
Setelah selesai bertelpon dengan Ibu, Vanessa merasa tubuhnya lelah. Mungkin efek belum
sarapan, dia berjalan ke dapur dan mengambil beberapa helai roti. Vanessa
memilih kembali ke kamar setelah menghabiskan roti dan satu gelas susu.
Sebelum menutup
pintu kamar Vanessa melirik ruang kerja Nathan, dia merindukan Nathan. Jika
sebelumnya mereka masih bisa sarapan bersama dan makan siang bersama, kini
Vanessa sarapan dan makan siang sendiri. Dia ingin mengajak Nathan, tetapi
hatinya selalu berkata jangan mengganggu Nathan biarkan pria itu segera
menyelesaikan pekerjaanya dan semuanya akan kembali seperti semula.
Vanessa menghela nafas dan menutup pintu kamar dengan perlahan. Tubuhnya terasa pegal, Vanessa
memilih merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia hanya menunggu perintah
dari Niko selanjutnya jika ada pekerjaan yang harus di kerjakannya.
Pandangan Vanessa kosong menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Pikirannya melayang
entah kemana, tetapi tiba-tiba Vanessa merasa penasaran dengan pengirim boneka
santet yang di terimanya kemarin. Hatinya resah, meskipun Ayu bilang bahwa
boneka itu kosong dalam artian tidak ada kekuatan atau mahluk yang di isi
pada boneka itu untuk menyantet seseorang. Dan sepertinya pengirimnya boneka
__ADS_1
itu sengaja untuk menakutinya.
“Siapa yah?” gumam Vanessa. Dia sangat penasaran pada orang itu, kenapa dia menginginkan
Vanessa mati. Vanessa jadi teringat Koswara, mahluk yang di perintahkan untuk
membunuhnya. Jika memang iya berarti Vanessa punya dua orang yang menginginkan
kematiannya. ‘Atau mereka dua orang yang sama, tetapi siapa?’ Vanessa tidak
menemukan jawaban dari pertanyaan yang keluar dari benaknya.
Kepalanya terasa pusing, Vanessa memilih memejamkan matanya sejenak untuk beristirahat.
***
Vanessa mencoba membuka matanya yang terasa perih, dia
tersenyum melihat selimut tebal di tubuhnya. Dia meraba keningnya yang terasa
menghangat mendapat perhatian dari suaminya.
Nathan masuk ke kamar, istrinya sudah bangun. Dia berjalan menghampiri Vanessa, menyimpan nampan di atas nakas. “Sayang makan dulu,” ucap
Nathan.
Vanessa menggelengkan kepalanya pelan, dia tidak nafsu untuk makan, apalagi tenggorokannya terasa sakit.
Dia duduk di samping Vanessa, meraba kening istrinya,“Kenapa?” tanya Nathan.
“Aku belum lapar, nanti saja … terima kasih,” ujar Vanessa.
Nathan menganggukan kepalanya, dan mencium kening Vanessa sebentar. “Tidak papa aku tinggal? … masih ada pekerjaan yang belum selesai.”
__ADS_1
Vanessa menatap wajah Nathan yang terlihat lelah, meskipun
tubuhnya sedang tidak baik-baik saja dan menginginkan Nathan memberikan
perhatian lebih padanya, tetapi Vanessa tidak ingin menambah beban Nathan. “Iya,
semangat bekerjanya,” ucap Vanessa sambil mengulas senyum.
Nathan mengacak rambut Vanessa, “Telpon aku jika membutuhkan
sesuatu,” ucap Nathan sambil menyimpan ponsel Vanessa di samping istrinya.
Meskipun berat meninggalkan istrinya yang sedang sakit,
tetapi Nathan masih mempunyai kewajiban untuk mengurus perusahaannya. Dia tidak
akan membiarkan perusahaanya gulung tikar, akan banyak orang yang kehilangan
pekerjaan jika itu terjadi. Apalagi di masa pandemi ini semua orang membutuhkan
biaya besar untuk menjaga imunitas mereka agar tidak terserang virus Covid-19.
Nathan memperhatikan layar laptopnya, yang menunjukan angka
pengeluaran selama satu tahun ke belakang. Helaan nafas keluar dari mulutnya,
uang backup perusahaan hanya lima puluh persen dalam satu tahun pengeluaran.
Setidaknya perusahaannya masih bisa beroprasi enam bulan ke depan. Nathan harus
memutar otaknya agar tetap bisa melanjutkan perusahaannya yang bergerak di
bidang transportasi, namun tetap menjaga keselamatan penumpang dari virus yang
__ADS_1
mudah menular.