Cinta Nathan & Vanessa

Cinta Nathan & Vanessa
Bab 4 (Ibu)


__ADS_3

Setelah sampai di rumah ibu Vanessa turun dari mobil, Angle


terlihat senang melihat kedatangannya. “Kaka aku tungguin dari tadi,” ucap


Angle.


“Hehe maafya tadi ke supermarket dulu,” ucap Vanessa sambil


menunjukan kresek di tangannya.


“Kaka lagi dateng bulan?” tanya Angle memastikan.


Vanessa menganggukan kepalanya, “Iya kaka ikut ke kamar


mandi dong, mau mandi sebentar,” ucap Vanessa.


“Di kamar aku aja yu kak,” ucap Angle sambil menarik tangan


Vanessa untuk mengikutinya. Vanessa sudah cukup akrab dengan Angle, ternyata


ibu menikah dengan duda beranak dua. Anak pertama laki-laki seumurannya, tetapi


jarang ada di rumah soalnya sedang kuliah di luar negri. Vanessa hanya tau


wajahnya dari foto yang ada di rumah itu.


“Ayah,” sapa Vanessa. Saat melihat suami ibunya yang sedang


duduk di ruang tamu.


“Sudah datang ternyata, Nathan tidak ikut?” tanya Ayah


Angle.


“Tidak Ayah, kebetulan Nathan lembur sedang banyak


pekerjaan,” Jawab Vanessa.


“Resiko punya suami CEO ya gitu,” ujar Ayah sambil

__ADS_1


tersenyum.


“Hehe iya, Ayah aku permisi sebentar,” ucap Vanessa. Dia memang


tidak terlalu dekat dengan Ayah, tetapi Vanessa mencoba menghargai Ayah


sambungnya. Meskipun sampai sekarang ibu belum juga mengatakan alasannya


meninggalkan Papa, Riko dan dirinya, tapi Vanessa tidak ambil pusing mungkin


ibunya sedang mencari waktu yang tepat untuk bercerita padanya.


Ayah hanya menganggukan kepalanya, Vanessa berjalan ke kamar


Angle. “Ibu di mana?” tanya Vanessa.


“Paling Bunda lagi siap-siap kak,” jawab Angle.


Vanessa menganggukan kepalanya dan masuk ke kamar mandi yang


ada di kamar Angle. Setelah selesai mandi dengan cepat kilat Vanessa keluar


di wajahnya. Angle ini lebih muda darinya, umurnya baru 20 tahun dia masih


kuliah.


“Kamu udah cantik dari lahir, jadi gak usah pake make up tebel-tebel,”


saran Vanessa. Angle memang sudah cantik, halisnya rapi, bibirnya kecil,


memiliki hidung yang mancung dan berkulit putih, persis seperti Ayah.


Angle tersenyum, “Kaka juga cantik, mirip banget sama Bunda,”


ujar Angle.


Vanessa hanya tersenyum menanggapi ucapan adiknya, terdengar


suara ketukan pintu yang mengalihkan perhatiannya.

__ADS_1


Angle membuka pintu, terlihat ibu yang cantik dan terlihat


lebih muda dari umurnya jika menggunakan makeup. Vanessa jadi mengingat wajah


Riko saat di acara pemakaman dirinya, saat itu Riko terlihat cuek melihat ibu


dan aku yang memakai tubuh Angel. Ada rasa sedih jika teringat Riko, meskipun anak itu cuek tapi Vanessa tau kalau sebenarnya adiknya itu sedih dan tidak rela melihat ibu yang terlihat akrab dengan anak sambungnya, sementara Ayah tidak berbicara atau sekedar


menyapa ibu.


“Ayo sayang, sebentar lagi arisannya mau di mulai,” ajak ibu


pada kami.


Vanessa menganggukan kepalanya, dan berjalan beriringan dengan


Angle mengikuti ibu ke halaman belakang yang tampak ramai. Vanessa tersenyum


pada ibu-ibu yang sedanag duduk di sofa, terlihat ibu-ibu sosialita yang


memakai baju mahal dan aksesoris dengan merk terkenal dan bukan barang kw.


“Kenalin jeng, ini anak saya Vanessa,” ucap ibu.


Vanessa tersenyum ramah, dia merasa canggung, sebelumnya


memang dia tidak pernah ikut acara arisan. Meskipun mami suka mengajaknya tapi


Vanessa tidak pernah ikut, dia bersyukur punya suami yang nempel padanya karena


Nathan tidak suka di tinggal di rumah jika hari libur. Maka mami hanya bisa


mengalah karena tidak bisa membujuk Nathan untuk membiarkan Vanessa ikut ke acara


arisan.


Selama acara itu berlangsung Vanessa hanya tersenyum saja setiap


menanggapi ucapan teman-teman ibunya, atau sekedar mejawab pertanyaan yang di berikan padanya. Sementara Angle malah sibuk dengan ponselnya, rasanya dia ingin pulang saja beristirahat di rumah.

__ADS_1


__ADS_2