Cinta Nathan & Vanessa

Cinta Nathan & Vanessa
Bab 46 (Terjebak)


__ADS_3

Nathan melihat jalanan di belakangnya yang kosong, dia mulai memundurkan mobilnya perlahan. Dia Melirik Vanessa yang sudah ketakutan, “Sayang, telpon kepala keamanan di rumah dan Niko juga,” ucap Nathan memerintah.


Dia harus mencari cara untuk bisa memutar mobilnya, Nathan melajukan mobilnya ke jalan yang tadi dia lewati. Lagi-lagi di depan ada mobil yang menghadangnya.


“Sial,” umpat Jordan.


Dengan air mata yang mengalir Vanessa mengambil ponsel miliknya, menghubungi Niko. “Abang,” panggil Vanessa dengan suara bergetar.


Di dalam kamarnya Niko mengernyitkan dahi, dia merasa suara Vanessa yang ketakutan, “Kenapa?”


“Tolong ke jalan X aku dan Nathan di hadang orang,” ucap Vanessa. Dia menyeka air matanya, di liriknya Nathan yang tampak berpikir.


“Pengawal mana?” tanya Niko dengan nada frustrasi. Dia benar-benar kalut, adik serta calon keponakannya sedang dalam bahaya.


“Tidak Pa Crist sedang cuti, dan tempat makan yang kami datangi tidak terlalu jauh dari rumah.”


“Tunggu! Aku akan segera ke sana, jangan keluar dari mobil.” Niko memutuskan sambungannya secara sepihak dia menyambar jaket dan berjalan keluar dari kamarnya. Dan menelepon semua pengawal pribadi keluarganya agar membantu Nathan.


Vanessa melihat seorang pria yang berjalan ke arah mobilnya, kakinya semakin bergetar. Jantungnya berdetak dengan cepat, keringat dingin semakin membasahi tubuhnya.

__ADS_1


“Jika ada celah untuk lari, pergi dengan mengendap. Jangan sampai ada seorang pun yang tahu kau pergi dari mobil!”


Vanessa hanya bisa menganggukkan kepalanya, pria tadi semakin mendekat ke arahnya. “Ya tuhan selamatkan aku, bayi serta suamiku,” ucap Vanessa di dalam hati mengharapkan tuhan mendengarkan doanya.


Vanessa menengok ke arah kanan saat terdengar suara ketukan di jendela mobil mereka. Vanessa merasakan tangan Nathan menggenggamnya dengan erat, memberi kekuatan pada Vanessa. Namun rasa takut itu tidak sirna begitu saja, rasa cemas masih ada di dalam lubuk hatinya.


“Buka!”


Vanessa dengan jelas mendengar perintah pria yang berdiri di samping pintu mobil.


Vanessa menggelengkan kepalanya saat Nathan meminta persetujuan untuk menemui pria itu.


Pria itu mengetuk jendela mobil dengan lebih keras. “Keluar cepat, kalau tidak akan aku pecahkan jendela mobil ini.”


Vanessa menggelengkan kepalanya, dia meminta Nathan untuk tidak pergi darinya.


Nathan tidak ingin ambil resiko, apalagi sampai menyakiti Vanessa. Dia melihat pria itu menodongkan senjata api ke jendela mobilnya.


Nathan menghapus air mata Vanessa, mengecup bibir istrinya sebentar lalu melepaskan. Di tatapnya wajah Vanessa dengan intens.

__ADS_1


“Kita akan baik-baik saja. Kamu tunggu di sini sebentar ... kalau kamu punya kesempatan untuk lari pergi lah, jangan sampai mereka berhasil menangkap mu.”


Vanessa tidak mampu berkata-kata lagi. Hatinya sakit, bingung, resah dan cemas semuanya membaur menjadi satu. Air mata itu tidak berhenti melihat Nathan membuka pintu mobil dan meninggalkannya.


Terdengar jelas bahwa Nathan mengunci semua akses mobil agar tidak ada orang yang masuk. Kecuali Vanessa menekan tombol untuk membuka kuncinya.


Nathan di bawa ke tengah kerumunan pria berbadan besar yang sekarang mengelilinginya.


Nathan memang sudah belajar bela diri, tapi dia tidak mungkin melawan semua pria ini dalam satu waktu jika mereka bersamaan mengeroyoknya.


“Siapa yang menyuruh kalian?” Tanya Nathan dengan nada yang dia buat Setenang mungkin. Dia menyingkirkan rasa takutnya demi anak dan istrinya.


Mereka tersenyum meremehkan ucapan Nathan.


“Aku,” jawab seorang pria yang baru saja datang memasuki kerumunan itu.


“Kau!” Nathan benar-benar tidak habis pikir pada pria yang sekarang tersenyum riang di depannya tanpa rasa bersalah.


“Habisi dia,” ucap pria tersebut sambil tersenyum misterius. Lalu dia mundur dan menyaksikan bagaimana buasnya orang-orang suruhannya dalam menghabisi Nathan.

__ADS_1


__ADS_2