
Setelah menutup telpon Vanessa membuka aplikasi untuk
belanja bahan pokok secara online. Vanessa berjalan ke dapur mencari asisten
rumah tangganya, ternyata bi Nani sedang membersihkan cucian bekas sarapan.
“Bi,” panggil Vanessa.
Nani yang mendengar majikannya memanggil langsung mencuci
tangannya dan berjalan menghampiri Vanessa yang duduk di meja makan. “Ada apa
non?” tanya Nani.
“Ini bibi pilih bahan makanan yang di perlukan, kita beli
secara online aja. Untuk menghindari kerumunan sesuai himbauan pemerintah,”
ucap Vanessa sambil mengarahkan ponselnya pada Nani.
Nani menerima ponsel Vanessa, “Semuanya online non? Tanya
Nani memastikan.
“Iya semua kebutuhan selama dua minggu saja,” jawab Vanessa.
Vanessa memperhatikan Nani yang terlihat serius memandangi ponsel, Nani ini
umurnya baru tiga puluh lima tahun. Masih tergolong muda, dan yang Vanessa
ketahui Nani ini seorang janda dengan tiga anak di kampung. Dia bekerja untuk
memenuhi kebutuhan anak-anaknya.
Vanessa asik memotong buah melon kesukaannya, namun
perhatiannya teralihkan saat bi Nani berbicara. “Non ini sudah,” ujar Nani.
Vanessa menerima ponselnya lalu melakukan pembayaran
menggunakan m-bangking.
“Non kok akun instagaram saya gak di follback?”
Vanessa membulatkan matanya, dia tidak percaya jika Nani
memiliki akun instagaram. “Loh bibi follow aku memangnya?”
__ADS_1
“Ih udah bibi follow terus di like juga foto-fotonya tapi
dak di follback sama non, bibi jadi sedih,” lirih Nani.
Vanessa mengulum senyumnya, pembantunya ini tidak
ketinggalan jaman sepertinya meskipun umurnya sudah tidak muda lagi. “Nanti aku
follback yah bi,” jawab Vanessa.
“Terus like juga yah non postingan bibi,” ujar Nina dengan
wajah gembira.
“Eh si bibi di kasih hati malah minta jantung,” sindir
Vanessa sambil tersenyum.
“Ya gak papa atuh non, satu foto aja gak papa bibi udah
seneng,” ucap Nina memohon.
“Oke-oke, tapi nanti bikini saya bolu kukus pelangi yah.”
Entah kenapa Vanessa teringat Rainbow cake yang Putri pamerkan padanya. Katanya
paling hasil maksa kaka ipar,” pikir Vanessa.
“Yang warna warni itu kan, mau warna apa aja non?”
“Terserah bibi aja,” jawab Vanessa sambil kembali memotong
melonnya yang belum selesai.
Terdengar suara bel rumah Vanessa berbunyi, “Non bibi liat
ke depan dulu yah,” ucap Nani berpamitan.
Vanessa menganggukan kepalanya dan mulai memasukan satu
potong melon miliknya. Tidak lama Nani kembali dengan sebuah kotak di tangannya,
“Itu apa bi?” tanya Vanessa.
“Ini ada paket buat nona katanya,” ucap Nani sambil
memberikan kotak berwarna biru langit di tangannya.
__ADS_1
“Dari siapa?” tanya Vanessa.
“Eh maaf non bibi lupa tanya,” lirih Nani merasa bersalah.
Vanessa membawa kotak dan piring buahnya, “Gak papa bi, aku
ke kamar dulu yah,” pamit Vanessa.
Nani bisa bernafas lega, karena majikannya kali ini tidak
suka marah-marah apalagi membentaknya seperti majikan lamanya.
Setelah sampai di kamar Vanessa duduk di sofa dan memandangi
paket dari seseorang yang tidak ada nama pengirimnya, lebih tepatnya asisten
rumah tangganya yang lupa bertanya. Kotak berbentuk persegi dengan pita di
atasnya benar-benar menarik perhatiannya. Vanessa penasaran dengan kotak yang
terlihat cerah dan lucu, perlahan Vanessa membuka kotak itu.
Alis Vanessa bertautan dia sedikit terkejut melihat isi
kotak itu. Dia diam sebentar sebelum memberanikan diri untuk mengambil isi
kotak itu. Tangan Vanessa bergetar memegang boneka santet yang di kirimkan
seseorang padanya, hatinya terasa sesak. Dengan kuat Vanessa menahan gejolak di
hatinya, ada yang lebih menarik perhatiannya. Dari dalam kotak itu ada secarik
kertas yang di lipat, Vanessa mengambil kertas itu dan membukanya.
“Kamu tidak pantas hidup,” ucap Vanessa membaca kertas itu,
jantungnya berdetak lebih cepat.
Dia melempar boneka dan kertas yang barusan di pengganya.
Hatinya sakit membaca pesan singkat dari pengirim boneka santet itu. Vanessa
menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia menangis sejadi-jadinya. Hatinya
sakit, dia tidak merasa mempunyai musuh. Tetapi kenapa ada seseorang yang
menginginkan kematiannya.
__ADS_1