
“Sayang butuh bantuan enggak?” tanya Nathan. Dia merasa bosan melihat Vanessa yang kesana kemari layaknya setrikaan berjalan.
“Gak perlu.”
“Aku bisa masak ko,” ucap Nathan meyakinkan istrinya.
“Bisa masak apaan orang tadi aja tahu gorengnya sampe gosong,” ketus Vanessa.
“Ya abisnya kamu cantik banget, enak aja liat wajah kamu. Jadi lupa balik tahunya deh.”
“Alesan, pake puji-puji aku cantik segala. Kamunya aja gak niat bantuin aku, masa ngulek aja kayak mau perang dunia ketiga, halus engga berpencar iyah.”
Vanessa memperhatikan Nathan yang terlihat senang mendengar omelan Vanessa. “Kamu tuh yah aku lagi ngomong malah senyum-senyum.”
“Aku tuh seneng kamu ngomel-ngomel gitu, jadi makin cantik kelihatannya.”
Mendengar gombalan receh Nathan rasanya Vanessa ingin melemparkan spatula yang sedang di pegangnya.
***
Satu jam berlalu Vanessa sudah menata makananya di gazebo belakang. Mereka duduk berdua saling berhadapan.
Vanessa jadi teringat kejadian tadi pagi, “Tadi Koswara nyamperin aku.”
Nathan yang akan menyendok nasi pun di tundanya seketika, saat mendengar ucapan istinya. “Koswara siapa?”
__ADS_1
“Itu loh makhluk yang mau bunuh aku.”
“Kamu bisa liat dia?”
Vanessa menganggukan kepalanya dan memasukan satu potong tahu ke dalam mulutnya. “Terus dia nemuin kamu mau ngapain?”
“Ngasih tau aku, buat lebih hati-hati. Soalnya dia baru tau kalau orang yang mau bunuh aku itu semacam orang sikopat, atau gangguan mental.”
“Tahu dari mana?” Nathan menunda acara makannya, dia tertarik mendengar cerita istrinya.
“Jadi katanya orang itu tumbalin sepuluh ekor kepala sapi dan dua puluh satu tetes darahnya sendiri.” Nathan diam mencoba meresapi kata-kata Vanessa.
“Terus aku tanya ke Ayu, soal boneka santet yang aku dapet.”
“Ayu sodara kamu yang bantu kamu yah?”
Nathan terdiam sebentar lalu angkat bicara. “Kayanya itu dia udah kasih tanda, kalau dia masih pengen liat kamu mati.”
Vanessa mengambilkan nasi putih untuk Nathan, “Kayanya iya, soalnya Koswara juga ngingetin aku buat jaga diri baik-baik. Soalnya dia gak bisa ngawasin aku.”
Dengan santai Vanessa menyimpan nasi untuk Nathan, namun saat pandangannya bertemu Vanessa melihat kilatan amarah dari mata Nathan.
“Aduh salah ngomong,” ucap Vanessa di dalam hatinya.”
Nathan mengambil semua lauk pauk masakan istrinya. “Kamu gak usah ketemu lagi sama si Koswara!” ketus Nathan.
__ADS_1
Nahkan keluar posesifnya, selamat bertanggung jawab Vanessa.
“Koswara nyamperin aku Cuma buat ngasih tau info siapa yang nyuruh dia buat bunuh aku.”
“Emang Koswara tau siapa yang mau bunuh kamu?”
“Koswara gak tau juga.”
“Udah gak usah bahas Koswara lagi, nanti nafsu makan ku hilang lagi.”
Vanessa tersenyum tipis, “Itu mah kamu cemburu,” tuduh Vanessa.
“Siapa yang cemburu, aku gak cemburu tuh,” elak Nathan.
“Cemburu itu tanda orang tidak mampu.”
“Eh aku mah sultan yah, bukan orang gak mampu.” Jawab Nathan dengan nada bangga.
“Mulut orang yang sombong mah patut di cabein, nih aku kasih sambel biar mulut kamu tambah seksi.”
Nathan terkejut saat Vanessa menumpahkan satu sendok makan sambel di atas piringnya.
“Nanti aku sakit perut kamu tanggung jawab loh sayang.”
Vanessa menatap Nathan kesal, lalu mengambil piring untuk memindahkan sambel yang ada di piring Nathan.
__ADS_1
“Kamu pernah berfikir gak, kalau di balik semua ini tuh dalangnya Passusanto dan Anatasya?” tanya Nathan.
“Aku gak tau yah, gak mau asal nuduh juga.”