
Malam itu setelah melakukan hubungan suami istri, Nathan
keluar dengan penuh amarah, dia kira Vanessa telah setuju untuk membiarkan Anatasya pergi dari rumah mereka.
Namun dugaannya salah, istrinya itu malah kembali memohon kepadanya, Nathan membanting
pintu kamarnya dengan sangat keras, memberikan jawaban atas keinginan
Vanessa yang jelas-jelas dia menolaknya.
Nathan berjalan menuju ruang kerjanya, dia merebahkan
tubuhnya di sofa. Badannya terasa lelah apalagi mereka habis melakukan kegiatan
yang menguras tenanganya. Perlahan Nathan menutup matanya untuk segera pergi
kealam mimpinya.
Tubuh Nathan menggeliat saat suara ketukan pintu menganggu
tidurnya, Nathan bangkit dari tidurannya. Nathan duduk mengucek kedua matanya
sebelum berdiri dan membuka pintu, berharap Vanessa menghampirinya. Namun saat
membuka pintu Anatasya yang tersenyum lebar dengan membawa nampan di tangannya.
Nathan terkesiap saat wanita itu masuk ke ruangannya dan duduk cantik di sofa.
Nathan menatap Anatasya tajam, menyuruh wanita itu pergi dari tempatnya, Nathan
sedang tidak ingin di ganggu oleh siapapun.
Namun sepertinya wanita itu mengacuhkan tatapan Nathan yang
memintanya pergi, dengan tenang Anatasya meletakan satu kopi panas dan juga the
panas yang masih mengepul di atas meja, “Kita sarapan aku belum sempat
__ADS_1
sarapan,” ajak Anatasya sambil tersenyum ramah pada Nathan.
Dia memilih berdiri di hadapan Anatasya, dia tidak sudi
untuk duduk dengan wanita itu, “Pergi!” ucap Nathan tegas. Tetapi Anatasya
menghiraukan ucapan Nathan dia malah menyerahkan satu roti panggang yang sudah
di olesi coklat, “Itu kopi dan roti unutk kamu, kita makan bersama.”
“Aku tidak suka kopi, jadi lebih baik kamu pergi dari sini!”
Nathan mulai geram wanita di hadapannya itu seperti tidak memperdulikan ucapannya,
“Lihat sayang perempuan seperti ini yang kamu kasihani,” batin Nathan.
“Kau bisa minum tehku,” tawar Anatasya. Dia meminum kopi
yang seharusnya untuk Nathan, dan mulai melahap roti miliknya.
Nathan mengepalkan tangannya, jika saja Anatasya seorang pria
dengan santainya dia masuk ke ruangannya tanpa ijin dari sang pemilik. Dan
wanita yang ada di depannya ini akan sangat membahayakan istrinya, harusnya dia
bisa lebih tegas pada Anatasya. “Kamu pergi dari rumah saya!” teriak Nathan.
Dia sudah tidak bisa menahan emosinya, apalagi bukannya pergi wanita itu malah
menangis sesegukan tapi Nathan tidak memperdulikannya. Dia menyeret Anatasya
keluar dari ruangannya, “Kamu yang memaksa saya berlaku kasar!” ucap Nathan
sambil mendorong tubuh Anatasya hingga wanita itu hampir jatuh ke lantai.
Nathan melihat Vanessa memperhatikan interaksi mereka dari
__ADS_1
depan pintu kamarnya, Nathan memilih mengacuhkannya lalu kembali masuk ke
ruangannya. Dia menjambak rambutnya dengan sangat kasar hingga beberapa helai
rambutnya jatuh ke lantai.
***
Ada perasaan sakit hati melihat Anatasya masuk ke ruangan
Nathan dengan membawa minum dan roti. Dia merasa Anatasya berlebihan,
seharusnya dia yang membawakan makanan untuk suaminya. Apalagi pagi tadi Nathan
tidak ikut sarapan di meja makan.
Vanessa berjalan menghampiri Anatasya yang menangis
sesegukan di depan pintu ruangan kerja Nathan, “Maafkan Nathan,” ucap Vanessa.
Sebenarnya dia merasa tidak perlu meminta maaf atas perlakuan kasar Nathan,
tetapi dia ingin sedikit mengibur wanita yang tengah hamil muda itu.
“Aku Cuma membawakannya sarapan karena tadi Nathan tidak
ikut sarapan bersama, aku Cuma ingin Nathan bisa menerima kehadiranku untuk
sementara di sini,” ucap Anatasya di tengah tangisnya.
Lagi-lagi Vanessa merasa ada sesuatu yang aneh yang menyelimuti hatinya mendengar penuturan
Anatasya. Tapi dia segera menepisnya, mungkin Anatasya tau kalau Nathan tidak
menijinkannya untuk tinggal di sini, makanya Anatasya mencoba berinisiatif
untuk mendekati Nathan terlebih dulu. “Sepertinya aku harus lebih ekstra
__ADS_1
mendekati Nathan, agar pria itu mau menerima Anatasya tinggal di sini untuk
beberapa hari ke depan,” ucap Vanessa di dalam hatinya.