparnya dengan sebutan Abang, mengikuti Nathan
yang menyebut Niko dengan panggilan Abang.
“Kenapa?”
“Nathan marah,” curhat Vanessa. Dia tidak pernah segan
membagi masalahnya dengan kaka ipar satu-satunya itu, begitu juga dengan Niko.
Niko selalu meminta pendapatnya jika terjadi masalah dengan kekasih Niko,
karena kekasih Niko adalah sahabatnya sejak Vanessa kuliah.
“Ya berarti dia ingin marah,” ujar Niko cuek.
“Iya terus gimana minta maafnya, masalahnya kemarin itu udah
baikan. Eh malah marah lagi,” keluh Vanessa.
“Salah kamu bikin dia marah.”
Vanessa menaikan mengerucutkan bibirnya, ternyata kaka ipar
malah ikut menyalahkannya bukan memberi solusi. “Ah kayanya percuma ngomong
“Nathan marah kenapa?”
Sudut bibir Vanessa terangkat, dia bahagia karena akhirnya
Niko mulai serius menanggapi pengaduannya.”Jadi tuh Anatasya ke sini, ikut
menumpang untuk beberapa hari menginap di sini,” ujar Vanessa.
“Ngapain, bukannya dia punya rumah?” tanya Niko.
“Ah aib orang, gak boleh di umbar-umbar. Nathan marah karena
gak setuju Anatasya ikut menginap di sini,” jelas Vanessa. Dia merasa tidak
perlu membeberkan masalah yang sedang menimpa Anatasya, menurutnya seseorang
membutuhkan privasi untuk dirinya sendiri.
“Anatasya yang dulu pernah Nathan nodai?”
Dari suaranya Niko terdengar lebih serius dari sebelumnya,
“Iya.”
__ADS_1
“Mungkin Nathan takut salah masuk kamar,” jawab Niko asal.
Mata Vanessa melebar, “Maksud abang apa?” tanya Vanessa
ketus.
“Kamu tuh yah pasti gak ngerti tenang cowok. Cowok yang
sudah merasakan itu dengan seseorang perasanya pasti berbeda dengan perempuan
yang belum pernah di sentuhnya … bisa saja Nathan merasakan kehausan jika
berdekatan dengan Anatasya dan ingin melakukannya kembali, seperti dulu.”
“Tapi Nathan tidak terlihat tertarik pada Anatasya, lebih
cuek malah,” bela Vanessa.
“Ya jelas dia sedang menutupinya, orang ada kamu di situ.”
Vanessa menghela nafasnya, perkataan kaka ipar ada benarnya
juga. Tetapi hatinya menolak, Nathan tidak mungkin seperti itu karena
menurutnya servis yang Vanessa berikan lebih dari cukup. “Nathan gak kaya gitu
abang,” lirih Vanessa.
Niko terkekeh di sebrang sana, “Udah sana kerja! Jangan mikirin
yang enggak-enggak.”
“Aku mikir gini gara-gara abang juga.” Ketus Vanessa.
“Mungkin Nathan punya alasan lain, kamu tanya aja sama suami
kamu,” perintah Niko.
“Mau nanya gimana, orang tiap aku bahas Anatasya dia ngusir
aku terus,” adu Vanessa.
“Ya kamu kasih servis dulu, biar dia gak ngusir kamu,” ucap
Niko memberi ide.
Menurut Vanessa tidak ada salahnya mengikuti saran kaka
iparnya, “Oke nanti aku coba, makasih abang. Selamat kembali bekerja pak,” ucap
Vanessa sebelum mengakhiri telponnya.
__ADS_1