
Vanessa sedang duduk di meja maka, menunggu kedatangan Nathan. Dia ingin membahas masalah soal kertas yang dia temui tadi pagi.
Nathan berjalan menghampiri istrinya. Wajahnya terlihat berbeda. Nathan menghela nafas lalu duduk di samping Vanessa.
Vanessa mulai kesal melihat tingkah Nathan yang terlihat cuek. Padahal sekarang Vanessa ingin menangis, isi surat itu benar-benar membuat pikirannya terganggu.
“Aku butuh penjelasan?” Tanya Vanessa dengan nada tidak sabaran.
Nathan yang mulai melahap makan siangnya, memilih menoleh pada istrinya. “Ada apa, sayang?”
Air mata di kelopak Vanessa sudah tidak bisa di bendung lagi. Buliran itu jatuh, membasahi pipinya.
“Surat kecil itu-“ Vanessa sengaja menggantung kalimatnya, dia menunggu reaksi Nathan.
Nathan diam, dia mencoba berpikir kalimat yang tepat, “Aku enggak tahu ini kebetulan atau memang ada yang mau mengadu domba.”
Vanessa menghapus air matanya, saat melihat raut wajah Nathan yang terlihat serius.
“Maksudnya bagaimana?”
__ADS_1
Nathan menghela nafasnya. “Ada yang mengirim minuman pasak bumi dengan merek sama seperti yang adikmu berikan untukku. Di dalamnya ada kertas kecil itu ... aku tanya kamu percaya adikmu yang melakukan ini semua?”
Mata Vanessa membulat sempurna, dia cukup terkejut dengan penuturan Nathan.
“Kalau iya, apa motif adikku ingin membunuhku? Bahkan aku baru mengenalnya beberapa hari ini,” ungkap Vanessa. Dia tidak pernah ragu dalam mengeluarkan pendapat yang ada di kepalanya.
“Sepertinya orang itu sedang mengecoh kita, sayang.” Nathan mencium bibir Vanessa. Lalu kembali memakan makan siangnya.
“Mengecoh, apa karena adikku itu selalu menunjukkan sikap tidak sukanya?”
Nathan menyimpan sendok dengan kasar. Dia tidak suka acara makan siangnya terganggu.
Vanessa hanya bisa memandang punggung Nathan dengan rasa kecewanya. Bagaimana pria itu seperti menunda waktu, padahal Vanessa sudah ingin tahu tentang kejelasannya.
Perut Vanessa terasa kram, bibirnya pucat. Wajahnya menahan sakit, keringat dingin mulai bercucuran di dahinya.
Vanessa meringis sambil memegangi perutnya. Mencoba meraih gelas. Berharap setelah minum dirinya merasa baikkan.
Tapi ternyata dia salah, rasa sakit itu semakin terasa. Vanessa berjalan dengan perlahan menuju kamarnya.
__ADS_1
Dia mencoba merebahkan tubuhnya, berharap sakit itu hilang dengan sendirinya.
Selama lima belas menit Vanessa berperang dengan rasa sakitnya.
Rasa sakit itu di gantikan dengan rasa sesuatu yang ingin keluar dari isi perutnya.
Vanessa berjalan cepat menuju kamar mandi, dia menumpahkan sarapan paginya di wastafel.
Cukup lama Vanessa tersiksa dengan rasa mualnya. Dia membasuh wajahnya, lalu berkumur-kumur untuk menghilangkan isi perut yang ada di dalam rongga mulutnya.
Setelah merasa baikkan Vanessa kembali merebahkan tubuhnya. Kini rasanya Vanessa sudah kehilangan tenaga, semua tenaganya terkuras habis.
Vanessa mencoba menghubungi Nathan melalui ponselnya. Vanessa tidak punya tenaga untuk sekedar berjalan ke ruang kerja Nathan.
Ini adalah hal pertama yang Vanessa alami, meskipun dia hanya anak kosan dan sering terkena mag. Tapi tidak pernah sampai muntah, paling hanya perutnya yang terasa sakit.
Nathan yang sedang mengerjakan pekerjaannya, melirik ponselnya. Ada pesan dari Vanessa, “Sayang tolong aku.”
Rasa khawatir Nathan menguar setelah membaca pesan singkat dari istrinya.
__ADS_1
Dia berjalan dengan cepat menuju kamar mereka.