
Ternyata menikah tidak sesimpel yang dia pikirkan, setelah
kejadian pagi tadi dirinya dan Nathan melakukan perang dingin. Vanessa yang
kesal karena Nathan tidak menjaga makannya, sementara Nathan kesal karena
istrinya itu tidak meminta maaf masalah kemarin dan malah mendiamkannya.
Vanessa duduk di sofa tempat favoritnya di kamar, dia
membuka ponsel namun tidak ada yang membuatnya tertarik dengan ponsel itu. Di
liriknya Nathan malah duduk di atas tempat tidur sambil memangku laptop dan
beberapa berkas di sampingnya, “Kerja aja terus, akunya di cuekin.” Gumaman Vanessa
sebenarnya terdengar sampai telinga Nathan, tapi dia ingin menghukum istrinya
dulu.
Pergi ke dunia lain sepertinya lebih menyenangkan pikir
Vanessa, dari pada ada di dunia nyata suaminya malah sibuk sendiri, “Mencari
hiburan sedikit kali ya,” ucap Vanessa di dalam hatinya. Dia merilekskan
tubuhnya, memejamkan matanya. Mencoba fokus untuk masuk kedunia mahluk pelangi.
Membutuhkan waktu sepuluh menit untuk membuatnya rileks, sampai akhirnya dia
seperti terbang ke angkasa dan jatuh ke tanah dengan perlahan.
Vanessa membuka matanya, dia terbangun di sebuah rumah yang
tampak seperti rumah khas pedesaan yang terbuat dari anyaman bambu. Vanessa
melihat anyaman tikar yang tergelar di ruang tamu, di sana ada dua anak
laki-laki dan perempuan kecil, mereka anak mahluk pelangi itu. Vanessa mencoba
__ADS_1
mendekat dan menyapa mereka, “Hallo semuanya.”
Mereka tampak tersenyum tetapi tidak menanggapi ucapan
Vanessa, “Eh apa mereka tidak mengerti yah,” batin Vanessa. Vanessa mencoba
mendekati mereka dan duduk lesehan dengan ketiga anak itu yang sedang bermain.
Vanessa tidak tau mereka sedang bermain apa, Vanessa seperti
melihat mereka bermain congkak tetapi menggunakan kerikil. Vanessa hanya diam
memperhatikan, sampai lelaki kembar itu berbicara, “Aku udah mainnya bosen.”
“Yah, tapi kak Husein Caca masih mau main,” ucap perempuan
kecil dengan raut wajah sedih.
“Itu ka nada Hasan,” tunjuk anak lelaki bernama Husein pada
kembarannya.
nanti lagi mainnya yah. Yuk bang, kita main tanah,” ajak Hasan. Kakanya terlihat
tampak antusias dan mereka berlari keluar rumah meninggalkan caca yang tampak
murung.
“Gak usah sedih yah ka nada teteh, sini ajarin teteh cara
mainnya,” ucap Vanessa sambil mengambil kerikil kecil.
“Gak ah susah jelasinnya nanti teteh gak ngerti lagi,” tolak
Caca.
“Terus kita main apa dong?” tanya Vanessa.
Caca tampak berpikir lalu tersenyum saat menemukan ide, “Kita
__ADS_1
main boneka-bonekaan yu,” ajak Caca sambil menarik tangan Vanessa ke sebuah
ruangan. Sepertinya itu kamar, terdapat sebuah lemari dan kasur kapuk.
Vanessa memperhatikan Caca yang membuka lemari dan membawa
samping yang berbentuk sarung, “Eh kok bawa samping katanya mau main boneka?”
tanya Vanessa di dalam hatinya.
Caca tampak bersemangat menggelar samping itu di atas tempat
tidur, “Teteh sini bantuin bikin boneka,” pinta Caca.
Vanessa mengangguk dan menghampiri caca, “Gimana cara bikin
bonekanya?” tanya Vanessa.
“Gampang, teteh gulung ya atas, caca gulung yang bawah …
kaya gini,” ucap Caca sambil memperagakan cara menggulungnya.
Setelah di gulung Caca yang mengambil alih, Vanessa hanya
memperhatikan perempuan kecil itu yang tampak serius. “Tada jadi,” teriak Caca
dengan nada gembira.
“Wah bagus banget bonekanya,” puji Vanessa.
“Iya dong bagus, aku kan pinter bikin boneka kodok,” jawab
Caca bangga.
“Uuu pinter banget adiknya teteh,” ucap Vanessa sambil
mencubit pipi gembil Caca dengan pelan.
“Ayo main teh,” ajak Caca sambil membawa bonekanya keluar
__ADS_1
dari kamar.