
Pagi itu Nathan sarapan dengan diam, dia tidak menatap
Vanessa sedikitpun. Istrinya harus tau bahwa suami berhak memutuskan sesuatu,
dan sang istri cukup menuruti ucapan suami. Bukan tidak tau kalau Vanessa terus
meliriknya, tapi Nathan mencoba bersikap santai dan mengabaikan Vanessa. Nathan
tidak tertarik dengan Anatasya yang terlihat lemas saat memakan sarapannya, dia
tidak peduli dengan wanita itu. Yang terpenting baginya sekarang adalah
keselamatan Vanessa, dia harus bisa menendang jauh Anatasya dari rumahnya.
Setelah menyelesaikan sarapan Nathan kembali ke ruang
kerjanya, meating akan di mulai setengah jam lagi. Nathan sudah siap dengan
berkas yang ada di sampingnya, dia sudah masuk room untuk meating pertamanya di
saat pandemi seperti ini.
Hari ini adalah hari mulai berlakunya lockdown, pemerintah
sudah memberi himbauan untuk masayarakat agar tetap berada di rumahnya. Semua kegiatan
perusahan di hentikan, sebagai gantinya setiap pegawai tetap bekerja di rumah masing-masing
tanpa harus bertatap muka.
Virus yang sedang melanda negaranya ini sangat mudah
menular. Seseorang yang terkena Covid-19 ini akan mengalami bersin serta batuk,
lewat percikan air liur atau nafas seseorang Virus itu akan mudah berpindah
__ADS_1
dari satu tempat ke tempat yang lain. Pemerintah
juga menghimbau untuk masyarakat agar tidak bersentuhan dengan orang luar,
menjaga diri dengan meningkatkan kekebalan tubuh, selalu pakai masker jika terpaksa harus bertemu dengan orang lain dan
biasakan rutin mencuci tangan. Begitu secara singkat yang Nathan tau tentang
virus yang melanda negaranya, banyak informasi yang memenuhi beranda ponselnya
semalam mengenai virus covid-19.
Nathan mengalihkan perhatiannya dari ponsel karena mendengar
pintu ruang kerja nya terbuka. Nathan menaikan satu alisnya, melihat Vanessa
yang sudah rapi dengan pakaian kantornya berjalan ke arahnya. “Ada apa?” tanya
Nathan to the poin, dia sedang tidak ingin berbasa-basi.
seperti ini, pasti akan sulit mendapatkan tempat tinggal.”
Dugaannya tidak meleset, dia tau Vanessa menemuinya karena
ingin membahas persoalan tempat tinggal Anatasya. Nathan menatap istrinya
dengan tajam, “Kita sudah membahasnya semalam, dan aku tetap pada pendirianku.”
Vanessa masih ingat ucapan suaminya semalam, “Aku tidak
ingin Anatasya ada di rumah ini, suruh dia pergi. Aku tidak mau tau!” Vanessa menghela
nafasnya. “Setidaknya sampai lockdown ini berakhir,” Vanessa kembali
bernegosiasi. Karena semalam Nathan memunggunginya, saat di panggil pun suaminya
__ADS_1
itu tidak bergeming sama sekali.
“Tidak,” jawab Nathan tegas. “Keluar aku ada meating, jangan
mengangguku jika masih membahas wanita itu,” ketus Nathan.
Vanessa pasrah dia berjalan perlahan keluar dari ruangan Nathan,
tidak mudah meluluhkan hati Nathan jika pria itu sudah membuat keputusan.
Anatasya menunggu Vanessa di depan ruang kerja Nathan dengan
perasaan was-was. Melihat wajah Vanessa yang di tekut, dia sudah tau jawabannya
tetapi Anatasya mencoba memastikan, “Apa Nathan tidak memberi ijin?”
Vanessa menganggukan kepalanya, “Nona tidak usah khawatir,
lambat laun Nathan pasti akan mengerti. Aku tidak mungkin membiarkan nona
keluar dari rumah. Apalagi sekarang pemerintah sudah memberlakukan lockdown
pasti akan sulit mendapatkan tempat tinggal,” ucap Vanessa sambil menampakan
senyum terbaik miliknya.
“Maaf.” Hanya kata maaf yang bisa Anatasya keluarkan dari
mulutnya, karena kehadirannya sudah membuat ke kacauan rumah Vanessa.
“Tidak usah minta maaf, nona istirahat saja di kamar. Aku
harus mulai bekerja … sudah pukul delapan,” ucap Vanessa sambil melirik jam
tanggan yang melingkar di pergelangan tangannya.
__ADS_1