Cinta Nathan & Vanessa

Cinta Nathan & Vanessa
Bab 31 (Hinaan)


__ADS_3

Setelah pemeriksaan itu Nathan membawa laptopnya ke taman


belakang, dia duduk di gazebo. Sesekali Nathan melirik jendela kamarnya, yang


masih tertutup.


Nathan mengambil ponselnya, dia ingin mengirimkan pesan pada


istrinya. “Kamu sudah sarapan? Jangan lupa suplemennya di minum.”


Beberapa saat Nathan menunggu balasan dari Vanessa, sudah


sepuluh menit berlalu. Ada perasaan khawatir menyelimuti hatinya, dia berjalan


ke jendela kamarnya. Lalu mengetuk jendela dengan perlahan.


Senyumnya mengembang melihat Vanessa yang membuka gorden,


Nathan memperhatikan Vanessa yang mundur beberapa langkah dari jendela. Sepertinya


Vanessa menjaga jarak darinya, Nathan memperhatikan wajah cantik Vanessa yang


di tutup masker.


Perasaan gelisah menyelimutinya, saat melihat mata istrinya


bengkak. Nathan tau ini kondisi sulit, apalagi selama ini istrinya itu selalu


memeluk dan menangis di dada bidangnya jika menghadapi masalah.


Namun kini jarak memisahkan mereka, Nathan tidak bisa melihat


raut wajah yang di tunjukan Vanessa. Tetapi Nathan masih bisa melihat kesedihan


dari mata Vanessa.


Vanessa memperhatikan Nathan yang membuka ponselnya, tidak


lama terdengar nofit pesan dari ponselnya yang berada di atas tempat tidur. Melihat


Nathan tatapan Nathan yang seperti berbicara untuk menyuruh Vanessa membuka


pesan darinya.

__ADS_1


Senyum mengembang Vanessa tidak bisa terlihat oleh orang


lain karena tertutup masker. “Ini terlalu menyiksa, rasanya aku ingin melompat


ke jendela dan memelukmu, sayang.”


Hati Vanessa menghangat membaca pesan singkat yang di


kirimkan suaminya. “Dengan senang hati, aku tidak akan melepaskan pelukan itu,”


jawab Vanessa.


Senyum Nathan bagai energy untuknya menjalani hari yang


buruk, dia melihat Nathan kembali mengetik sesuatu di ponselnya.


Tidak lama muncul pesan yang di tulis Nathan, “Maaf aku


harus mengerjakan pekerjaanku dulu, istirahatlah. Jangan terlalu di pikirkan


masalah virus itu, kamu bisa melawan mereka semua. Aku yakin!”


Mengingat itu Vanessa rasanya Vanessa ingin kembali


Senyum yang di tunjukan Nathan membuatnya dadanya sakit, dia


tidak ingin berakhir seperti ini. Dari beberapa artikel yang di bacanya, virus


itu memiliki kekuatan berbeda di setiap tubuh manusia.


Vanessa menghela nafas saat mengingat update terkini tentang


peningkatan angka kematian akbibat terkena Covid-19.


Ada rasa haru melihat Nathan yang duduk di gazebo dengan


laptop di depannya. Vanessa merasa sangat berharga karena Nathan sangat peduli


padanya, ada rasa tidak percaya diri pada Vanessa. Karena hingga kini dia belum


menunjukan tanda-tanda kehamilan.


Padahal Vanessa tau Nathan sudah mengharapkan malaikan kecil

__ADS_1


hadir di perutnya. Lagi-lagi Vanessa menghela nafas lelah, kepalanya terasa


pusing. Terlalu banyak masalah yang menimpanya akhir-akhir ini.


Nathan sedang fokus pada layar laptopnya, namun perhatiannya


teralihkan saat bi Nani mendekat ke arahnya.


“Ada apa?”  perhatian


Nathan fokus pada tangan bi Nani yang memegang paper bag.


“Emmm, i-ini tuan ada kiriman.”bi Nani menyerahkan paper bag


pada Nathan


Nathan menerimanya, “Bibi cepat cuci tangan pakai sabun,


jangan menyentuk benda lain sebelum cuci tangan!” tegas Nathan. Dia tidak ingin


kejadian yang menimpa Vanessa dia alami oleh bi Nani, dan menyebar pada semua


orang yang tinggal di rumahnya.


“Baik tuan,” jawab bi Nani.


Nathan menyemprotkan disinfektan pada paperbag itu, dia


merogoh paper bag dan terkejut melihat isinya. Namun dia tetap fokus dan


menjaga keamanan, Nathan menyemprotkan disinfektan pada botol di tangannya.


Setelah memastikan semuanya aman, mata Nathan meneliti botol


tersebut. “Shiit,” umpat Nathan. Dia merasa kesal pada orang yang mengirimkan


minuman aneh di tangannya, maksudnya orang itu apa pakai mengirimkan minuman


pasak bumi padanya.


***


NB: Pasak bumi itu minuman penambah energi.

__ADS_1


__ADS_2