
Galih berusaha melepaskan pengikat tali di tubuhnya. Badannya terasa lecet karena Galih berusaha menarik turunkan badannya, agar tali tersebut melonggar.
Galih melihat makhluk hitam itu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi di atas perut Vanessa.
Galih teringat tentang korek api yang biasa dia bawa untuk merokok.
Dengan tergesa-gesa Galih merogoh saku celananya, mengeluarkan korek api dan mulai membakar satu tali yang berada di dekat tangannya.
Tidak butuh waktu lama Galih melepaskan semua ikatan dan berlari ke arah tempat pemujaan itu.
Galih merengkuh tubuh Vanessa, dan melompat keluar dari lingkaran pemujaan itu.
Galih tidak kuat menggendong tubuh Vanessa yang cukup berat baginya. Dia menurunkan tubuh Vanessa di tanah.
“Berani sekali kau!” teriak Agung dengan wajah memerah menahan amarah.
Makhluk tersebut tidak terima karena wanitanya di bawa keluar oleh pria itu.
Dia mengeluarkan kekuatannya, hanya cukup mengibaskan tangannya kini Agung terpental jauh.
Galih yang melihat itu membulatkan matanya sempurna. “Maha dahsyat sekali roh hitam itu,” gumam Galih.
Tubuhnya jatuh menabrak dinding pelindung yang di buat roh halus itu agar Agung tidak bisa pergi.
Agung memegang dadanya yang terasa sakit, dia mengepalkan tangannya dan mulai membaca mantra.
Galih merasakan tubuhnya tersengat listrik, lalu dia seperti berada di luar kendalinya.
Bola mata Galih berubah menjadi biru, senyum licik tergambar jelas di wajahnya.
__ADS_1
Galih merasakan seperti ada sesuatu yang mengendalikan tubuhnya.
Tiba-tiba tangannya merengkuh tubuh Vanessa, dan membawa kakaknya memasuki lingkaran pemujaan.
Galih berusaha menahan kakinya agar tidak bergerak, dia tidak ingin terjadi hal buruk yang menimpa Vanessa.
Roh hitam itu memberikan serangan kembali pada Agung, dia benar murka.
Dia merasa di permainkan, roh hitam mengeluarkan kekuatannya. Hanya dengan mengepalkan tangannya, Agung sudah berteriak kesakitan.
“Yang mulia sebentar, saya akan membawa wanita itu untuk anda,” ucap Agung.
Galih merasakan sesuatu yang menguasai dirinya telah hilang. Dia menatap Agung yang mulutnya mengeluarkan darah dan mengerang kesakitan.
Galih tidak ingin menghilangkan kesempatan, dengan susah payah Galih berusaha melangkah cepat dia berjalan menjauh.
Baru beberapa langkah Galih menghentikan langkahnya di pekikkan yang keluar dari mulutnya, “Aaaa.”
Ada sesuatu yang menancap di pahanya, benar-benar menyakitkan. Dengan perlahan Galih menurunkan tubuh Vanessa.
Tapi dia masih bisa melempar belati yang dia miliki hingga menancap di paha Agung.
Dari balik pepohonan Koswara berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada. “Bod*h!”
Wajahnya tampak tenang memandangi kerusuhan di depannya.
Galih mencoba menarik belati yang menancap di pahanya.
Giginya bergemeletuk menahan rasa sakit saat dia menarik belati tersebut.
Vanessa mengerjapkan matanya, langit cerah menyambut penglihatannya.
__ADS_1
Semuanya terasa gelap, hanya bau busuk sangat menyengat di indra penciumannya.
Vanessa terkejut melihat wajah Galih yang tampak pucat. Vanessa bangkit dan melihat paha Galih yang mengeluarkan darah segar.
“Pergi kak lari, sekarang!” ucap Galih dengan lirih. Dia sudah kehabisan tenaga untuk menahan rasa sakit di kakinya.
Vanessa mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti ucapan Galih.
“Pergi!” bentak Galih.
Vanessa berdiri, tubuhnya melihat Agung yang terlihat lemah dan mulutnya mengeluarkan darah.
Hatinya berkata agar membantu Agung, pria itu sudah pernah menolongnya. Mungkin ini saatnya Vanessa membalas budi.
“Tolong aku Vanessa,” ucap Agung lemah sambil memegang dadanya.
Baru satu langkah kaki Vanessa maju, tangannya di cekal Galih.
“Pergi kak,” ucap Galih dengan tegas.
“Ta-tapi Agung?”
“Pergi!”
Vanessa diam, dia kebingungan. Kondisi ini sangat menyulitkannya. Vanessa tidak tega melihat keadaan Agung.
Agung tersenyum senang di dalam hatinya, saat melihat Vanessa mendekat ke arah lingkaran pemujanya.
Kaki Vanessa melewati lilin yang padam, baru saja satu langkah bau busuk itu semakin kuat.
Sosok makhluk hitam berada tepat di depannya, Vanessa menahan nafasnya.
__ADS_1
Dari ekor matanya Vanessa bisa melihat senyum licik tergambar jelas di wajah Agung.
“Sialan,” batin Vanessa.