
Setelah meastikan Vanessa tidur, Nathan berjalan ke ruang
bersantai. Dia duduk di sofa menyandarkan punggunya pada sandaran sofa. Kepalanya
terasa pusing dia memijat kepalanya perlahan. Ruang bersantai itu sangat sepi,
hanya terdengar suata televisi yang menemani malamnya.
Perusahaan Nathan yang sedang Nathan pegang bergerak di
bidang transportasi kacau balau, memang sebelum pemerintah melakukan lockdown
mengalami peningkatan pesat. Tetapi setelah dua hari lockdown berjalan tidak
ada yang memakai jasa transportasi. Kemungkinan efek lockdown ini akan sangat
berpengaruh pada perusahaannya. Sementara semua karyawan yang di rumahkan tetap
melakukan work from home, itu artinya mereka tetap mendapatkan upah. Itu berarti
perusahaannya harus memiliki modal lebih untuk membayar gaji karyawan serta
pengeluaran lainnya.
Kepalanya semakin berdenyut, Nathan meringis kesakitan. Sampai
seseorang meraba pipinya, Nathan tersentak langsung membuka mata. Nathan
menggeratakan giginya melihat Anatasya terlihat memoles makeup di wajahnya yang
terilhat sangat menonjolkan aura kecantikan. Nathan menunjukan tatapan tidak
sukanya, dia sedang ingin sendiri dan tidak ingin ada orang lain yang mengganggunya.
Bibir berwarna merah darah milik Anatasya melengkung
menampakan senyumnya. “Kau terlihat sedang stress … mungkin ingin
bersenang-senang denganku,” ucap Anatasya.
__ADS_1
Nathan merasa jijik melihat gaya bicara Anatasya yang
seperti wanita murahan yang merayu pelangganya. Nathan memilih berdiri hendak
meninggalkan ruangan itu, namun tangannya di cekal oleh Anatasya. Nathan tidak
tinggal diam dia menghempaskan tangan Anatasya yang memegang pergelangan
tangannya. Dia tidak sudi berbicara dengan perempuan yang ada di hadapannya,
persis seperti wanita bayaran.
Anatasya tidak memperdulikan tatapan yang Nathan berikan,
dia membuka jubah tidurnya. Menampakan tubuhnya yang hanya memakai dalaman. Anatasya tersenyum
menyeringai, “Ayo lah jangan munafik seperti itu, bahkan kau dulu dengan
ganasnya melahap tubuh indahku.”
Nathan menatap Anatasya tajam, “Saat itu aku dalam pengaruh
alkohol, kalau sekarang aku sedang dalam keadaan sadar! Aku tidak tertarik pada
Anatasya sendiri.
“Kalau kamu berubah pikiran, pintu kamarku terbuka lebar
untukmu sayang,” teriak Anatasya.
Nathan berdecak, dia tidak habis pikir wanita itu berani
sekali berteriak di keheningan malam. Dia hanya berdoa semoga Vanessa tidak
mendengar ucapan wanita murahan itu.
***
Vanessa menelan ludahnya dengan susah payah, dia menutup
__ADS_1
pintu kamarnya dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Airmatanya
turun begitu saja tanpa bisa dia cegah, hatinya sakit. Dia selalu menjaga
sikapnya agar tidak menyakiti siapapun, tapi kali ini hatinya terluka. Orang yang
dia kasihani, orang yang dia bantu ternyata begitu tega menyakiti hatinya.
Air mata Vanessa semakin deras membasahi pipinya, dia tidak
habis pikir kenapa Anatasya bisa sejahat itu padanya. Apa Anatasya ingin
merebut Nathan darinya, Vanessa jadi teringat kejadian masa lalu saat dia
meminta Anatasya untuk memaafkan Nathan. Agar Nathan bisa kembali ke raganya
dan sadar dari komanya, tetapi saat itu Anatasya meminta Vanessa berjanji untuk
menikahkannya dengan Nathan, Karena Nathan telah mengambil kesuciannya. Vanessa
mengerti sekarang mungkin saat itu Anatasya berbicara seolah sedang
mengerjainya, tetapi sepertinya wanita itu memang menginginkan Nathan.
Vanessa menutupi mulutnya, dia tidak ingin ada siapapun yang
mendengar tangisnya. Dia merasa jadi wanita bodoh yang membiarkan seseorang
memasuki kehidupan rumah tangganya untuk merusak kebahagiannya.
Rasa bersalahnya semakin menyeruak, Vanessa merasa tidak
enak hati karena tidak mendengarkan ucapan suaminya. Ingatannya kembali pada
kejadian di ruang Kerja Nathan, Vanessa melihat mata Nathan yang memancarkan
kebahagian saat Vanessa menyuapi suaminya. Vanessa sudah berjanji pada Nathan
untuk meminta Anatasya pergi dari rumah mereka, meski Vanessa tidak tau harus
__ADS_1
memberi alasan apa pada Anatasya agar wanita itu mau pergi dari kehidupan rumah
tangganya.