
Sebenarnya dunia Koswara ini tidak masuk akal bagi Vanessa,
bagaimana mulut gua bisa memberikan anak kepada warga di sini. Namun
perhatiannya kembali teingat kedua anak pria di sampingnya, “Kasihan
anak-anakmu tumbuh dewasa tanpa kasih sayang seorang ibu,” tutur Vanessa.
“Maksud kamu?” tanya Koswara sambil menatap lekat mata
wanita di sampingnya.
“Iya anak-anakmu tidak akan mendapatkan kasih sayang seorang
ibu, dari istri kamu,” ucap Vanessa menjelaskan.
Koswara menghela nafasnya, “Anak-anakku tidak akan tumbuh
dewasa, sudah lebih dari sepuluh tahun aku dan istriku mengurus mereka. Mereka
akan tetap pada tubuh mereka seperti yang kamu lihat sekarang.”
Vanessa diam memikirkan ucapan koswara yang lagi-lagi tidak
masuk di akal.
Melihat Vanessa yang diam saja Koswara terkekeh, “Sejak
dunia ini ada hanya ada 21 orang kepala keluarga dan istrinya. Kami tidak menua
Vanessa, tetap pada tubuh kami yang sekarang, begitu juga dengan anak-anak kami
mereka sama.”
“Kenapa?” tanya Vanessa.
“Kami di hidupkan bukan untuk berkembang biak seperti
kalian, tapi kami hidup untuk kekal dan abadi. Semakin lama kami akan semakin
kuat melawan musuh orang yang sedang kami jaga,” ucap Koswara menjelaskan.
Vanessa mangut-mangut, kali ini dia mengerti ucapan pria di
__ADS_1
sampingnya. “Kalau itu mulut gua untuk apa kok sepi?” tanya Vanessa sambil
menunjuk mulut gua yang tidak jauh dari tempat meminta keturunan. Vanessa
menjadi menyesal menanyakan perihal mulut gua yang sepi, karena wajah Koswara
memancarkan kesedihan yang mendalam, “Maaf.”
Koswara tidak merespon ucapan maaf Vanessa, dia
memperhatikan gua yang di tunjuk wanita di sampingnya. “Itu gua khusus untuk
menahan para istri yang suaminya gagal melakukan tugas,” jawab Koswara.
“Jadi istrimu ada di sana? … bisakah kita menjenguknya?”
Vanessa memberikan beberapa pertanyaan pada pria di sampingnya yang terlihat
masih murung.
“Tidak boleh ada seorang pun yang mendekati gua itu!”
“Kenapa?”
“Apa tidak ada cara untuk membebaskan istrimu?” tanya
Vanessa.
“Ada.”
“Lalu kenapa kamu tidak membebaskannya?” kalau ada cara
untuk membebaskan istrinya kenapa pria di sampingnya ini tampak tidak berusaha
begitu pikirnya.
“Hanya ada satu cara untuk membebaskan istriku. Menuntaskan
seratus tugas yang di berikan kepala desa baru istriku akan kembali.”
Vanessa membuka mulutnya karena terkejut, “Apa seratus
tugas?” dia tidak habis pikir dengan dunia yang terlihat mengasikan namun kejam
__ADS_1
juga seperti dunianya.
Koswara menganggukan kepalanya, “Iya seratus tugas.”
“Banyak juga yah. Semua mendapat hukuman seperti itu jika
tugasnya gagal?” tanya Vanessa.
“Iya itu hukuman … sudah sana pulang hari akan gelap, kalau
kamu masih di sini kamu bakal terjebak di dunia ini,” ucap Koswara dengan nada
serius. Dia tersenyum melihat Vanessa tiba-tiba menghilang tanpa pamit, padahal
dia hanya mengerjai wanita itu.
Dari atas sana koswara memandangi mulut gua yang tampak
sepi, satu butir air mata turun melewati pipinya. Dia tidak menyesal dengan
keputusannya membiarkan Vanessa hidup kembali, karena dia yakin bisa
melaksanakan seratus tugas demi membebaskan istrinya, “Aku akan berjuang demi
kamu, sama seperti aku berjuang demi Vanessa ... aku mencintaimu.”
***
Vanessa bangun dengan nafas tersegal-segal, dia melakukan perpindahan secara
ekspres untuk pergi dari dunia Koswara. Rasa takut menyelimutinya saat Koswara
mengatakan bahwa dia akan terjebak di dunia itu jika tidak pergi dari sana,
makanya Vanessa tanpa pikir panjang langsung melarikan diri.
Setelah nafasnya kembali teratur Vanessa melirik jam di pergelangan
tangannya, sudah menunjukan pukul dua belas itu artinya jam makan siang.
Vanessa berjalan keluar dari kamarnya, sesampainya di meja makan rasa sedih
menyelimutinya melihat Nathan tidak ada di sana. Hanya Anatasya yang tersenyum
__ADS_1
kepadanya, Vanessa membalas senyum dan ikut duduk di samping Anatasya.