
Wajah pucat Vanessa tersenyum menyambut kedatangan Nathan.
Nathan membelai pipi Vanessa, “Kenapa kamu pucat begini, sayang?”
“Aku tadi tiba-tiba kram perut terus muntah,” jawab Vanessa dengan suara pelan.
Wajah semringah Nathan membuat Vanessa mengerucutkan bibirnya, dia kesal.
“Serius kamu mual?”
Vanessa diam, bagaimana bisa suaminya ini terlihat bahagia di atas penderitaannya.
“Iya,” jawab Vanessa dengan nada ketus.
Kini wajah Nathan terlihat penuh semangat, “Sebentar kamu tunggu sini.”
Vanessa memperhatikan Nathan yang keluar dari kamar. Lalu kembali lagi dengan paper bag di tangannya.
Nathan mengeluarkan sesuatu dari paper bag itu. “Kamu buang air kecil sana. Terus tampung di sini yah.”
Vanessa memberi tatapan kesalnya, “Aku itu lagi lemes begini malah kamu suruh-suruh seenaknya!”
Tanpa aba-aba Nathan menggendong Vanessa dengan gaya bridal style.
Menurunkan Vanessa di kamar mandi. “Masukan sini.”
Vanessa menyambar benda pelastik sebagai alat penampung seninya.
Setelah itu memberikannya pada Nathan.
Dengan sigap Nathan menerimanya laku berjalan keluar kamar mandi meninggalkan Vanessa yang masih mematung di tempatnya.
__ADS_1
“Nathaaaaaan!” teriak Vanessa, dia amat kesal dengan tingkah suaminya.
Nathan yang mendengar panggilan istirnya kembali berjalan menghampirinya Vanessa.
“Maaf aku lupa,” tutur Nathan.
“Kayaknya aku sudah tidak penting buat kamu,” jawab Vanessa sambil menundukkan kepalanya.
Nathan menggendong Vanessa, merebahkan tubuh istrinya di atas tempat tidur.
Sementara Nathan meraih paper bag, lalu mengeluarkan isinya.
Vanessa terkejut melihat isi paper bag itu adalah alat pendeteksi kehamilan dengan berbagai macam merek.
“Itu buat apa?” tanya Vanessa.
“Aku mau cek siapa tahu kamu hamil,” jawab Nathan sambil membuka salah satu tes kehamilan itu.
Vanessa terus memperhatikan Nathan dengan perasaan was-was. Antara berharap hasilnya positif, meskipun Vanessa ragu.
Nathan memandangi satu persatu tes kehamilan yang sudah bereaksi dan menunjukkan hasilnya.
Satu persatu tes kehamilan tersebut Nathan perhatikan, semuanya memiliki dua garis merah yang sama.
Nathan mencoba mengingat ucapan ibunya, “Positif hamil itu hasilnya ada dua garis.”
Tidak ingin gegabah Nathan mengambil salah satu kemasan yang sudah dia buka.
Lalu membaca petunjuk untuk hasil akhirnya.
Senyum mengembang di bibir Nathan membuat Vanessa ikut tersenyum bahagia.
__ADS_1
Nathan langsung memeluk tubuh Vanessa, “Sayang kamu hamil, terima kasih.”
Dengan lembut Nathan mengecup perut Vanessa. Membelainya dengan perlahan penuh dengan kasih sayang.
Buliran air mata Vanessa meluncur, melihat perhatian Nathan pada bagian perutnya.
Setelah puas dengan perut istrinya, Nathan menatap mata Vanessa.
Tatapan itu seolah saling mengunci, tidak ada satu pun yang bisa melepaskannya.
Di tengah air matanya, Vanessa mencoba tersenyum saat melihat wajah Nathan yang berubah menjadi terlihat gusar.
Vanessa mencoba mengalihkan perhatian suaminya. “Kamu kok bisa tahu cara memakainya?”
Nathan menanggapinya dengan senyuman, “Aku kan bilang mam aku sama Vanessa mau punya anak sebelas.”
Vanessa membulatkan matanya, mendengar ucapan Nathan.
“Terus kata mami, ya sudah buat saja kasih mami cucu yang banyak.”
“Mami bilang gitu?” tanya Vanessa.
Nathan menganggukkan kepalanya, “Iya, terus mami tanya, kamu kapan terakhir puasa.”
“Puasa apa?” Vanessa tidak mengerti maksud puas yang di ucapkan mami.
“Maksudnya puasa enggak pakai kamu. Terus aku jawab, sudah satu bulan ini pakai kok. Belum puasa, terus mami nyuruh aku beli alat tes kehamilan.” Nathan menceritakan obrolannya dengan mami.
“kamu kok tahu caranya?” tanya Vanessa. Apalagi melihat Nathan dengan santai tanpa membaca cara pakainya. Sementara Vanessa saja tidak tahu cara pakainya.
Nathan tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya, “Mami yang ngajarin aku cara pakainya. Kata mami kalau punya anak banyak harus siap siaga, harus perhatian sama istri dan anak,” ujar Nathan.
__ADS_1