
Vanessa mencoba menenangkan Anatasya agar tidak menagis
berlarut-larut, dia memberikan alasan bahwa ibu hamil tidak boleh stress dan
Anatasya tidak perlu memikirkan sikap Nathan. Vanessa kembali ke kamarnya dia membawa baju kerja untuk Nathan, lalu
menyimpannya di atas tempat tidur. Dia berjalan ke luar kamar untuk membuatkan
sarapan untuk Nathan. Saat membuka lempari pendingin hanya ada ayam yang sudah
di ungkep serta tahu dan tempe, Vanessa lumpa menyiapkan stok makanan selama
lockdown. Dia tidak ambil pusing sekarang banyak kok mendia belanja online
cukup duduk di rumah dan menunggu pesanannya sampai.
Makanan untuk Nathan sudah siap, Vanessa memilih makanan
khas sunda. Dia hanya menggoreng ayam, tahu, dan tempe menambahkan mentimun dan
selada sebagai pelengkap. Setelah semuanya selesai Vanessa membawa nampan dan
kembali ke kamar untuk mengambil baju.
Setelah di depan ruangan Nathan Vanessa mengetuk pintu
perlahan, tidak ada sahutan dari dalam. Vanessa mencoba mengetuknya sekali
lagi, “Sayang,” panggil Vanessa. Tidak lama terdengar suara kunci yang terbuka,
lalu Nathan membuka pintu, menampakan wajah tidak bersahabatnya melihat makanan
yang ku bawa.
“Kalau kamu datang Cuma mau membujukku lebih baik kamu
pergi!”
Vanessa tersenyum getir, hatinya terasa sakit mendapat
__ADS_1
penolakan dari Nathan. Sementara dia jelas-jelas melihat Nathan membiarkan
Anatasya masuk ke ruangan itu tanpa halangan. Tetapi ini bukan waktunya untuk
berbedat, “Aku tidak bermaksud membujukmu,” jawab Vanessa.
Melihat Nathan yang masuk tanpa menutup pintu, itu artinya
suaminya mengijinkannya untuk masuk. Vanessa mencoba meyakinkan dirinya untuk
tidak lagi mendebat Nathan tentang keberdaan Anatasya. Vanessa duduk di sofa
Nathan menyimpan nampan miliknya, dahinya mengrenyit melihat ada nampan lain di
sana. Vanessa memperhatikan dua cangkir yang berisi minuman berbeda, “Kamu
minum kopi?” tanya Vanessa, kembali dadanya sesak saat mengetahui fakta bahwa
Nathan minum kopi buatan Anatasya.
“Tidak,” jawab Nathan singkat.
hatinya mengetahui Nathan tidak meminum kopi yang di buat Anatasya. Melihat Nathan
yang malah duduk di meja kerjanya membuat Vanessa sedikit kesal, dia menarik
tangan suaminya untuk mengikutinya duduk di sofa. Lagi-lagi perhatiannya malah
fokus pada roti selai yang ada di meja, “Kamu sudah sarapan dengan Anatasya?”
Nathan tidak ragu menampakan wajah kesalnya, otak istrinya
yang cemburuan tidak memakai logika. Jelas-jelas roti satunya lagi masih utuh,
dan di sana hanya ada dua roti miliknya masih utuh sementara milik Anatasya
sudah dia makan sebagian. Nathan memilih duduk di sofa tanpa memperdulikan
pertanyaan Vanessa. Tetapi melihat istrinya yang tampak menahan air mata,
__ADS_1
membuatnya tidak enak hati untuk membiarkan istrinya itu larut dalam pikirannya
sendiri. “Aku tidak memakannya sama sekali, itu yang tinggal sebagian milik
Anatasya. Dan kopi itu Anatsya yang meminumnya sendiri,” Nathan mejelaskan
dengan nada malas.
Mulut Vanessa melengkuk membentuk senyuman, “Terimakasih,”
ujar Vanessa sambil menatap mata Nathan.
Nathan hanya menganggukan kepalanya, melihat senyum istrinya
Nathan merasa moodnya lebih baik dari sebelumnya. Harum ayam goreng masuk ke
indra penciumannya, dia menatap nampan yang di bawa Vanessa, “Untukku?”
Vanessa mengangguk lalu membawa piring itu ke hadapan
Nathan, “Mau makan sendiri, atau aku suapi?”
Nathan tidak menjawab, dia lebih memilih memandang wajah
istrinya yang tampak ceria. Perasaan rindu itu menyeruak di hatinya, padahal
baru dua hari mereka bertengkar tapi entah kenapa Nathan merasa sudah sangat
lama sekali. Dia merindukan bermanja dengan wanitanya, andai saja perempuan itu
tidak ada di sini mungkin selama lockdown Nathan memiliki kesempatan lebih
untuk berduaan dengan istrinya.
“Kalau diam saja, berarti jawabannya iya,” ucap Vanessa. Ada
perasaan gembira melihat senyum yang Nathan tunjukan karena ucapannya, “Aku
tidak rela jika melihatmu berdekatan dengan Anatasya, apalagi sampai Anatasya
__ADS_1
melihat senyum manis milikmu,” ucap Vanessa di dalam hatinya.