Cinta Nathan & Vanessa

Cinta Nathan & Vanessa
Bab 6 (Dunia lain)


__ADS_3

Ternyata menikah tidak sesimpel yang dia pikirkan, setelah


kejadian pagi tadi dirinya dan Nathan melakukan perang dingin. Vanessa yang


kesal karena Nathan tidak menjaga makannya, sementara Nathan kesal karena


istrinya itu tidak meminta maaf masalah kemarin dan malah mendiamkannya.


Vanessa duduk di sofa tempat favoritnya di kamar, dia


membuka ponsel namun tidak ada yang membuatnya tertarik dengan ponsel itu. Di


liriknya Nathan malah duduk di atas tempat tidur sambil memangku laptop dan


beberapa berkas di sampingnya, “Kerja aja terus, akunya di cuekin.” Gumaman Vanessa


sebenarnya terdengar sampai telinga Nathan, tapi dia ingin menghukum istrinya


dulu.


Pergi ke dunia lain sepertinya lebih menyenangkan pikir


Vanessa, dari pada ada di dunia nyata suaminya malah sibuk sendiri, “Mencari


hiburan sedikit kali ya,” ucap Vanessa di dalam hatinya. Dia merilekskan


tubuhnya, memejamkan matanya. Mencoba fokus untuk masuk kedunia mahluk pelangi.


Membutuhkan waktu sepuluh menit untuk membuatnya rileks, sampai akhirnya dia


seperti terbang ke angkasa dan jatuh ke tanah dengan perlahan.


Vanessa membuka matanya, dia terbangun di sebuah rumah yang


tampak seperti rumah khas pedesaan yang terbuat dari anyaman bambu. Vanessa


melihat anyaman tikar yang tergelar di ruang tamu, di sana ada dua anak


laki-laki dan perempuan kecil, mereka anak mahluk pelangi itu. Vanessa mencoba

__ADS_1


mendekat dan menyapa mereka, “Hallo semuanya.”


Mereka tampak tersenyum tetapi tidak menanggapi ucapan


Vanessa, “Eh apa mereka tidak mengerti yah,” batin Vanessa. Vanessa mencoba


mendekati mereka dan duduk lesehan dengan ketiga anak itu yang sedang bermain.


Vanessa tidak tau mereka sedang bermain apa, Vanessa seperti


melihat mereka bermain congkak tetapi menggunakan kerikil. Vanessa hanya diam


memperhatikan, sampai lelaki kembar itu berbicara, “Aku udah mainnya bosen.”


“Yah, tapi kak Husein Caca masih mau main,” ucap perempuan


kecil dengan raut wajah sedih.


“Itu ka nada Hasan,” tunjuk anak lelaki bernama Husein pada


kembarannya.


nanti lagi mainnya yah. Yuk bang, kita main tanah,” ajak Hasan. Kakanya terlihat


tampak antusias dan mereka berlari keluar rumah meninggalkan caca yang tampak


murung.


“Gak usah sedih yah ka nada teteh, sini ajarin teteh cara


mainnya,” ucap Vanessa sambil mengambil kerikil kecil.


“Gak ah susah jelasinnya nanti teteh gak ngerti lagi,” tolak


Caca.


“Terus kita main apa dong?” tanya Vanessa.


Caca tampak berpikir lalu tersenyum saat menemukan ide, “Kita

__ADS_1


main boneka-bonekaan yu,” ajak Caca sambil menarik tangan Vanessa ke sebuah


ruangan. Sepertinya itu kamar, terdapat sebuah lemari dan kasur kapuk.


Vanessa memperhatikan Caca yang membuka lemari dan membawa


samping yang berbentuk sarung, “Eh kok bawa samping katanya mau main boneka?”


tanya Vanessa di dalam hatinya.


Caca tampak bersemangat menggelar samping itu di atas tempat


tidur, “Teteh sini bantuin bikin boneka,” pinta Caca.


Vanessa mengangguk dan menghampiri caca, “Gimana cara bikin


bonekanya?” tanya Vanessa.


“Gampang, teteh gulung ya atas, caca gulung yang bawah …


kaya gini,” ucap Caca sambil memperagakan cara menggulungnya.


Setelah di gulung Caca yang mengambil alih, Vanessa hanya


memperhatikan perempuan kecil itu yang tampak serius. “Tada jadi,” teriak Caca


dengan nada gembira.


“Wah bagus banget bonekanya,” puji Vanessa.


“Iya dong bagus, aku kan pinter bikin boneka kodok,” jawab


Caca bangga.


“Uuu pinter banget adiknya teteh,” ucap Vanessa sambil


mencubit pipi gembil Caca dengan pelan.


“Ayo main teh,” ajak Caca sambil membawa bonekanya keluar

__ADS_1


dari kamar.


__ADS_2