Cinta Nathan & Vanessa

Cinta Nathan & Vanessa
Bab 30 (Test)


__ADS_3

Vanessa tidak pernah mengunci pintu seperti ini.


Hatinya resah, dia merasa ada sesuatu yang menimpa istrinya.


Lagi-lagi Nathan mengetuk pintu kamarnya, "Sayang buka dong," pinta Nathan.


Namun tidak ada tanda-tanda Vanessa membuka pintu, dia menempelkan daun telinga.


Mencoba mendengarkan keadaan di dalam kamarnya. Dugaannya tepat, Vanessa menangis pelan di dalam sana.


"Sayang ada apa? mari bicarakan bersama," ujar Nathan. Tetapi ucapannya tidak mendapatkan tanggapan.


Vanessa tidak mampu berkata-kata, tangisnya tidak berhenti sama sekali. Dia berjalan mendekati pintu, tanpa berniat membukanya.


Dia hanya ingin merasakan keberadaan Nathan di dekatnya, meskipun dia merasakan sakit karena tidak bisa bersandar pada dada bidang milik suaminya.


Nathan tidak kehabisan akal, dia membuka ponselnya dan menelpon Vanessa.


Air matanya mengalir semakin deras, melihat ponsel di genggamnya bergetar. Dia tidak sanggup untuk mengeluarkan suara sedikitpun.


Nathan mengacak rambutnya kasar, karena Vanessa sengaja menolak panggilannya.


Akhirnya Nathan memutuskan untuk mengirimkan pesan pada istrinya.


"Kamu kenapa sayang? jangan buat aku khawatir."


Melihat isi pesan singkat itu Vanessa mengeratkan pegangannya pada ponsel. Dia memejamkan matanya sejenak untuk berpikir.


Vanessa menghapus air matanya yang terus turun. Jarinya menari di atas papan keyboard layar ponselnya.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus melakukan tes swab," balas Vanessa.


Kening Nathan berkerut, membaca isi pesan dari Vanessa. Dengan cepat dia membalasnya, "Untuk apa tes swab?"


Karena tidak mendapat balasan Nathan kembali mengetuk pintu, "Sayang untuk apa kamu harus tes swab?" Nathan kembali melontarkan pertanyaan.


Ponselnya bergetar tanda pesan masuk. Dia membulatkan matanya melihat isi pesan dari Vanessa.


"Aku demam dan batuk."


Nathan kembali bersuara, "Bukannya kamu tidak pergi kemana-mana?"


Tapi pertanyaannya yang keluar dari mulutnya tidak mendapat jawaban dari Vanessa. Tiba-tiba Nathan teringat kotak yang berisi boneka santet itu. "Shit," umpat Nathan.


"Sayang kamu gak papa? sesek nafas gak?"


Mendengar pertanyaan khawatir Nathan membuat hati Vanessa sedikit menghangat.


Ada perasaan lega mendengar suara istrinya. Tetapi Nathan masih merasa khawatir.


"Kamu butuh sesuatu? biar aku ambilkan," tawar Nathan.


"Aku membutuhkan pelukanmu." Air matanya kembali menetes.


"Tidak," jawab Vanessa.


Nathan menghela nafasnya, "Kalau membutuhkan sesuatu telpon aku."


***

__ADS_1


Nathan tidak bisa tidur semalaman, dia memikirkan Vanessa.


Lagi-lagi dia merasa ceroboh karena tidak bisa menjaga istrinya dengan baik.


Nathan melirik jam digital di atas meja kerjanya, yang menunjukkan pukul tujuh, lewat empat puluh lima menit.


Itu artinya sebentar lagi petugas kesehatan akan mendatangi rumahnya. Nathan bergeas membersihkan tubuhnya.


Nathan berpakaian rapi, karena hari ini dia akan mengadakan rapat siang nanti. Untung saja di ruang kerjanya ada koper dua bulan lalu, saat itu Natahan melakukan perjalanan ke luar kota.


Nathan berjalan keluar ruang, Nani menghampiri nya.


"Tuan di depan ada petugas kesehatan."


Nathan mengangguk dan berjalan ke ruang tamu, melihat 2 orang yang memakai APD.


"Seluruh anggota yang tinggal di rumah ini mohon di kumpulkan, terkecuali ibu Vanessa."


Nathan melihat ke arah Nani yang ada di belakangnya, meminta wanita itu untuk memanggil yang lain.


Nathan melakukan tes lebih dulu, lalau di susul para pekerjanya.


Nathan menunggu di depan kamar Vanessa dengan harap-harap cemas. Bahkan dia sampai tidak bisa mengotorol tubuhnya untuk tidak memegang gagang pintu karena mendengar ringisan Vanessa.


Kali ini Nathan lebih waspada, dia mengeluarkan hand sanitizer lalu memakainya.


Petugas kesehatan keluar, petugas memberi jarak 1 meter dari hadapan Nathan.


"Kami permisi pak, hasil tesnya akan keluar tiga hari lagi."

__ADS_1


Nathan menganggukkan kepalanya, "Terima kasih," jawab Natahan.


__ADS_2