Cinta Nathan & Vanessa

Cinta Nathan & Vanessa
Bab 41 (Para Jagoan)


__ADS_3

Nathan memperhatikan spion, ada mobil hitam yang terus mengikutinya, hatinya mulai tidak tenang.


“Ada apa, sayang?”


Mendengar pertanyaan Vanessa, Nathan mengalihkan perhatiannya. “Tidak ada, sayang,” jawab Nathan. Dia tidak ingin Vanessa ketakutan jika mengatakan ada yang membuntuti mereka setelah mobil keluar dari gerbang rumah.


Nathan memarkirkan mobilnya di basemen rumah sakit, dia menunggu mobil yang mengikutinya. Tetapi mobil itu sepertinya tidak ikut masuk, setidaknya Nathan merasa sedikit lega.


Nathan keluar lebih dulu membukakan pintu untuk Vanessa, membantu istrinya turun dari mobil.


Dengan pelan Vanessa dan Nathan berjalan menuju lift, mereka masuk bersamaan. Saat pintu akan tertutup sempurna seorang pria yang memakai hoodie menekan tombol dan ikut masuk.


Nathan tidak bisa melihat wajah pria itu, karena memakai masker seperti dirinya dan Vanessa. Nathan menarik Vanessa agar lebih mendekat padanya, dia harus waspada.


Nathan tidak ingin ceroboh untuk yang kedua kalinya dan membiarkan Vanessa dan ketiga malaikatnya berada dalam bahaya. Setelah surat terakhir yang di terima Nathan orang itu tidak pernah lagi mengganggu kehidupannya.


Tetapi Nathan merasa orang itu sedang menyusun sebuah rencana, dia sangat lihai menjalankan misinya bagaimana bisa Nathan tidak bisa menemukan petunjuk apa pun dari orang yang mengirim paket ke rumahnya.


Pria itu tidak memakai kendaraan sama sekali, dalam artian sepanjang dia mengirimkan paket itu selalu berjalan kaki. Nathan tidak bisa melacak keberadaan orang yang menginginkan kematian Vanessa.


Pintu lift terbuka, orang itu berjalan lebih dulu meninggalkan Nathan yang berjalan lebih pelan dengan Vanessa.


Nathan dan Vanessa masuk ke ruang pemeriksaan karena mereka sudah melakukan pendaftaran secara online.


“Selamat pagi Nyonya Vanessa, dan tuan Nathan,” sapa dokter cantik yang tersenyum di balik maskernya.

__ADS_1


“Pagi dok,” jawab Vanessa dan Nathan bersamaan.


“Apa ada keluhan?”


Vanessa menggelengkan kepalanya, “Tidak ada dok.”


“Baik, kalau begitu kita langsung pemeriksaan saja,” ucap Dokter dan berjalan menuju tempat usg.


Vanessa merebahkan tubuhnya dia atas tempat tidur, suster membuka baju Vanessa di bagian perutnya. Gel di atas perutnya terasa dingin saat dokter mengoleskannya.


Vanessa memperhatikan wajah Nathan yang melihat ke layar monitor usg, terlihat bahagia melihat pergerakan malaikat kecilnya.


“Berat nya cukup bagus, tidak terlalu kecil. Selalu di jaga asupan nutrisiny yah … coba kita lihat jenis kelaminnya yah, seharusnya sudah matang di usia 32 mingu ini.”


Dokter terus mencari posisi yang pas untuk melihat setiap kelamin janin yang ada di perut Vanessa. “Wah ketiga anaknya laki-laki semua,” ucap Dokter.


“Semuanya dok?” tanya Nathan dengan nada gembira.


“Iya tuan, semuanya laki-laki.”


Vanessa tersenyum gembira, ternyata yang ada di dalam perutnya seorang jagoan semua.


“Biasanya kalau laki-laki itu cenderung aktif yah, tapi ini janin yang satu kelihatannya lebih pendiam.” Dokter menunjuk layar usg.


“Tapi normal tidak dok?” tanya Vanessa.

__ADS_1


“Normal, berat badannya juga bagus … mulai dari sekarang harus di biasakan berjalan kaki yah, minimal 15 menit perhari.”


“Baik dok.”


***


Setelah pemeriksaan selesai Vanessa dan Nathan berjalan menuju pengambilan obat. Nathan membantu Vanessa untuk duduk, sambil menunggu antrean. Ekor mata Nathan melihat pria tadi yang masuk ke lift sekarang sedang berdiri tidak jauh darinya.


“Sial,” batin Nathan.


Nathan duduk di samping Vanessa dengan perasaan gelisah, dia melirik pada pria yang masih sibuk dengan ponselnya.


Setelah gilirannya di panggil Nathan dan Vanessa maju ke depan mengambil vitamin untuk Vanessa.


Nathan mencoba melirik ke tempat pria tadi, laki-laki dengan hoodie hitam itu sudah tidak ada di tempatnya. Nathan menimbang-nimbang kemungkinan terburuknya, “Apa pria itu menunggu kami di basemen?” pertanyaan itu muncul di benak Nathan.


“Tidak, aku tidak akan membiarkannya,” batin Nathan.


“Sayang aku haus, kita ke kantin dulu yah,” pinta Nathan.


“Ayo, aku juga haus.”


Nathan merasa lega karena Vanessa mau mengikuti keinginannya, semoga saja pria yang mengikuti mereka pergi.


Senyum sinis terukir di balik masker yang di kenakannya, pria yang memakai hoodie itu tersenyum melihat kepergian Nathan dan Vanessa.

__ADS_1


__ADS_2