
Vanessa menitikan air matanya, dia merasa sendirian didalam
kamarnya. Rasa rindu akan pelukan hangat suaminya membuat hatinya terasa sakit.
Gorden jendela kamarnya sengaja tidak Vanessa tutup, dia
ingin melihat langit malam yang tampak cerah. Vanessa berharap semua
penderitaan ini akan berakhir, dia ingin menghabiskan waktu berdua bersama
Nathan seperti sebelumnya.
“Sayang aku merindukanmu,” lirih Vanessa.
Vanessa meringkuk di balik selimutnya, mencoba mencari
kehangatan dari selimut tebalnya. Tetapi tetap saja rasanya berbeda, dia
sungguh-sunggu merindukan dada bidang Nathan.
Sementara Nathan berdiri di depan pintu kamar Vanessa,
menatap penghalang dirinya dan Vanessa. Nathan menghela nafasnya, hatinya tidak
bisa berbohong bahwa kini Nathan sangat merindukan istrinya.
Rasa rindu itu semakin membuncah saat mengingat rengekan Vanessa
setiap dia menolak keinginan Nathan di atas ranjang dengan alasan bekerja. Bibir
cemberut Vanessa sungguh sangat menggoda, jika saja pintu itu bukan penghalang
Nathan ingin merasakan sensasi kenyal bibir istrinya.
Nathan merogoh ponselnya, mengetikan pesan untuk Vanessa, “Selamat
tidur sayangku.” Setelah memastikan pesannya terkirim Nathan kembali ke ruang
kerjanya.
Vanessa membuka matanya saat mendengar notifikasi pesan
masuk dari ponselnya.
Butiran bening Vanessa turun semakin deras, seolah butiran
bening itu saling berkejaran. Vanessa
memeluk guling di sampingnya dengan sangat erat, membenamkan wajahnya. Mencoba menumpahkan
rasa sesak di dadanya, dia betul-betul membutuhkan Nathan di sampingnya,
pelukan Nathan bagaikan candu baginya.
***
__ADS_1
Pagi itu Vanessa bangun dari tidurnya, dia terkejut melihat
Koswara yang ada di kamarnya. Vanessa mengucek matanya, memastikan
penglihatannya.
“Kenapa matamu bengkak begitu?” tanya Koswara.
Vanessa tersenyum menutupi kesedihannya, “Ada apa?” tanya
Vanessa mencoba mengalihkan perhatian Koswara.
“Selama satu perdiode ini aku mendapat tugas, jadi kamu
tidak perlu datang ke duniaku,” ujar Koswara sambil memperhatikan wajah sembab
Vanessa.
“Oke, selamat bertugas.”
Vanessa melihat tingkah Koswara yang seperti
menimbang-nimbang ucapannya.
“Ada apa? Katakana saja jangan merasa sungkan,” ucap
Vanessa.
“Saat mendapat tugas, aku sempat bertanya tentang tugas yang
Vanessa menganggukan kepalany, “Lalu?”
“Kepala desa memberitahuku bahwa orang itu melakukan
sesembahan yang cukup banyak demi melancarkan aksinya, agar tugas itu di termia
oleh duniaku.”
“Sesembahan bagaimana?” tanya Vanessa.
“Kepala desa bilang, yang melakukan sesembahan itu seorang
pria. Dia melakukan sesemabahan menggunakan 10 kepala ekor sapi, dan 21 tetes
darahnya.”
Vanessa membulatkan matanya terkejut, “Apa dua puluh satu
tetes darah?”
Koswara menganggukan kepalanya, “Saya rasa dia bukan orang
sembarangan, apalagi berani melukai dirinya sendiri. Aku harap kamu bisa
menjaga diri dengan baik, karena saat melaksanakan tugas aku tidak bisa
__ADS_1
memantau keadaanmu. Tidak menutup kemungkinan orang itu melakukan berbagai cara
untuk kembali membunuhmu.”
Mendengar penjelasan Koswara hati Vanessa bergejolak, dia
mencoba menahan air matanya yang meronta ingin di lepaskan. Vanessa mengambil
kotak berwarna biru langit, “Dua hari yang lalu aku mendapat kiriman ini,” ucap
Vanessa sambil menunjukan boneka santet serta secarik kertas yang berisi
ancaman.
Koswara memperhatikan isi kotak itu lalu menatap Vanessa,
dia merasa ini alasan Vanessa menangis. “Kamu tidak perlu takut, itu tidak
berbahaya. Boneka itu kosong, kamu jaga diri baik-baik selama aku pergi.”
Tubuh Vanessa menegang saat Koswara memeluknya erat, entah
kenapa air mata Vanessa akhirnya tumpah. Dia membenamkan kepalanya di dada
Koswara, mencari tempat bersandar untuk masalah yang sedang dia hadapi.
Apalagi Koswara menyampaikan fakta baru yang di ketahuinya, air
matanya mengalir begitu deras. Vanessa bisa mengerti dari setiap ucapan
Koswara. Jika pria itu tidak segan melukai tubuhnya sendiri, kemungkinan besar
juga dia tidak akan takut melukai tubuh Vanessa.
Koswara menangkup pipi Vanessa dengan kedua tangannya, “Saat
aku kembali, kamu harus baik-baik saja!”
Vanessa memejamkan matanya saat Koswara mencium keningnya. Tetapi
tidak lama Koswara melepaskannya, “Aku yakin kamu bisa melawan pria itu.”
***
Selamat pagi semuanya
Semakin banyak misterinya, pusing gak?
Sini peluk author, kalian harus kuatkan diri untuk membaca
tiap bab yang akan author update. Karena sebentar lagi ada konflik besar yang
menanti kalian
Jangan lupa dukung author ya, lewat vote, like, dan komentarnya
__ADS_1
Love u all, sampai ketemu besok