
Vanessa menyeka keringat yang membasahi dahinya, nafasnya
ngos-ngosan. Sudah lama dia tidak pernah berjalan kaki, apalagi jalan setapak
yang barusan ia lewati begitu terjal dan menanjak. Bahkan beberapa kali dia
berhenti dan berkeluh kesah pada Koswara, tetapi lelaki itu tampak acuh dan
fokus pada jalan di depannya.
Vanessa mengerucutkan bibirnya melihat Koswara yang sedang melihatnya
dengan penuh rasa mengejek.
“Lemah kamu,” sindir Koswara.
Vanessa menatap jalanan yang baru saja dia lewati, “Kamu
liat sendiri jalannya begitu jelas-jelas aku kelelahan,” ujar Vanessa.
“Ada minum gak haus nih?” tanya Vanessa sambil mengusap
tenggorokannya yang terasa kering.
“Ada … di rumah,”
Jawab Koswara dengan nada tenang.
Vanessa mengendus, “Tidak usah bilang ada kalau di rumah,”
ketus Vanessa. Kini perhatiannya tertarik pada rumah yang tampak jelas terlihat
dari atas, rasa penasarannya muncul Vanessa menghitung atap rumah di bawah
sana, “Cuma ada dua puluh satu rumah,” ujar Vanessa.
“Iya hanya dua puluh satu, sudah termasuk rumah kepala desa.”
Jawab Koswara, pria itu ikut memandangi rumah di bawah sana. Ada perasaan sedih
menyelimuti hatinya, jika sudah bertugas istrinya akan selalu menyambutnya
dengan penuh tatapan rindu.
Pemandangan sore itu tampak indah, matahari hampir terbenam
di upuk barat yang memancarkan warna orange. Perhatiannya beralih pada bukit yang tidak jauh dari
pemukiman, tampak ada dua mulut gua di sana. Yang satu terlihat sepi, sementara
__ADS_1
yang berada di sisi kanan tampak ada beberapa orang membawa sesuatu. “Mereka
sedang apa di mulut gua itu?” tanya Vanessa. Dia tidak bisa menahan rasa
penasarannya, apalagi terlihat ada dua pasangan yang mengantri di sana.
“Sedang meminta keturunan,” jawab Koswara.
“Keturunan? Maksudnya anak,” tanya Vanessa mencoba
memastikan.
Koswara menganggukan kepalanya, “Iya anak.”
Vanessa mengrenyitkan dahinya merasa ke bingungan, “Aku
masih tidak mengerti,” ungkap Vanessa.
“Dulu semua kepala keluarga hanya memiliki seorang istri di
rumahnya, mereka meninggalkan sang istri untuk pergi bertugas. Sementara tugas
istri hanya diam di rumah, mereka mulai bosan dan meminta pada kepala desa
untuk memberikan mereka anak.”
penasarannya belum tertuntaskan, “Lalu?”
“Setelah itu kepala desa melakukan sesembahan, lewat
mimpinya dia di suruh untuk datang ke gua itu dengan beberapa makanan hasil
perkebunan. Menunggu di sana dan melakukan ritual setiap hari namun dia selalu
pulang dengan perasaan sedih karena tidak mendapatkan jawaban dari masalah yang
menimpa warganya, kepala desa tidak putus semangat dia teteap melakukan ritual
di sana.”
Vanessa memperhatikan Koswara yang tampak diam seperti
sedang berpikir, “Kenapa?”
Koswara menoleh pada Vanessa, lalu tersenyum ke pada wanita
itu. “Kepala desa mulai putus asa, dia bertekad itu adalah hari terakhirnya
mengunjungi gua itu. Bahkan dia datang lebih awal, sebelum matahari terbit. Saat itu langit berubah gelap, menandakan
__ADS_1
malam akan tiba. Tubuh kepala desa lesu, di hari terakhirnya dia tidak
mendapatkan jawaban apapun setelah satu bulan melakukan ritual di sana.”
Koswara menghentikan ceritanya karena kakinya terasa pegal, dia duduk di atas
rumput tempatnya berdiri barusan.
Vanessa mengikuti Koswara yang duduk di sampingnya, dia
masih merasa penasaran dengan kisah kepala desa yang di ceritakan Koswara.
Koswara kembali bercerita, “Baru satu langkah kepala desa
mendengar suara teriakan anak kecil dari dalam gua itu. Kepala desa menoleh,
melihat anak kecil yang terlihat cantik berlari ke arahnya. Mereka berpelukan,
kepala desa merasa lega karena anak kecil itu memanggilnya dengan sebutan
bapak, itu artinya anak kecil itu adalah anak yang di anugerahkan kepadanya. Lalu
semua orang berbondong-bondong pergi ke sana melakukan ritual untuk mendapatkan
seorang anak.” Koswara mengakhiri ceritanya dia melihat Vanessa yang tampak
kebingungan di sampingnya, “Kenapa?”
“Gak papa, aneh aja. Masa mau punya anak melakukan ritual di
gua, bukannya melakukan itu nanti hamil lalu melahirkan?”
“Ini duniaku, jelas berbeda dengan dunia mu,” ketus Koswara.
Dia merasa Vanessa tidak mempercai ceritanya.
“Kamu juga sama melakukan ritual di sana lalu mendapatkan
Hasan, Husein dan Cica?”
Koswara menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
Sebenarnya dunia Koswara ini tidak masuk akal bagi Vanessa,
bagaimana mulut gua bisa memberikan anak kepada warga di sini. Namun perhatiannya
kembali teingat kedua anak pria di sampingnya, “Kasihan anak-anakmu tumbuh
dewasa tanpa kasih sayang seorang ibu,” tutur Vanessa.
__ADS_1