
Vanessa duduk dengan tidak semangat di depan laptopnya, jam
dinding sudah menunjukan pukul delapan lewat tiga puluh menit. Pikirannya
melayang pada kejadian semalam. Setelah memberikan servis seperti saran kaka
ipar, Vanessa memulai pembicaraanya mengenai Anatasya. Nathan yang sudah lelah
terlihat malas mendengar ucapannya, namun Vanessa mencoba merayu. Tetapi
rayuannya tidak berhasil, Nathan malah meninggalkannya di kamar dan suaminya
tidak kembali karena saat Vanessa bangun tidak ada Nathan di sampingnya.
Saat sarapan Nathan juga tidak ada di meja makan, Vanessa
berusaha menenangkan Anatasya bahwa semuanya baik-baik saja. Anatasya meminta
maaf dan akan pergi dari rumah itu, dia merasa tidak enak hati karena
kehadirannya jelas-jelas menganggu keharmonisan penghuni rumah. Vanessa mencoba
meyakinkan Anatasya, dan mencegah wanita yang sedang mengandung itu untuk tida
pergi dari rumahnya. Diluar sana terlalu berbahaya apalagi sekarang kotanya
terserang sebuah virus.
Vanessa tidak bisa membiarkan Nathan terus menjauhinya, dia
merindukan Nathan yang bersikap lembut padanya. Tetapi dia juga tidak bisa
membiarkan Anatasya dalam bahaya, dia merasa harus membalas kebaikan Anatasya
yang mau memaafkan Nathan agar ruh nya bisa kembali ke raganya. Sekarang
semuanya terasa serba salah, Vanessa jadi bingung dia tidak tau harus bersikap
bagaimana. Nathan memang menjelaskan alasan dirinya menolak Anatasya di
rumahnya, dia takut Pasusanto marah padanya. Padahal Vanessa yakin, suatu saat
tuan Pasusanto akan merasa bahagia melihat mahluk kecil yang keluar dari rahim
__ADS_1
Anatasya.
Vanessa megerang prustasi, dia memijat pelipisnya,
menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Enath kenapa tiba-tiba Vanessa
seperti tertarik ke dunia lain, dunia Koswara. Dia kembali berada di rumah gaya
pedesaan itu lagi, kali ini tidak ada anak-anak. Hanya ada Koswara yang sedang
menikmati secangkir minuman dengan umbi rebus.
“Kenapa wajahmu kusut seperti itu?” tanya Koswara.
Vanessa berjalan mendekati Koswara, dan duduk bersila di
samping pria itu. “Hariku buruk,” keluh Vanessa.
Koswara mangugut-mangut mengerti, “Kita bekeliling
sebentar,” ajak Koswara.
“Kemana?”
menghampiri Vanessa dan menjawab pertanyaan wanita itu.“Keliling desa, supaya
wajah lesu berubah menjadi takjup.”
“Memangnya ada apa di desa ini?” tanya Vanessa kembali.
“Sudah jangan banyak tanya, kamu ikut saja!” ujar Koswara
sambil berjalan keluar.
Vanessa bangkit dari duduknya dan mensejajarkan langkahnya
dengan Koswara. “Anak-anak ke mana?”
“Sedang berlatih bela diri,” jawab Koswara.
Vanessa memperhatikan deretan rumah yang memiliki bangunan
yang sama persis. “Rumahnya sama semua, gak ada yang beda. Kalau salah masuk
__ADS_1
rumah kan gak lucu,” Vanessa terkekeh membayangkan ucapannya absurdnya.
“Tidak mungkin,” jawab Koswara serius.
“Kalau kelelahan melaksanakan tugas kan bisa saja salah
masuk,” ujar Vanessa meyakinkan Koswara.
“Kami tinggal di sini bukan baru satu atau dua hari. Kami di
sini hampir puluhan tahun, dan semuanya tidak akan berubah,” ucap Koswara
menyangkal pendapat Vanessa.
“Masa tidak berubah, rumah bisa saja kayunya jadi keropos di
makan rayap.”
“Ini dunia kami, bukan dunia kamu … jelas berbeda,” tegas Koswara.
Vanessa tidak membalas ucapan Koswara, dia sedang tidak
ingin berdebat. Melihat Koswara yang tampak ramah pada setiao warga yang
berpapasan dengannya membuatnya penasaran. “Kamu terlihat kenal sama semua
penduduk di sini?”
“Ya jelas kenal,” jawab Koswara.
Sepertinya pria di sampingnya ini irit berbicara, Vanessa
tidak ingin bertanya lagi. Kini dia mempehatikan jalan setapak yang menanjak,
melihatnya saja sudah membuat Vanessa merasa kelelahan. Tetapi Koswara dengan
santainya mulai berjalan, “Harus lewat situ ya? … apa tidak ada jalan datar?”
tanya Vanessa.
“Tidak ada,” jawab Koswara singkat.
Vanessa mengerucutkan bibirnya, dengan pasrah berjalan
__ADS_1
mengikuti Koswara.