
Setelah pemeriksaan itu Nathan membawa laptopnya ke taman
belakang, dia duduk di gazebo. Sesekali Nathan melirik jendela kamarnya, yang
masih tertutup.
Nathan mengambil ponselnya, dia ingin mengirimkan pesan pada
istrinya. “Kamu sudah sarapan? Jangan lupa suplemennya di minum.”
Beberapa saat Nathan menunggu balasan dari Vanessa, sudah
sepuluh menit berlalu. Ada perasaan khawatir menyelimuti hatinya, dia berjalan
ke jendela kamarnya. Lalu mengetuk jendela dengan perlahan.
Senyumnya mengembang melihat Vanessa yang membuka gorden,
Nathan memperhatikan Vanessa yang mundur beberapa langkah dari jendela. Sepertinya
Vanessa menjaga jarak darinya, Nathan memperhatikan wajah cantik Vanessa yang
di tutup masker.
Perasaan gelisah menyelimutinya, saat melihat mata istrinya
bengkak. Nathan tau ini kondisi sulit, apalagi selama ini istrinya itu selalu
memeluk dan menangis di dada bidangnya jika menghadapi masalah.
Namun kini jarak memisahkan mereka, Nathan tidak bisa melihat
raut wajah yang di tunjukan Vanessa. Tetapi Nathan masih bisa melihat kesedihan
dari mata Vanessa.
Vanessa memperhatikan Nathan yang membuka ponselnya, tidak
lama terdengar nofit pesan dari ponselnya yang berada di atas tempat tidur. Melihat
Nathan tatapan Nathan yang seperti berbicara untuk menyuruh Vanessa membuka
pesan darinya.
__ADS_1
Senyum mengembang Vanessa tidak bisa terlihat oleh orang
lain karena tertutup masker. “Ini terlalu menyiksa, rasanya aku ingin melompat
ke jendela dan memelukmu, sayang.”
Hati Vanessa menghangat membaca pesan singkat yang di
kirimkan suaminya. “Dengan senang hati, aku tidak akan melepaskan pelukan itu,”
jawab Vanessa.
Senyum Nathan bagai energy untuknya menjalani hari yang
buruk, dia melihat Nathan kembali mengetik sesuatu di ponselnya.
Tidak lama muncul pesan yang di tulis Nathan, “Maaf aku
harus mengerjakan pekerjaanku dulu, istirahatlah. Jangan terlalu di pikirkan
masalah virus itu, kamu bisa melawan mereka semua. Aku yakin!”
Mengingat itu Vanessa rasanya Vanessa ingin kembali
Senyum yang di tunjukan Nathan membuatnya dadanya sakit, dia
tidak ingin berakhir seperti ini. Dari beberapa artikel yang di bacanya, virus
itu memiliki kekuatan berbeda di setiap tubuh manusia.
Vanessa menghela nafas saat mengingat update terkini tentang
peningkatan angka kematian akbibat terkena Covid-19.
Ada rasa haru melihat Nathan yang duduk di gazebo dengan
laptop di depannya. Vanessa merasa sangat berharga karena Nathan sangat peduli
padanya, ada rasa tidak percaya diri pada Vanessa. Karena hingga kini dia belum
menunjukan tanda-tanda kehamilan.
Padahal Vanessa tau Nathan sudah mengharapkan malaikan kecil
__ADS_1
hadir di perutnya. Lagi-lagi Vanessa menghela nafas lelah, kepalanya terasa
pusing. Terlalu banyak masalah yang menimpanya akhir-akhir ini.
Nathan sedang fokus pada layar laptopnya, namun perhatiannya
teralihkan saat bi Nani mendekat ke arahnya.
“Ada apa?” perhatian
Nathan fokus pada tangan bi Nani yang memegang paper bag.
“Emmm, i-ini tuan ada kiriman.”bi Nani menyerahkan paper bag
pada Nathan
Nathan menerimanya, “Bibi cepat cuci tangan pakai sabun,
jangan menyentuk benda lain sebelum cuci tangan!” tegas Nathan. Dia tidak ingin
kejadian yang menimpa Vanessa dia alami oleh bi Nani, dan menyebar pada semua
orang yang tinggal di rumahnya.
“Baik tuan,” jawab bi Nani.
Nathan menyemprotkan disinfektan pada paperbag itu, dia
merogoh paper bag dan terkejut melihat isinya. Namun dia tetap fokus dan
menjaga keamanan, Nathan menyemprotkan disinfektan pada botol di tangannya.
Setelah memastikan semuanya aman, mata Nathan meneliti botol
tersebut. “Shiit,” umpat Nathan. Dia merasa kesal pada orang yang mengirimkan
minuman aneh di tangannya, maksudnya orang itu apa pakai mengirimkan minuman
pasak bumi padanya.
***
NB: Pasak bumi itu minuman penambah energi.
__ADS_1