
Terima kasih buat kalian yang udah support aku. Maafin aku udah buat kalian nunggu lama, mudah-mudahan kalian suka yah.
Aku up 1 bab yah, nanti malam 1 bab.
Selamat membaca ❤️
***
Vanessa dan Nathan sedang menikmati secangkir teh di gazebo.
Langit yang indah, terlihat cerah dengan taburan bintang yang memancarkan cahaya untuk memberikan bantuan pada bulan agar bisa menerangi bumi.
Angin malam yang berembus cukup kencang membuat Vanessa merapatkan pelukannya pada Nathan.
Nathan menatap mata istrinya yang terlihat bahagia. “Aku tidak bisa melihat matamu menangis seperti kemarin. Apalagi aku tidak bisa berbuat apa-apa”
Vanessa mendongakkan wajahnya, menatap mata Nathan. “Aku selalu membutuhkan mu di setiap langkahku. Aku merasa sendirian kemarin.”
Nathan mengecup bibir Vanessa, “Anginnya mulai kencang, lebih baik kita masuk.”
Vanessa bangkit dari duduknya, bersamaan dengan Nathan. Mereka berjalan masuk ke rumah. Menuju kamar mereka.
Nathan menarik Vanessa kembali ke dalam pelukannya. “Sepertinya aku harus ekstra hati-hati, dalam menjagamu, sayang,” ucap Nathan lembut sambil membelai pipi Vanessa yang tampak bersemu merah.
__ADS_1
“Aku tidak ingin berada dalam ketakutan ini. Aku percaya dari dulu sampai sekarang, kalau kamu bisa menjagaku. Dan kesebelas anak yang kamu mau,” senyum lebar Vanessa menampakkan deretan gigi putihnya.
“Jadi kamu mau?” tanya Nathan dengan penuh semangat.
Vanessa mengangguk kecil, “Iya aku mau.”
Nathan memeluk Vanessa erat, dengan senyum mengembang di dalam wajah tampannya.
“Terima kasih, istriku.” Hanya itu yang mampu Nathan ucapkan di tengah rasa gembiranya.
Malam itu menjadi malam panas untuk peraduan mereka. Malam yang tidak pernah mereka lalui dengan rasa gembira pada diri masing-masing.
Nathan merasa senang karena kekhawatirannya selama hampir dua ini terbayar sudah, dengan Vanessa yang di nyatakan bebas dari virus.
Sementara Vanessa merindukan pelukan hangat dari Nathan. Pelukan yang candu baginya, tidak bisa memeluk Nathan membuat Vanessa merindukan aroma tubuh Nathan yang maskulin.
***
Sinar mentari menyelinap pada celah jendela kaca. Vanessa membuka matanya. Mengedarkan pandangannya, mencari Nathan.
Tapi ternyata Nathan tidak ada, Vanessa melirik jam dinding kamarnya.
Pantas Nathan tidak ada, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh siang. Dan Vanessa masih nyaman di balik selimut dengan tubuh polosnya.
__ADS_1
Bibirnya tersenyum, rasa bahagia itu menggelitik perasaannya. Bagaimana malam panas semalam itu terasa berbeda dari biasanya.
Vanessa bangkit dari tempat tidur, mengutip baju yang masih berserakan di lantai. Memasukkannya pada kerjang cucian.
Ada sesuatu yang menggelitik rasa keingintahuannya. Dari dalam celana Nathan terdapat kertas yang di lipat.
Vanessa mengambilnya dengan tangan gemetar. Membuka isi tulisan di kertas, matanya membulat sempurna setelah membaca isinya.
‘KALI INI ISTRIMU BISA LOLOS, TAPI LAIN KALI AKU AKAN PASTIKAN DIA ADA DALAM GENGGAMANKU. MEMBUNUHNYA DENGAN PERLAHAN DAN MENYAKITKAN.’
Air mata Vanessa turun begitu saja setelah membaca rentetan kalimat yang tertera di kertas itu.
Tubuh polosnya ambruk ke lantai, Vanessa menangis dengan tergugu. Tidak ada suara isak tangis yang keluar dari mulutnya.
Baru saja dia merasakan hatinya gembira dan bahagia. Namun pagi ini hancur begitu saja karena tulisan yang kini Vanessa remas dengan sekuat tenaga.
Vanessa membuang kertas kecil itu. Dia memilih masuk ke dalam kamar mandi. Mencoba menenangkan diri dengan air hangat.
Jika Nathan menyimpan kertas itu, pasti Nathan sudah membacanya terlebih dahulu.
Apa ini alasannya Nathan harus ekstra hati-hati dalam menjaga diri Vanessa.
__ADS_1