
Vanessa sudah selesai membereskan pekerjaan yang di minta
Niko dengan lebih cepat, dia tidak ingin menambag masalah Nathan. Perutnya terasa
melilit, Vanessa baru sadar bahwa dia belum sarapan padahal jam di kamarnya
sudah menunjukan pukul sebelas siang. Vanessa bangkit dan merentangkan
tangannya yang terasa pegal, karena hampir 4 jam dia duduk di depan komputer
tanpa bergerak sedikitpun. Ternyata pekerjaan yang di berikan Niko tidak
terlalu sulit hanya saja dia harus teliti merekap setiap biaya pengeluaran
perusahaan setiap cabang.
Dering ponselnya terdengar jelas, Vanessa melirik ponselnya.
Paggilan masuk dari Ibunya, Vanessa merapikan rambutnya sebelum mengangkat
telpon Ibunya yang menggukan fitur Viedo call.
Setlah menekan tombol hijau Vanessa memperhatikan ibunya
yang sedang bersama anak sambungnya. Galih anak pertama Ayahnya tirinya,
terlihat memakai hoodie hitam. Seolah memancarkan kegelapan, Vanessa hanya
tersenyum tipis tetapi wajah Galih terlihat datar. Bahkan Nathan saja kalah, “Kenapa
sih anak itu,” batin Vanessa.
“Hallo **** ini ada Galih, tiga hari yang lalu Galih pulang.
Tapi ibu baru sempat ngenalin teteh ke Galih sekarang,” ucap Ibu sambil
tersenyum pada Vanessa.
“Gak papa bu, Hai Galih,” sapa Vanessa.
Melihat Galih yang tersenyum tipis, membuat Vanessa ingin
mencakar wajah pria itu. Entah kenapa terlihat sangat menyebalkan, Vanessa
mencoba menenangkan dirinya.
__ADS_1
“Kamu sedang libur atau mengambil cuti?” tanya Vanessa
mencoba berbasa-basi dengan adik sambungnya.
“Hmmm,” Galih hanya menjawab dengan deheman.
“Galih gak boleh seperti itu, Vanessa anak Bunda juga kaka
kamu,” ucap Ibu dengan suara lembut.
Vanessa jadi merasa kasihan pada ibunya, karena galih
terlihat sangat acuh tidak mendengar ucapan ibunya. “Mungkin Galih sariawan bu,”
ujar Vanessa menyindir Galih yang irit dalam berbicara.
Vanessa hanya tersenyum tipis melihat tatapan tajam Galih, “Nanti
ku kirimkan obat sariawan supaya kamu bisa berbicara kembali,” ucap Vanessa
memancing kemarahan adiknya.
“Teteh ih, malah sama aja. Jangan gitu atuh,” ucap Ibu
“Iya maaf,” jawab Vanessa singkat.
“Ibu ke kamar mandi sebentar yah,” pamit ibu sambil
memberikan ponselnya pada Galih.
Vanessa menatap malas pada layar ponselnya yang menampilkan
wajah menyebalkan milik Galih. “Aku males basa-basi sama kamu,” ketus Vanessa.
Galih tidak tinggal diam, dia menyeringai menampilkan gigi
gingsul miliknya. “Siapa juga yang mau bicara sama situ.”
Vanessa menganga tidak percaya bahwa adik sambungnya itu
sangat menyebalkan. “Gak sopan kamu!”
“Emang kamu siapa? Cuma kaka sambung tapi belaga!”
Vanessa memutar bola matanya merasa jengah mendengar ucapan
__ADS_1
Galih. “Kamu juga Cuma adik sambung, belaga gayanya selangit,” jawab Vanessa,
dia tidak mau kalah.
“Jelas gue mah ganteng, lo ngaca deh biar tau wajah kriput
lo.”
Wajah Vanessa menahan amarah, adiknya ini benar-benar sangat
tidak sopan. Dia tidak suka di singgung mengenai keriput wajah, “Percuma
ganteng kalau masih jomlo,” balas Vanessa. Dia masih ingat ucapan Angel yang
mengatakan Galih terlalu cuek dan tidak ada wanita yang mengejarnya meskipun
terlihat tampan.
“Percuma tua kalau gak bisa hasilin anak!”
Vanessa menarik nafas dalam-dalam, dirinya sudah berada di
titik emosinya yang tidak tertahan. Dia ingin mencabik-cabik wajah belaga adik
sambungnya. Apalagi Galih tersenyum penuh kemenangan, karena berhasil membuat
kaka sambungnya tersinggung dengan ucapannya.
“Denger yah! Lo anak kecil, gue masih muda. Umur gue baru
dua puluh lima. Lo catet!” Vanesa mendekatkan wajahnya ke kamera ponselnya. “Lo
liat baik-baik, gue gak keriput sama sekali. Kecuali mata lo buta!”
***
Bocah tengil berani ngajak ribut tokoh utama aku
Oh iya author mau kasih visual berbeda di season kedua ini,
apa ada masukan silahkan tokoh siapa yang kalian pilih untuk Nathan dan
Vanessa, tulis di kolom komentar yah.
Love u all, jangan lupa vote, like dan komentarnya.
__ADS_1