Cinta Nathan & Vanessa

Cinta Nathan & Vanessa
Bab 47 (Sempit dan Gelap)


__ADS_3

Vanessa melihat Nathan di tengah kerumunan pria-pria bertubuh besar, rasa khawatir itu terus muncul melihat mereka satu persatu mendekati tubuh Nathan.


Vanessa menundukkan kepalanya dengan tangis yang terus mengalir membasahi pipinya. Dia tidak tahu harus berbuat apa, dia tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk menimpa suami dan dirinya.


Tapi di dalam keadaan seperti ini dia bisa apa. Bahkan kakinya saja terus bergetar.


Vanessa terkejut saat mendengar suara jendela mobilnya di ketuk. Jantungnya berdetak semakin kencang, dengan perlahan Vanessa menengok.


“Buka kak,” ucap Galih pelan, tapi Vanessa masih bisa mendengar suara Galih.


Vanessa diam dia ragu, ada rasa takut menyelimuti hatinya. Tapi Vanessa berusaha memberi kepercayaan kepada adik tirinya.


Vanessa membuka kunci mobil, dan membuka pintu dengan perlahan.


Dari gelagatnya Vanessa tahu Galih terlihat sangat waspada. Dia sangat berhati-hati dalam mengambil langkah.


“Ikut aku kak,” ucap Galih.


Meskipun kakinya gemetar Vanessa mencoba menenangkan dirinya dan mengikuti Galih.


Vanessa memperhatikan Galih yang membawanya ke dalam pemukiman padat penduduk.

__ADS_1


Jalanan yang mereka lewati cukup sepi. Sepanjang jalan itu Vanessa berjalan mengikuti Galih.


Lampu sepanjang perjalanan yang mereka lalu sangat temaram, membuat keadaan semakin terasa mencekam.


Kaki Vanessa terasa pegal, mereka memang tidak berlari tapi Galih mengajaknya berjalan cepat.


Vanessa mencoba mengatur nafasnya, pinggangnya terasa berat.


“Ka itu ada penjaga keamanan kita minta bantuan pada mereka,” ucap Galih antusias dengan menunjukkan dua pria yang memakai baju kemanan.


Vanessa merasakan angin yang sangat segar di tengah rasa panas di tubuhnya.


Vanessa menganggukkan kepalanya setuju. Baru satu langkah mereka berjalan Vanessa terkejut melihat Galih yang di pukul dari samping, tepat mengenai kepala Galih. oleh pria yang memakai penutup kepala, yang kini beralih menatapnya.


Baru saja Vanessa akan berteriak pria di depannya ini membekap mulut Vanessa dengan sapu tangan.


Kesadaran Vanessa hilang seketika setelah mencium obat bius yang menjalar ke hidungnya.


***


Nathan bisa bernafas lega setelah melihat Niko datang dengan membawa bala bantuan.

__ADS_1


Tubuhnya sudah lelah, bahkan sakit di beberapa bagian karena Nathan tidak bisa menghindar dari semua orang yang menyerangnya.


“Serang mereka,” perintah Niko dengan nada lantang.


Semu orang suruhan Niko berjalan ke arahnya, Nathan berlari menghampiri Niko lalu memeluk kakaknya.


“Makasih bang,” ucap Nathan. Lalu melepaskan pelukannya, dia merasa beruntung memiliki kembaran yang cekatan dalam segala hal.


“Vanessa mana?”


Nathan melirik ke mobil, dia terkejut karena tidak mendapati Vanessa di dalam mobilnya.


“Tadi dia ada di dalam mobil,” ucap Nathan sebelum berlari mendekati mobilnya. Namun benar Vanessa tidak ada di sana. Pintu tempatnya duduk sudah terbuka.


“Kita harus mencarinya,” ucap Niko sambil menepuk pundak Nathan.


Nathan menganggukkan kepalanya, lalu berjalan ke sekitar mencari keberadaan istrinya.


Tubuhnya memang lelah tapi keadaan Vanessa lebih penting dari nyawanya sendiri. Nathan berlari ke arah gang pemukiman warga, berharap Vanessa bersembunyi di sana.


Nathan terus berlari di gang semptit dan gelap itu. Hingga dadanya terasa sesak, dia kesulitan bernafas.

__ADS_1


Nathan menghentikan langkahnya, dia mengatur nafasnya. Di saat seperti ini dia tidak boleh sampai kehilangan kesadaran. karena Vanessa sedang membutuhkannya.


Nathan harus bisa melindungi istrinya, dia berjalan kembali dengan langkah tergesa. Karena dadanya sesak, dia tidak kuat untuk berlari.


__ADS_2