Cinta Nathan & Vanessa

Cinta Nathan & Vanessa
Bab 26 (Hoodie)


__ADS_3

Seorang lelaki yang tampak menggunakan hoodie berwarna hitam


selaras dengan warna jeans yang di kenakannya. Dia sedang menunggu orang


suruhannya, dia berdiri dengan gelisah. Merasa terganggu saat bernafas karena


masker yang di pakainya, sehingga dia tidak bisa leluasa menghirup udara


seperti biasanya, tetapi dia tidak mungkin keluar tanpa mengikuti peraturan


pemerintah.


Tidak lama orang suruhannya untuk mengantarkan paket ke


rumah Vanessa telah sampai, dia tersenyum sini di balik maskernya. “Udah?”


Pria pengantar paket manganggukan kepalanya, “Udah, target


yang menerimanya.”


Pria yang menggunakan hoodie hitam mengeluarkan amplop dari


sakunya, “Bayaranmu.”


Dengan gembira pria tersebut menerima amplop dan


memasukannya ke dalam saku. “Thanks, kalau ada job lagi kabarin gue.”


Pria berhoodi hitam hanya menganggukan kepalanya, dan


berjalan dengan santai ke arah mobilnya.


***


Vanessa terbangun dari tidurnya, matanya terasa perih.


Mungkin efek dia menangis semalam, saat melirik tempat tidurnya Vanessa merasa


kecewa. Nathan tidak ada di sampingnya, tetapi Vanessa mencoba mengerti mungkin


Nathan masih mengerjakan pekerjaanya yang menumpuk itu.


Dia teringat pada Ayu sahabatnya, mungkin dia bisa membantu


Vanessa. Vanessa mengambil ponsel untuk menghubungi Ayu, namun panggilan

__ADS_1


pertamanya tidak di angkat. Tidak lama terdengar notif pesan dari ponselnya.


“Aya naon? … aya si bos. Teu bisa teteleponan.” (Ada apa? …


ada bos. Gak bisa angkat telpon) Begitu isi pesan singkat dari Ayu.


Dengan cepat Vanessa membalasnya, “Kamari aya nu ngirim


paket, isina boneka santet L.”


(Kemarin dapet paket, isinya boneka santet)


“Cik foto ken!.” (Coba foto)


Vanessa mengambil kotak itu, jantungnya berdetak lebih


cepat. Ada perasaan takut menyelimutinya, tetapi dia harus berani. Hanya Ayu


satu-satunya harapannya, Vanessa menghela nafasnya perlahan. Dia memberanikan


diri untuk membuka kotak tersebut dan mengambil gambar lalu dia kirim pada Ayu.


Ayu sudah membuka foto yang Vanessa kirimkan, tapi tidak


mengirim pesan pada Vanessa. “Boneka na hungkul ie mah, jang nyingsienan.


Soalna eweh esian, molongpong.” (Boneka aja ini mah, buat nakut-nakutin. Gak


ada isinya, kosong)


“Serius? … awas jiga basa eta di kamera eweh si Koswara.


Bari nuturken keneh?” (Serius? … awas kaya dulu liat di kamera gak ada Koswara.


Ternyata masih ngikutin)


Vanessa mencebik kesal karena Ayu mengirimkan foto selpinya


sambil mengangkat tangannya, menunjukan jari telunjuk dan jari tengah yang


artinya entah serius atau memang berfose, “Kampret,” gerutu Vanessa.


“Serius maneh ih!” (Kamu yang serius!) ucap Vanessa dia yang


awalnya sedih malah merasa kesal akibat kelakuan Ayu.

__ADS_1


“Te nempo, ie rarai urang serius kie,” (Gak liat, ini muka


aku serius gini) balas Ayu.


“Pamer! … leheng mun gelis siah,” (Pamer, iya kalau kamu


cantik) balas Vanessa singkat.


“Eh ulah salah, kiekie ge sakedeng dei rek jadi pamajikan


bos nyaho.” (Jangan salah, gini-gini juga sebentar lagi jadi istrinya bos tau)


Vanessa menggelengkan kepalanya,  meringis melihat balasan Ayu. “Kumadinya!”


entah kenapa setelah berkirim pesan dengan Ayu Vanessa jadi merasa tenang, dia


tidak terlalu memikirkan masalah boneka santet itu. tapi sekarang dia pusing


kepala membaca curhatan Ayu yang panjang kali lebar mengenai bos yang katanya


akan menjadi suaminya.


Vanessa menatap layar ponselnya yang bordering, tanda


panggilan masuk dari Niko. Dengan cepat Vanessa menekan tombol hijau, “Iya


kenapa bang?”


“Buka email, kamu bantuin Prita ngerekap pengeluaran satu tahun


ini soalnya dia keteteran, Nathan minta laporannya siang ini juga. “ jawab Niko


tanpa basa-basi.


“Katanya aku di suruh bikin keponakan gak usah kerja,”


sindir Vanessa.


“Vanessa!”


Mendengar nada serius kaka iparnya, sepertinya ini bukan


waktunya untuk bercanda. “Oke bos, siap laksanakan!” jawab Vanessa. Setelah


Niko menutup telonnya Vanessa segera bersiap-siap.

__ADS_1


__ADS_2