
Vanessa menutup pintu kamar Anatasya dengan perlahan, dia
berjalan ke kamarnya. Ternyata Nathan belum juga tidur, suaminya masih sibuk
dengan ponselnya.
“Kenapa sayang?” tanya Nathan saat melihat wajah istrinya
yang terlihat memikiran sesuatu.
Vanessa menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, “Sayang
kesian Anatasya,” ucap Vanessa. Dia sengaja mengantungkan ucapannya, dia
menunggu reaksi suaminya.
“Kenapa harus kesian?” tanya Nathan sambil mengelus rambut
istrinya. Nathan sangat menyukai sensasi lembut yang di rasakannya saat
membelai rambut Vanessa.
Vanessa mencoba
menceritakan permasalahan yang di hadapani Anatasya, dia merubah posisinya
menjadi duduk berhadapan. “Anatasya sedang hamil, pacarnya tidak mau tanggung
jawab. Sementara tuan Pasusanto meninginginkan Anatasya mengugurkan
kandungannya.”
“Itu urusan keluarga mereka, kita tidak berhak ikut campur,
sayang,” ucap Nathan tegas.
“Aku tidak ingin ikut campur masalah mereka, aku hanya ingin
membantu Anatasya. Setidaknya untuk sementara ini biarkan dia menenangkan diri
__ADS_1
dulu di rumah ini. Boleh yah?”
Nathan tidak setuju dengan permintaan Vanessa untuk
membiarkan Anatasya tinggal sementara di rumah ini. Dia tau betul sifat
Pasusanto sebagai Ayah Anatasya, yang tega membunuhnya demi membalaskan dendamnya
karena Nathan tidak sengaja menodai Anatasya. Apalagi masalah kali ini cukup
rumit, bisa-bisa Vanessa yang menjadi sasaran amukan Pasusanto selanjutnya.
“Tidak, Anatasya tidak boleh tinggal di sini.”
“Kamu kok gitu, harusnya kamu berterima kasih karena
Anatasya sudah memafkanmu,” ucap Vanessa membela nona Anatasya, dia tidak tega
jika membiarkan Anatasya sendirian di jalanan.
Nathan tidak terima dengan pendapat istrinya, “Kenapa aku
harus berterimakasih, bahkan Ayah Anatasya melakukan pembunuhan padaku.
sudah tidak bisa menahan emosinya, dia keluar dari kamar meninggalkan Vanessa
yang tampak terkejut karena sikapnya.
Mata Vanessa memanas, air bening mulai memenuhi kelopak
matanya. Hatinya sakit mendengar Nathan yang membentaknya, seharusnya dia tau
kalau suaminya tidak mudah melupakan sesuatu yang terjadi padanya.
Vanessa memilih merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur,
dia memeluk guling membenamkan wajahnya di sana. Tangisnya pecah, dadanya
sakit, bahkan hari ini mereka baru saja berbaikan tapi harus kembali bertengkar
__ADS_1
karena masalah sepele. Tangisnya mulai mereda, tetapi Nathan belum juga kembali
ke kamar. Dia menghapus airmatanya, dia kembali teingat tentang Anatasya yang sedang
tidur di kamar tamu yang berada tepat di sebelah kamarnya, “Apa Anatasya
mendengar ucapan Nathan?” pertanyaan itu muncul di benak Vanessa, dia berharap
Anatasya tidak mendengar ucapan Nathan.
Vanessa tidak mungkin mengusir Anatasya, biarkan malam ini
dia menginap di sini terlebih dahulu. Dia akan berbicara pada Nathan besok pagi,
kalau suaminya tidak mengijinkan Vanessa akan mencari cara lain untuk
menyelamatkan Anatasya dari Pasusanto.
***
Nathan berjalan ke ruang kerjanya, dia berdecak kesal. Istrinya
benar-benar tidak mengerti perasaanya, semua kejadian di masa lalu memang
berawal dari dirinya. Tetapi dia rasa balasan dari Ayah Anatasya cukup setimpal
baginya, bahkan terlalu berlebihan, “Harusnya aku waktu itu tidak perlu meminta
maaf pada Anatasya, jika dia ingin membuatku dan Vanessa kembali masuk ke
kandang harimau,” gerutu Nathan.
Nathan harus mencari cara agar Anatasya pergi dari rumahnya,
dia takut jika Pasusanto menemukan anaknya dan menjadikan Vanessa dan dirinya
sebagai sasaran kemarahannya. Apalagi Vanessa bilang Pasusanto ingin
mengugurkan bayi itu, Nathan penilain nya betul Pasusanto bahkan tidak segan
__ADS_1
membunuh bayi yang ada di kandungan anaknya. Pantas saja dirinya di bunuh
dengan begitu sadis oleh pria itu, Pasusanto sepertinya sudah tidak waras.