Cinta Nathan & Vanessa

Cinta Nathan & Vanessa
Bab 33 (Kamu Harus Baik-baik Saja)


__ADS_3

Vanessa menitikan air matanya, dia merasa sendirian didalam


kamarnya. Rasa rindu akan pelukan hangat suaminya membuat hatinya terasa sakit.


Gorden jendela kamarnya sengaja tidak Vanessa tutup, dia


ingin melihat langit malam yang tampak cerah. Vanessa berharap semua


penderitaan ini akan berakhir, dia ingin menghabiskan waktu berdua bersama


Nathan seperti sebelumnya.


“Sayang aku merindukanmu,” lirih Vanessa.


Vanessa meringkuk di balik selimutnya, mencoba mencari


kehangatan dari selimut tebalnya. Tetapi tetap saja rasanya berbeda, dia


sungguh-sunggu merindukan dada bidang Nathan.


Sementara Nathan berdiri di depan pintu kamar Vanessa,


menatap penghalang dirinya dan Vanessa. Nathan menghela nafasnya, hatinya tidak


bisa berbohong bahwa kini Nathan sangat merindukan istrinya.


Rasa rindu itu semakin membuncah saat mengingat rengekan Vanessa


setiap dia menolak keinginan Nathan di atas ranjang dengan alasan bekerja. Bibir


cemberut Vanessa sungguh sangat menggoda, jika saja pintu itu bukan penghalang


Nathan ingin merasakan sensasi kenyal bibir istrinya.


Nathan merogoh ponselnya, mengetikan pesan untuk Vanessa, “Selamat


tidur sayangku.” Setelah memastikan pesannya terkirim Nathan kembali ke ruang


kerjanya.


Vanessa membuka matanya saat mendengar notifikasi pesan


masuk dari ponselnya.


Butiran bening Vanessa turun semakin deras, seolah butiran


bening  itu saling berkejaran. Vanessa


memeluk guling di sampingnya dengan sangat erat, membenamkan wajahnya. Mencoba menumpahkan


rasa sesak di dadanya, dia betul-betul membutuhkan Nathan di sampingnya,


pelukan Nathan bagaikan candu baginya.


***

__ADS_1


Pagi itu Vanessa bangun dari tidurnya, dia terkejut melihat


Koswara yang ada di kamarnya. Vanessa mengucek matanya, memastikan


penglihatannya.


“Kenapa matamu bengkak begitu?” tanya Koswara.


Vanessa tersenyum menutupi kesedihannya, “Ada apa?” tanya


Vanessa mencoba mengalihkan perhatian Koswara.


“Selama satu perdiode ini aku mendapat tugas, jadi kamu


tidak perlu datang ke duniaku,” ujar Koswara sambil memperhatikan wajah sembab


Vanessa.


“Oke, selamat bertugas.”


Vanessa melihat tingkah Koswara yang seperti


menimbang-nimbang ucapannya.


“Ada apa? Katakana saja jangan merasa sungkan,” ucap


Vanessa.


“Saat mendapat tugas, aku sempat bertanya tentang tugas yang


Vanessa menganggukan kepalany, “Lalu?”


“Kepala desa memberitahuku bahwa orang itu melakukan


sesembahan yang cukup banyak demi melancarkan aksinya, agar tugas itu di termia


oleh duniaku.”


“Sesembahan bagaimana?” tanya Vanessa.


“Kepala desa bilang, yang melakukan sesembahan itu seorang


pria. Dia melakukan sesemabahan menggunakan 10 kepala ekor sapi, dan 21 tetes


darahnya.”


Vanessa membulatkan matanya terkejut, “Apa dua puluh satu


tetes darah?”


Koswara menganggukan kepalanya, “Saya rasa dia bukan orang


sembarangan, apalagi berani melukai dirinya sendiri. Aku harap kamu bisa


menjaga diri dengan baik, karena saat melaksanakan tugas aku tidak bisa

__ADS_1


memantau keadaanmu. Tidak menutup kemungkinan orang itu melakukan berbagai cara


untuk kembali membunuhmu.”


Mendengar penjelasan Koswara hati Vanessa bergejolak, dia


mencoba menahan air matanya yang meronta ingin di lepaskan. Vanessa mengambil


kotak berwarna biru langit, “Dua hari yang lalu aku mendapat kiriman ini,” ucap


Vanessa sambil menunjukan boneka santet serta secarik kertas yang berisi


ancaman.


Koswara memperhatikan isi kotak itu lalu menatap Vanessa,


dia merasa ini alasan Vanessa menangis. “Kamu tidak perlu takut, itu tidak


berbahaya. Boneka itu kosong, kamu jaga diri baik-baik selama aku pergi.”


Tubuh Vanessa menegang saat Koswara memeluknya erat, entah


kenapa air mata Vanessa akhirnya tumpah. Dia membenamkan kepalanya di dada


Koswara, mencari tempat bersandar untuk masalah yang sedang dia hadapi.


Apalagi Koswara menyampaikan fakta baru yang di ketahuinya, air


matanya mengalir begitu deras. Vanessa bisa mengerti dari setiap ucapan


Koswara. Jika pria itu tidak segan melukai tubuhnya sendiri, kemungkinan besar


juga dia tidak akan takut melukai tubuh Vanessa.


Koswara menangkup pipi Vanessa dengan kedua tangannya, “Saat


aku kembali, kamu harus baik-baik saja!”


Vanessa memejamkan matanya saat Koswara mencium keningnya. Tetapi


tidak lama Koswara melepaskannya, “Aku yakin kamu bisa melawan pria itu.”


 ***


Selamat pagi semuanya


Semakin banyak misterinya, pusing gak?


Sini peluk author, kalian harus kuatkan diri untuk membaca


tiap bab yang akan author update. Karena sebentar lagi ada konflik besar yang


menanti kalian


Jangan lupa dukung author ya, lewat vote,  like, dan komentarnya

__ADS_1


Love u all, sampai ketemu besok


__ADS_2