
“Karena suamimu membuat Anatasya kehilangan pria yang di
cintainya, Anatasya di campakan saat dia mengandung anak kekasihnya hanya
karena dia sudah kehilangan mahkotanya.”
“Dan itu semua terjadi karena Nathan!” pekik Agung.
“Kenapa kau menyalahkan Nathan, suamiku tidak sengaja
melakukannya. Bahkan dia hampir mati karena Pasusanto, apa kau belum puas hah?”
Agung menjambak rambut Vanessa, “Sebelum kamu mati aku tidak
akan pernah puas. Kalian tidak boleh merasakan kebahagian di atas penderitaan
yang di alami Anatasya.”
Vanessa menahan rasa sakit di kepalanya, dia berusaha
melepaskan jambakkan Agung. “Kau benar-benar gila Agung, lepaskan!”
Agung melepaskan jambakkannya namun kini dia mencekik leher
Vanessa dengan cukup kuat hingga urat-urat di tangannya tampak menonjol.
“Aku mencintainya, dan aku tidak suka melihat Anatasya
bersedih karena kalian!”
Koswara sudah berhasil melumpuhkan abdi Agung yang berada di tubuh Galih. Kini perhatiannya
kembali tertuju pada Vanessa yang sedang di cekik oleh Agung.
Koswara melemparkan belati yang dia temukan tidak jauh dari
tubuh Galih. Belati itu tepat sesuai sasaran, belati itu menancap di tangan
Agung yang sedang mencekik leher Vanessa.
Agung memekik kesakitan, dia menarik belati di tangannya dengan
sisa tenaganya Agung menancapkan belati tersebut pada perut Vanessa.
Vanessa memekik kesakitan, air matanya turun begitu saja
__ADS_1
melihat belati itu menancap di perutnya. Sakitnya masih bisa dia tahan, tapi
rasa takut kehilangan bayi di perutnya membuat hati Vanessa hancur.
“Sialan!” pekik Koswara. Dia mendekat pada Agung dan
Vanessa. Dengan satu kilatan putih nyawa Agung berhasil dia lenyapkan.
Pikirannya benar-benar kalut, Vanessa kehilangan kesadaran
akibat kebodohannya. Koswara mendekati tubuh Vanessa, di rebahkannya tubuh
Vanessa yang tidak sadarkan diri di atas tanah.
Tangan Koswara mengeluarkan cahaya putih yang benar-benar
menyilaukan mata, tangan itu Koswara arahkan pada perut Vanessa.
***
Nathan sudah berkeringat dingin, dia benar-benar gelisah. Titik
ponsel Galih sudah dekat, dia berharap bisa menemukan Vanessa sebelum semuanya
terlambat.
dalam hutan yang cukup lebat. Niko menggunakan ponselnya sebagai penerangan,
Nathan pun melakukan hal sama.
Nathan keluar dari mobil dan berlari menuju titik yang ada
di ponselnya, titik itu semakin dekat. Nathan menambahkan kecepatan langkahnya,
dia tidak ingin terlambat sedetik saja. Karena dari tadi hatinya benar-benar
resah.
Langkah Nathan terhenti melihat lapangan luas di depannya,
dia terkejut melihat tubuh Galih yang bersimpa darah.
“Nik urus Galih!” perintah Nathan.
Dia mencoba mengedarkan pandangan mencari sosok Vanessa,
__ADS_1
tubuh Nathan lemas melihat ada belati yang menancap di perut sang istri.
Nathan berlari mendekati tubuh Vanessa dan mendekapnya
dengan erat. Air matanya turun begitu saja melihat wajah Vanessa yang pucat,
dengan perut yang mengeluarkan darah yang cukup banyak.
Tangan Nathan gemetar dia membelai pipi Vanessa, di kecupnya
kening Vanessa dengan lembut berasamaan dengan air mata yang turun deras
membasahi pipinya.
Hati Nathan benar-benar hancur, dia benar-benar merasa tidak berguna karena
tidak bisa menjaga Vanessa.
Satu butir air mata Niko meluncur medengar isakan yang keluar
dari mulut adiknya. Nik menelpon ambulan serta polisi untuk menangani kasus
ini.
Nik mendekat pada Nathan dan adik iparnya. Dia meraih tangan
Vanessa untuk mengecek denyut nadinya, ada rasa lega menyelimuti hatinya saat
merasakan denyut nadi Vanessa.
“Vanessa masih hidup, cepat bawa ke mobil. Kita tidak bisa
membiarkannya terlalu lama.
Niko dan Nathan tidak bisa melihat Koswara yang tersenyum
gembira.
_-The End-_
***
Selamat malam semuanya
Bagaimana perasaan kalian?
__ADS_1
Jangan di hapus dari favorit dulu yah, karena author akan
berikan ekstra part sebelum semuanya benar-benar berakhir.