
Vanessa sebenarnya masih kesal pada Nathan, tetapi kasihan
juga melihat wajah suaminya yang terlihat memelas. Vanessa menggulung kuetiaw
gorenya dengan sumpit lalu menyuapi Nathan, suaminya itu tampak berbinar merasa
gembira karena keinginannya terpenuhi.
Melihat fried chiken yang masih ada di pangkuan Nathan
membuat Vanessa memilih mengambil alih bucket itu, dia mengambil satu dan
memakannya bersamaan dengan kuetiaw gorengnya. Lagi-lagi Vanessa merasa risih
karena Nathan memperhatikannya, “Kenapa masih mau, gak begah tuh perut?” tanya
Vanessa.
Nathan menggelengkan kepalanya, “Enak kuetiawnya. Apalagi
kalau di suapin sama istriku yang cantik,” puji Nathan.
“Kalau ada maunya aja muji-muji, lupa yah kalau lagi
ngambek,” ketus Vanessa.
“Aku gak ngambek,” elak Nathan sambil menerima suapan
Vanessa.
“Yaya terserah,” jawab Vanessa malas. Akhirnya kuetiawnya
habis tanpa tersisa, karena Nathan ikut menghabiskannya. Vanessa merasa mudah
luluh jika melihat Nathan menginginkan sesuatu dia selalu berusaha ingin
membahagiakan suaminya, yang pasti dia tidak ingin Nathan pindah kelain hati,
apalagi sampai punya simpanan di luaran sana.
Langit mulai gelap Vanessa meminta Nathan untuk kembali ke
__ADS_1
rumah, dia ingin merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Setelah memarkirkan
mobil di garasi Nathan menahan Vanessa untuk tidak turun terlebih dulu. “Ada
apa?” tanya Vanessa.
“Aku mau minta maaf,” ucap Nathan sambil menundukan
kepalanya.
Vanessa tersenyum mendengar ucapan suaminya, “Aku juga minta
maaf, karena sudah membuat tuan Nathan menunggu,” jawab Vanessa. Dia merasa
senang, ternyata mudah berbaikan dengan pria ini.
Nathan mengangkat wajahnya, menatap mata Vanessa yang
terlihat berbinar. “Tapi jangan mimpi ciuman sama cowok lain lagi yah,” pinta
Nathan dengan nada lirih.
menganggukan kepalanya sebagai jawaban, lalu keluar dengan langkah ringan.
Entah akan datang masalah apalagi yang akan menimpa rumah tangganya, ia hanya
berharap jika masalah itu datang, dia juga ingin masalah itu berakhir dan tidak
berlarut-larut bagaikan kisah novel romantic yang di bacanya.
Setelah membersihkan tubuhnya, Vanessa keluar dengan baju
tidur. Di liriknya Nathan yang asik bermain ponsel, Nathan menghentikan
aktifitasnya saat Vanessa mendekat. Vanessa menghampiri Nathan yang sedang
bersender pada dipan, dia ikut duduk di samping Nathan lalu menyenderkan
kepalanya pada dada bidang Nathan.
Nathan tersenyum mendapat sikap manja milik istrinya, dia
__ADS_1
mengelus rambut Vanessa dengan penuh rasa sayang. Perasaan bersalah itu
menyelimutinya saat dia menghabiskan waktu quality time nya dengan bekerja dan
mendiamkan istrinya. Nathan mengecup kepala Vanessa lembut, dia mengusap perut
Vanessa yang rata berharap bahwa nanti aka nada calon bayi yang tumbuh di perut
istrinya.
Vanessa merasa bahagia di perlakukan dengan lembut oleh
suaminya. Pandangannya mengarah pada jendela, di luar hujan cukup deras dengan kilatan
petir membuat taman bunga tampak tengar dalam sekejap. Pikirannya kembali pada
mahluk pelangi atau Koswara, pria itu mengatakan tugas yang di berikan kepala
desa berbeda dengan yang lainya yang sangat bertolak belakang. Dia jadi
teringat ucapan Ayu sahabatnya di Bandung, kalau biasanya mahluk yang sering di
gunakan untuk menjaga manusia dari mara bahaya yaitu mahluk berwarna putih atau
hitam. Lalu kenapa Koswara di tugaskan untuk membunuhnya, bukan menjaganya? Apa
karena aura yang di miliki Koswara ada tiga warna? Lalu kenapa dia malah
memilihku hidup dan harus merelakan istrinya terkurung? Tidak mungkin jika dia
hanya beralasan membiarkanku hidupp karena tugas yang di berikan kepala desa
tidak masuk akal? Berbgai pertanyaan memenuhi kepala Vanessa.
Suara ketukan di pintu membuyarkan pikirannya, “Tuan, nona
di depan ada wanita yang menangis, bajunya basah kuyup katanya mau bertemu
dengan nona.” Vanessa dan Nathan saling pandang mendengar suara asisten rumah tangga
mereka berbicara.
__ADS_1