Cinta Nathan & Vanessa

Cinta Nathan & Vanessa
Bab 16 (Mulut Gua)


__ADS_3

Vanessa menyeka keringat yang membasahi dahinya, nafasnya


ngos-ngosan. Sudah lama dia tidak pernah berjalan kaki, apalagi jalan setapak


yang barusan ia lewati begitu terjal dan menanjak. Bahkan beberapa kali dia


berhenti dan berkeluh kesah pada Koswara, tetapi lelaki itu tampak acuh dan


fokus pada jalan di depannya.


Vanessa mengerucutkan bibirnya melihat Koswara yang sedang melihatnya


dengan penuh rasa mengejek.


“Lemah kamu,” sindir Koswara.


Vanessa menatap jalanan yang baru saja dia lewati, “Kamu


liat sendiri jalannya begitu jelas-jelas aku kelelahan,” ujar Vanessa.


“Ada minum gak haus nih?” tanya Vanessa sambil mengusap


tenggorokannya yang terasa kering.


“Ada …  di rumah,”


Jawab Koswara dengan nada tenang.


Vanessa mengendus, “Tidak usah bilang ada kalau di rumah,”


ketus Vanessa. Kini perhatiannya tertarik pada rumah yang tampak jelas terlihat


dari atas, rasa penasarannya muncul Vanessa menghitung atap rumah di bawah


sana, “Cuma ada dua puluh satu rumah,” ujar Vanessa.


“Iya hanya dua puluh satu, sudah termasuk rumah kepala desa.”


Jawab Koswara, pria itu ikut memandangi rumah di bawah sana. Ada perasaan sedih


menyelimuti hatinya, jika sudah bertugas istrinya akan selalu menyambutnya


dengan penuh tatapan rindu.


Pemandangan sore itu tampak indah, matahari hampir terbenam


di upuk barat yang memancarkan warna orange. Perhatiannya  beralih pada bukit yang tidak jauh dari


pemukiman, tampak ada dua mulut gua di sana. Yang satu terlihat sepi, sementara

__ADS_1


yang berada di sisi kanan tampak ada beberapa orang membawa sesuatu. “Mereka


sedang apa di mulut gua itu?” tanya Vanessa. Dia tidak bisa menahan rasa


penasarannya, apalagi terlihat ada dua pasangan yang mengantri di sana.


“Sedang meminta keturunan,” jawab Koswara.


“Keturunan? Maksudnya anak,” tanya Vanessa mencoba


memastikan.


Koswara menganggukan kepalanya, “Iya anak.”


Vanessa mengrenyitkan dahinya merasa ke bingungan, “Aku


masih tidak mengerti,” ungkap Vanessa.


“Dulu semua kepala keluarga hanya memiliki seorang istri di


rumahnya, mereka meninggalkan sang istri untuk pergi bertugas. Sementara tugas


istri hanya diam di rumah, mereka mulai bosan dan meminta pada kepala desa


untuk memberikan mereka anak.”


penasarannya belum tertuntaskan, “Lalu?”


“Setelah itu kepala desa melakukan sesembahan, lewat


mimpinya dia di suruh untuk datang ke gua itu dengan beberapa makanan hasil


perkebunan. Menunggu di sana dan melakukan ritual setiap hari namun dia selalu


pulang dengan perasaan sedih karena tidak mendapatkan jawaban dari masalah yang


menimpa warganya, kepala desa tidak putus semangat dia teteap melakukan ritual


di sana.”


Vanessa memperhatikan Koswara yang tampak diam seperti


sedang berpikir, “Kenapa?”


Koswara menoleh pada Vanessa, lalu tersenyum ke pada wanita


itu. “Kepala desa mulai putus asa, dia bertekad itu adalah hari terakhirnya


mengunjungi gua itu. Bahkan dia datang lebih awal, sebelum matahari terbit.  Saat itu langit berubah gelap, menandakan

__ADS_1


malam akan tiba. Tubuh kepala desa lesu, di hari terakhirnya dia tidak


mendapatkan jawaban apapun setelah satu bulan melakukan ritual di sana.”


Koswara menghentikan ceritanya karena kakinya terasa pegal, dia duduk di atas


rumput tempatnya berdiri barusan.


Vanessa mengikuti Koswara yang duduk di sampingnya, dia


masih merasa penasaran dengan kisah kepala desa yang di ceritakan Koswara.


Koswara kembali bercerita, “Baru satu langkah kepala desa


mendengar suara teriakan anak kecil dari dalam gua itu. Kepala desa menoleh,


melihat anak kecil yang terlihat cantik berlari ke arahnya. Mereka berpelukan,


kepala desa merasa lega karena anak kecil itu memanggilnya dengan sebutan


bapak, itu artinya anak kecil itu adalah anak yang di anugerahkan kepadanya. Lalu


semua orang berbondong-bondong pergi ke sana melakukan ritual untuk mendapatkan


seorang anak.” Koswara mengakhiri ceritanya dia melihat Vanessa yang tampak


kebingungan di sampingnya, “Kenapa?”


“Gak papa, aneh aja. Masa mau punya anak melakukan ritual di


gua, bukannya melakukan itu nanti hamil lalu melahirkan?”


“Ini duniaku, jelas berbeda dengan dunia mu,” ketus Koswara.


Dia merasa Vanessa tidak mempercai ceritanya.


“Kamu juga sama melakukan ritual di sana lalu mendapatkan


Hasan, Husein dan Cica?”


Koswara menganggukan kepalanya sebagai jawaban.


Sebenarnya dunia Koswara ini tidak masuk akal bagi Vanessa,


bagaimana mulut gua bisa memberikan anak kepada warga di sini. Namun perhatiannya


kembali teingat kedua anak pria di sampingnya, “Kasihan anak-anakmu tumbuh


dewasa tanpa kasih sayang seorang ibu,” tutur Vanessa.

__ADS_1


__ADS_2