
Seorang lelaki yang tampak menggunakan hoodie berwarna hitam
selaras dengan warna jeans yang di kenakannya. Dia sedang menunggu orang
suruhannya, dia berdiri dengan gelisah. Merasa terganggu saat bernafas karena
masker yang di pakainya, sehingga dia tidak bisa leluasa menghirup udara
seperti biasanya, tetapi dia tidak mungkin keluar tanpa mengikuti peraturan
pemerintah.
Tidak lama orang suruhannya untuk mengantarkan paket ke
rumah Vanessa telah sampai, dia tersenyum sini di balik maskernya. “Udah?”
Pria pengantar paket manganggukan kepalanya, “Udah, target
yang menerimanya.”
Pria yang menggunakan hoodie hitam mengeluarkan amplop dari
sakunya, “Bayaranmu.”
Dengan gembira pria tersebut menerima amplop dan
memasukannya ke dalam saku. “Thanks, kalau ada job lagi kabarin gue.”
Pria berhoodi hitam hanya menganggukan kepalanya, dan
berjalan dengan santai ke arah mobilnya.
***
Vanessa terbangun dari tidurnya, matanya terasa perih.
Mungkin efek dia menangis semalam, saat melirik tempat tidurnya Vanessa merasa
kecewa. Nathan tidak ada di sampingnya, tetapi Vanessa mencoba mengerti mungkin
Nathan masih mengerjakan pekerjaanya yang menumpuk itu.
Dia teringat pada Ayu sahabatnya, mungkin dia bisa membantu
Vanessa. Vanessa mengambil ponsel untuk menghubungi Ayu, namun panggilan
__ADS_1
pertamanya tidak di angkat. Tidak lama terdengar notif pesan dari ponselnya.
“Aya naon? … aya si bos. Teu bisa teteleponan.” (Ada apa? …
ada bos. Gak bisa angkat telpon) Begitu isi pesan singkat dari Ayu.
Dengan cepat Vanessa membalasnya, “Kamari aya nu ngirim
paket, isina boneka santet L.”
(Kemarin dapet paket, isinya boneka santet)
“Cik foto ken!.” (Coba foto)
Vanessa mengambil kotak itu, jantungnya berdetak lebih
cepat. Ada perasaan takut menyelimutinya, tetapi dia harus berani. Hanya Ayu
satu-satunya harapannya, Vanessa menghela nafasnya perlahan. Dia memberanikan
diri untuk membuka kotak tersebut dan mengambil gambar lalu dia kirim pada Ayu.
Ayu sudah membuka foto yang Vanessa kirimkan, tapi tidak
mengirim pesan pada Vanessa. “Boneka na hungkul ie mah, jang nyingsienan.
Soalna eweh esian, molongpong.” (Boneka aja ini mah, buat nakut-nakutin. Gak
ada isinya, kosong)
“Serius? … awas jiga basa eta di kamera eweh si Koswara.
Bari nuturken keneh?” (Serius? … awas kaya dulu liat di kamera gak ada Koswara.
Ternyata masih ngikutin)
Vanessa mencebik kesal karena Ayu mengirimkan foto selpinya
sambil mengangkat tangannya, menunjukan jari telunjuk dan jari tengah yang
artinya entah serius atau memang berfose, “Kampret,” gerutu Vanessa.
“Serius maneh ih!” (Kamu yang serius!) ucap Vanessa dia yang
awalnya sedih malah merasa kesal akibat kelakuan Ayu.
__ADS_1
“Te nempo, ie rarai urang serius kie,” (Gak liat, ini muka
aku serius gini) balas Ayu.
“Pamer! … leheng mun gelis siah,” (Pamer, iya kalau kamu
cantik) balas Vanessa singkat.
“Eh ulah salah, kiekie ge sakedeng dei rek jadi pamajikan
bos nyaho.” (Jangan salah, gini-gini juga sebentar lagi jadi istrinya bos tau)
Vanessa menggelengkan kepalanya, meringis melihat balasan Ayu. “Kumadinya!”
entah kenapa setelah berkirim pesan dengan Ayu Vanessa jadi merasa tenang, dia
tidak terlalu memikirkan masalah boneka santet itu. tapi sekarang dia pusing
kepala membaca curhatan Ayu yang panjang kali lebar mengenai bos yang katanya
akan menjadi suaminya.
Vanessa menatap layar ponselnya yang bordering, tanda
panggilan masuk dari Niko. Dengan cepat Vanessa menekan tombol hijau, “Iya
kenapa bang?”
“Buka email, kamu bantuin Prita ngerekap pengeluaran satu tahun
ini soalnya dia keteteran, Nathan minta laporannya siang ini juga. “ jawab Niko
tanpa basa-basi.
“Katanya aku di suruh bikin keponakan gak usah kerja,”
sindir Vanessa.
“Vanessa!”
Mendengar nada serius kaka iparnya, sepertinya ini bukan
waktunya untuk bercanda. “Oke bos, siap laksanakan!” jawab Vanessa. Setelah
Niko menutup telonnya Vanessa segera bersiap-siap.
__ADS_1