
Vanessa memilih duduk bersender pada bantal, dia menghela
nafas saat tenggorokannya terasa sakit. Dia sudah mencoba memakan satu suap
bubur yang di bawa oleh Nathan, namun Vanessa kesusahan menelannya. Entah kenapa
Vanessa merasa ada sesuatu yang buruk yang sebentar lagi akan menimpanya,
tetapi dia tidak tau apa hal buruk itu.
Melihat susu yang di ada di atas nakas, membuat senyumnya
mengembang. Nathan selalu memperhatikan keadaanya jika dia sakit, seperti
sekarang di atas nampan itu tidak hanya ada bubur, susu dan air putih. Ada buah-buahan
dan beberapa butir obat untuk menurunkan demamnya. Tapi Vanessa merasa tubuhnya
sudah tidak panas lagi, dia tidak perlu meminum obat demam yang di sediakan
Nathan.
Vanessa dengan susah payah meminum susu sampai habis,
meskipun tenggorokannya terasa sakit. Setelah susu nya habis, Vanessa menelan
ludahnya. Bahkan hanya menelan ludahnya sendiripun tenggorokannya terasa sakit.
Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya, Vanessa meraih ponselnya dan membuka
aplikasi geegle.
Dia mencoba menuliskan keluhan demam dan sakit tenggorokan.
Vanessa memperhatikan laju lingkaran yang terus berputar, matanya membulat
sempurna. Vanessa kembali menelan ludahnya dengan susah payah, dia memejamkan
matanya sejak. Berharap apa yang baru dia lihat adalah sebuah kesalahan,
Vanessa memberanikan diri untuk kembali membuka matanya. Membaca setiap huruf
__ADS_1
web hasil pencariannya.
Vanessa mencoba membuka salah satu web yang menunjukan
penyakit yang di alaminya adalah tanda-tanda terjangkit virus Covid-19. Dia mencoba
membaca dengan seksama isi web itu, di akhir kata web itu menyarankan untuk
segera melakukan tes swab.
Jantungnya berdetak lebih cepat, Vanessa berusaha bangkit
dan mengunci pintu kamar. Dia tidak ingin Nathan masuk ke kamar, Vanessa kembali
duduk dan membuka ponselnya. Dia mencari banyak info tentang virus Covid-19.
Setelah merasa cukup puas dengan pengetahuan yang ia
dapatkan, Vanessa memejamkan matanya untuk berpikir secara tenang. Dari informasi
yang dia dapat virus itu akan mudah menyebar melalui benda-benda, Vanessa
membuka matanya lebar-lebar.
kenapa waktu menerima paket dia tidak membersihkan paket itu dengan handsanitaizer.
Vanessa menggeleng lemah, dia sungguh sangat ketakutan, apalagi setelah
memegang paket itu Vanessa menangis dengan menutup mukanya menggunakan kedua
telapak tangannya, “Ya tuhan,” lirih Vanessa dengan air mata yang menetes
mengenai layar ponselnya.
Air mata Vanessa turun begitu deras, membasahi layar
ponselnya. Hatinya berdenyut, sakit sekali. Dia merasa bodoh karena lalai dalam
mengahadapi situasi seperti ini. Apalagi
dari informasi yang dia dapat, sudah banyak ribuan orang meninggal karena virus
__ADS_1
itu. Vanessa tidak ingin pergi dari dunia ini, masih banyak yang belum ia
tuntaskan. Dia ingin melihat Riko dan Ibu berdamai, sampai sekarang dia pun
masih belum tau alasan ibu pergi. “Ya tuhan jangan kau ambil nyawaku secepat
ini, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan keluargaku. Berikan aku
kesempatan untuk memberikan keturunan untuk suamiku agar dia bahagia,” ucap
Vanessa di sela tangisnya.
Vanessa memeluk lututnya dengan sangat erat, menelungkupkan
kepanya di atas lutunya untuk menumpahkan kesedihannya. Vanessa mengangkat
kepalanya mendengar seseorang berusaha membuka pintu kamar yang sengaja dia
kunci.
“Sayang.”
Mendengar panggilan Nathan, air matanya turun semakin deras.
Dia tidak tega memberi tau kondisi Vanessa yang sebenarnya, karena Vanessa sendiri
belum tau kebenarannya apa dia benar-benar terkena virus. “Sudah jelas,
informasi yang kamu dapat sudah menyatakan kamu terkena virus. Jangan biarkan
Nathan masuk, kalau kamu tidak ingin Nathan tertular,” batinnya.
“Kenapa kamarnya di kunci? Buka sayang!” ucap Nathan lembut
sambil mengetuk pintu dengan perlahan.
Tetapi Vanessa ingin memeluk Nathan, membenamkan wajahnya di
dada bidang suaminya. Dia membutuhkan Nathan, tetapi apa kata hatinya betul. Dia
tidak boleh egosi, jika dia terkena Virus dan membiarkan Nathan masuk, itu
__ADS_1
artinya Vanessa menginginkan Nathan terkena virus yang ada di tubuhnya.