Cinta Nathan & Vanessa

Cinta Nathan & Vanessa
Bab 12 (Perasaan)


__ADS_3

Vanessa menutup pintu kamar Anatasya dengan perlahan, dia


berjalan ke kamarnya. Ternyata Nathan belum juga tidur, suaminya masih sibuk


dengan ponselnya.


“Kenapa sayang?” tanya Nathan saat melihat wajah istrinya


yang terlihat memikiran sesuatu.


Vanessa menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, “Sayang


kesian Anatasya,” ucap Vanessa. Dia sengaja mengantungkan ucapannya, dia


menunggu reaksi suaminya.


“Kenapa harus kesian?” tanya Nathan sambil mengelus rambut


istrinya. Nathan sangat menyukai sensasi lembut yang di rasakannya saat


membelai rambut Vanessa.


 Vanessa mencoba


menceritakan permasalahan yang di hadapani Anatasya, dia merubah posisinya


menjadi duduk berhadapan. “Anatasya sedang hamil, pacarnya tidak mau tanggung


jawab. Sementara tuan Pasusanto meninginginkan Anatasya mengugurkan


kandungannya.”


“Itu urusan keluarga mereka, kita tidak berhak ikut campur,


sayang,” ucap Nathan tegas.


“Aku tidak ingin ikut campur masalah mereka, aku hanya ingin


membantu Anatasya. Setidaknya untuk sementara ini biarkan dia menenangkan diri

__ADS_1


dulu di rumah ini. Boleh yah?”


Nathan tidak setuju dengan permintaan Vanessa untuk


membiarkan Anatasya tinggal sementara di rumah ini. Dia tau betul sifat


Pasusanto sebagai Ayah Anatasya, yang tega membunuhnya demi membalaskan dendamnya


karena Nathan tidak sengaja menodai Anatasya. Apalagi masalah kali ini cukup


rumit, bisa-bisa Vanessa yang menjadi sasaran amukan Pasusanto selanjutnya.


“Tidak, Anatasya tidak boleh tinggal di sini.”


“Kamu kok gitu, harusnya kamu berterima kasih karena


Anatasya sudah memafkanmu,” ucap Vanessa membela nona Anatasya, dia tidak tega


jika membiarkan Anatasya sendirian di jalanan.


Nathan tidak terima dengan pendapat istrinya, “Kenapa aku


harus berterimakasih, bahkan Ayah Anatasya melakukan pembunuhan padaku.


sudah tidak bisa menahan emosinya, dia keluar dari kamar meninggalkan Vanessa


yang tampak terkejut karena sikapnya.


Mata Vanessa memanas, air bening mulai memenuhi kelopak


matanya. Hatinya sakit mendengar Nathan yang membentaknya, seharusnya dia tau


kalau suaminya tidak mudah melupakan sesuatu yang terjadi padanya.


Vanessa memilih merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur,


dia memeluk guling membenamkan wajahnya di sana. Tangisnya pecah, dadanya


sakit, bahkan hari ini mereka baru saja berbaikan tapi harus kembali bertengkar

__ADS_1


karena masalah sepele. Tangisnya mulai mereda, tetapi Nathan belum juga kembali


ke kamar. Dia menghapus airmatanya, dia kembali teingat tentang Anatasya yang sedang


tidur di kamar tamu yang berada tepat di sebelah kamarnya, “Apa Anatasya


mendengar ucapan Nathan?” pertanyaan itu muncul di benak Vanessa, dia berharap


Anatasya tidak mendengar ucapan Nathan.


Vanessa tidak mungkin mengusir Anatasya, biarkan malam ini


dia menginap di sini terlebih dahulu. Dia akan berbicara pada Nathan besok pagi,


kalau suaminya tidak mengijinkan Vanessa akan mencari cara lain untuk


menyelamatkan Anatasya dari Pasusanto.


***


Nathan berjalan ke ruang kerjanya, dia berdecak kesal. Istrinya


benar-benar tidak mengerti perasaanya, semua kejadian di masa lalu memang


berawal dari dirinya. Tetapi dia rasa balasan dari Ayah Anatasya cukup setimpal


baginya, bahkan terlalu berlebihan, “Harusnya aku waktu itu tidak perlu meminta


maaf pada Anatasya, jika dia ingin membuatku dan Vanessa kembali masuk ke


kandang harimau,” gerutu Nathan.


Nathan harus mencari cara agar Anatasya pergi dari rumahnya,


dia takut jika Pasusanto menemukan anaknya dan menjadikan Vanessa dan dirinya


sebagai sasaran kemarahannya. Apalagi Vanessa bilang Pasusanto ingin


mengugurkan bayi itu, Nathan penilain nya betul Pasusanto bahkan tidak segan

__ADS_1


membunuh bayi yang ada di kandungan anaknya. Pantas saja dirinya di bunuh


dengan begitu sadis oleh pria itu, Pasusanto sepertinya sudah tidak waras.


__ADS_2