
Rasa haru menyelimuti hati Vanessa, mendengar penuturan Nathan yang sangat menyentuh hatinya.
Senyuman Nathan menggambarkan betapa bahagianya pria yang sekarang sedang menatap mata istrinya yang berkaca-kaca.
Senyuman Nathan memudar, “Kata mami wanita yang sedang hamil muda itu enggak boleh stres dan menangis. Soalnya itu akan mempengaruhi perasaan pada bayi kita yang ada di dalam rahimmu, sayang.”
Air mata Vanessa meluncur semakin deras membasahi pipinya. Bagaimana bisa Nathan tahu semua tentang kehamilan.
Sementara Vanessa tidak tahu menahu soal kehamilan. Vanessa merasa sangat beruntung mendapatkan pria sebaik Nathan.
Dengan sigap Nathan menghapus air mata istrinya dengan lembut, menggunakan ibu jarinya.
“Kamu jangan menangis kaya begini, sudah sayang,” ucap Nathan lembut sambil menatap mata istrinya.
“Aku menangis bahagia Natahan. Aku merasa beruntung memiliki pria sebaik kamu,” ucap Vanessa. Air matanya tidak bisa berhenti, perasaan sedih dan bahagia membaur menjadi satu.
Nathan menggelengkan kepalanya, “Aku yang lebih beruntung mendapatkan istri seperti kamu. Bahkan keselamatanmu ada di ditanganku. Kamu hampir meninggal gara-gara kecerobohan ku.”
Vanessa menangkap rasa kecewa di hati Nathan, karena suaminya tidak bisa menjaga Vanessa dari maut yang mengintainya.
Vanessa memeluk tubuh Nathan dengan erat, “Itu bukan salahmu, tapi aku yang tidak hati-hati dalam menjaga diriku sendiri. Aku tidak bisa terus bergantung padamu, sayang.”
Nathan membelai rambut Vanessa, “Aku akan berusaha menjagamu dari orang-orang yang menginginkan nyawamu!”
Nathan mengepalkan tangannya, dia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti tubuh istri dan anaknya.
__ADS_1
***
Nathan memijat tengkuk leher Vanessa. Menemani istrinya yang masih mengeluarkan isi lambungnya.
Vanessa mengeluarkan semua nasi yang baru saja masuk ke dalam perutnya.
Tubuh Vanessa terasa lemas, dia seperti tidak memiliki tenaga. Vanessa membasuh wajahnya, dia merasa sedikit bugar.
Vanessa memandangi cermin di depannya. Nathan terlihat sangat khawatir, seharian ini Nathan terus mendampinginya. Karena Vanessa tidak berhenti mual dan berakhir memuntahkan apa pun yang masuk ke dalam perutnya.
“Sudah?”
Vanessa hanya mengangguk, sebagai jawaban dari pertanyaan Nathan.
Nathan menggendong tubuh Vanessa, lalu merebahkan tubuh istrinya di atas tempat tidur.
“Tunggu di sini sebentar, yah!” pinta Nathan.
Lagi-lagi Vanessa hanya mampu mengangguk. Mulutnya terasa pahit, makanya dia memilih untuk tidak banyak berbicara.
Nathan keluar dari kamar, menutup pintu dengan perlahan. Dia berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruang kerjanya.
Telepon genggam yang berada di meja kerjanya menjadi tujuan utama Nathan.
Nathan harus menghubungi maminya. Dia tidak tega melihat Vanessa yang muntah terus-menerus.
__ADS_1
“Hallo mam,” sapa Nathan.
“Iya, ada apa ?” tanya Mami di seberang sana.
“Mah ini Vanessa mual, terus muntah-muntah enggak berhenti.” Ucap Nathan dengan nada khawatir.
Mami tersenyum di seberang sana, mendengar penuturan Nathan. “Ya enggak papa, berarti Vanessa hamil, Nathan!”
“Iya Vanessa hamil mam, tapi itu bagaimana muntah terus-menerus.”
“Kamu tenangkan diri dulu, jangan panik kaya begitu. Katanya mau anak sebelas, baru mau di kasih satu saja sudah keblinger!”
Nathan mencoba mengendalikan dirinya, “Terus Nathan harus bagaimana mam?”
“Vanessa mau makan nasi enggak?” tanya mami.
“Justru itu mam, kalau makan nasi di keluarkan lagi,” Jawab Nathan lesu, dia merasa tidak tega saat mengingat wajah lelah Vanessa.
“Oh sama berarti waktu hamil kamu sama Niko ... Coba di kasih biskuit atau buah-buahan. Pokoknya harus ada yang masuk ke perut Vanessa kasihan bayinya. Tubuh Vanessa juga pasti lelah dan butuh tenaga. Sudah beli susu hamil belum?”
Saking kalutnya Nathan menggelengkan kepalanya, padahal mami tidak akan melihat gerakan kepalanya.
“Sudah beli belum?” tanya mami tidak sabar, karena Nathan tidak menjawabnya.
“Belum mam.”
__ADS_1
“Ya sudah beli online aja, pastikan semuanya steril. Ibu hamil tidak boleh sampai kena virus Nathan!”
Biasanya Nathan yang memerintah pegawai, tapi sekarang dia yang malah di perintah oleh mami. “Baik mam.”