Cinta Pertama CEO

Cinta Pertama CEO
Siapa yang membuatmu menangis?


__ADS_3

Pagi ini sebuah mobil Mini Cooper berjalan membelah jalanan ibu kota yang sudah terlihat sangat ramai dengan kendaraan.


Mobil itu berhenti di parkiran dalam gedung yang menjulang tinggi. Seorang gadis cantik turun dengan anggunnya dari mobil berwarna Merah tersebut.


Kakinya melangkah dengan semangat menyusuri lantai marmer yang menyilaukan. Tidak seperti langkahnya yang bersemangat, wajah gadis itu terlihat masam.


" malas sekali aku harus bertemu lagi dengan mak Lampir! " gumam Jia saat telah sampai di ruangan dimana di bekerja.


" Pagi Jiandra.. " sapa Doni yang sudah duduk di tempat kerjanya.


" Pagi juga Doni.. " balas Jia sembari mendudukan diri.


" Ada apa dengan wajahmu itu? kau terlihat tidak bersemangat pagi ini? " Doni.


" Tidak apa Doni. dimana Mona dan Siska? " tanya Jia untuk mengalihkan pembicaraan.


" tuh.. " jawab Doni sambil menunjukan keberadaan Mona dan Siska dengan memajukan dagunya.


" Ooo.. ada apa? apa ada masalah? " tanya Jia sedikit berbisik.


Doni mengedikan kedua bahunya menandakan tidak tau apa yang terjadi di dalam ruangan sana.


Cukup lama Mona dan Siska berada di ruangan bu Livia.


ceklek.. terdengar suara pintu terbuka.


" Jiandra.. kamu di panggil bu Livia " ucap Mona yang baru saja keluar dari ruangan bu Livia di ikuti Siska yang berjalan di belakangannya.


Jia pun masuk ke ruangan bu Livia setelah sahabatnya keluar dari ruangan itu.


" Pagi bu Livia.. " sapa Jia, tetapi bu Livia tidak membalasnya. "ikh.. sombong sekali! " gerutunya dalam hati.


" Jiandra kemana saja kamu kemarin setelah jam makan siang? " bu Livia bertanya dengan tatapan tajam nya.


" Kemarin Pak Sam memintaku untuk membantu pekerjaan nya " jawab Jia berbohong, padahal dia tertidur di ruangan Brian.


" Apa kamu tidak membohongiku? " tanya bu Livia penuh selidik seakan tidak percaya yang di ucapkan Jia.


" Kalau tidak percaya, tanyakan saja pada pak Sam. " elak Jia.


" Oke! " jawab bu Livia pasrah, karena tidak mungkin dia menanyakan hal itu, dia tidak ingin bermasalah dengan atasannya.


" Dan ini kerjakan semua! sepertinya kau cukup pandai, melihat hasil kerjamu yang kemarin " perintah bu Livia.


" astaga banyak sekali! " batin Jia. " bukannya pekerjaan ku hanya seorang asisten yang membantu mengerjakan pekerjaan bu Livia, tetapi kenapa pekerjaan bu Livia diserahkan semuanya kepadaku! " Jia menolak pekerjaan yang diberikan Bu Livia.


" apa kamu sudah berani membantah perintahku!! " ucap bu Livia menaikan nada suaranya.


" Kenapa bu Livia membentak ku! " ucap Jia tak kalah meninggikan suaranya.


" Kau!!! berani sekali membantah ku!! bentak bu Livia.


" Kau pikir kau siapa seenaknya membentak ku!! " ucap Jia yang tak terima dengan perlakuan bu Livia. " Akan ku adukan pada pak Sam!! " acam Jia.


" Adukan saja jika kau berani! dasar gadis manja! bisanya hanya mengancam!! " bu Livia.


Jia terisak ketika nada bicara bu Livia benar - benar sudah di ambang batas, Jia merasa sedih mendapat perlakuan seperti itu karena selama ini tidak pernah mendapatkan dari keluarga nya.


Suara bu Livia terdengar sampai di luar ruangan. Siska, Mona dan Doni yang mendengarnya merasa was - was apa yang terjadi di dalam ruangan sana.


Jia berlari keluar dengan isakan tanpa memperdulikan pertanyaan dari ketiga temannya.


Jia berlari menuju ke ruangan pak Sam. di saat seperti ini biasanya Jia membutuhkan pelukan dari Mirra, Jody bahkan Valent yang selalu menenagkannya.


" nona Jia kenapa? " ucap Rea yang melihat Jia menangis dan segera menghampirinya.


" hiks.. hiks.. dia jahat sekali!! " Jia berkata sambil terisak.

__ADS_1


" Siapa nona? " tanya Rea sambil mengelus -elus punggung Jia untuk menenangkannya.


" mak Lampir itu.. dia membentak ku. " jelas Jia yang masih dalam isakannya.


" ada apa ini? " tanya pak Sam yang baru kelura dari ruangan Brian. " nona.. kenapa nona menangis? " tanya pak Sam.


" ini semua salah pak Sam! hiks..hiks.." celetuk Jia.


pak Sam mengernyit mendengarnya " maaf nona, tapi apa salah saya yang membuat nona menangis? "


" dia berbicara kasar kepada ku! dia membentak ku! " jelas Jia.


pak Sam masih terlihat bingung, belum mengerti arah pembicaraan istri dari tuannya.


" bu Livia membentak nya pak Sam, " sela Rea yang memahami jika pak Sam masih belum mengerti.


"astaga.aku pikir terjadi hal buruk yang membuat nya menangis seperti ini. ternyata cuma mendapatkan bentakan dari bu Livia. bagaimana jika nona melihat tuan dalam kemarahannya yang luar biasa. " batin pak Sam.


Mendengar suara keributan dari luar, Brian keluar ruangan ingin mengetahui keributan apa yang terjadi.


" sayang... " ucap Brian yang baru saja keluar dari ruangannya. " kau kenapa? apa yang terjadi padamu? " tanya Brian dengan cemas melihat Jia yang menangis.


Jia menghamburkan dirinya dengan memeluk erat Brian, menangis di pelukan Brian.


" kau kenapa? " tanya Brian sambil mengeratkan pelukannya.


" hiks.. hiks.. hiks.. dia membentak ku! " ucap jia masih dalam pelukan Brian.


" siapa yang berani membentakmu? " Brian.


" hiks.. hiks.. mak Lampir itu " Jia.


" hah? siapa? " tanya Brian yang tidak jelas mendengar yang Jia katakan.


" hiks.. hiks... bu Liv--- " ucap Jia terpotong. seketika dia sadar jika dia memberitahu bahwa bu Livia yang memarahinya nanti rahasianya bisa terbongkar.


" katakan sayang.. siapa yang membuatmu menangis? " tanya Brian penasaran.


" apa??!! " Brian yang mendengarnya seketika menatap tajam ke arah pak Sam yang berdiri tidak jauh dari sana.


Bagai tersambar petir pak Sam mendengar tuduhan dari nona nya, sedangkan Rea hanya bisa diam menahan tawanya.


" apa yang dilakukan nya yang membuatmu menangis? " Brian masih menatap tajam pada pak Sam terlihat sekali wajahnya merah padam menahan amarah.


" dia.. dia.. memarahiku yang akan menemuimu " jawab jia sambil melepaskan pelukannya. "maafkan aku pak Sam.please" ucap Jia dalam hati sambil melirik ke arah pak Sam.


"astaga! aku lagi yang disalahkan.bencana apa ini? mendapat kemarahan tuan karena kesalahan yang sama sekali bukan karena diriku! " batin pak Sam.


" ya sudah, jangan menangis lagi " ucap Brian sambil menghapus air mata Jia. " sayang.. kau tunggu sebentar di ruangan ku " perintah Brian,Jia hanya menganggukan kepalanya dan menuju ke ruangan Brian.


" Berani sekali kau memarahi istriku!!! " bentak Brian kepada pak Sam setelah Jia masuk kedalam ruangannya.


" maaf tuan " pak Sam tidak bisa mengelak tudauhan yang merugikan nya. bicara sebenarnya pun Brian tidak akan percaya.


" Kau--..... " Brian belum sempat menyelesaikan ucapannya terpotong saat mendengar suara yang memanggil namanya.


" Brian... " panggil Jia, sebenarnya Jia sengaja memanggil Brian supaya pak Sam terhindar dari amarah suaminya. bagaimanapun ini semua salah Jia yang memberikan tuduhan palsu pada pak Sam.


" iya sayang... " Brian menyauti panggilan Jia. " urusan kita belum selesai!!! " ucap Brian pada pak Sam.


pak Sam menghela nafas dan membuangnya dengan kasar setelah kepergian Brian.


" pak Sam, semuanya akan baik - baik saja " ucap Rea di sertai senyuman untuk menenangkan pak Sam.


" ck, sial sekali aku hari ini!! " keluh pak Sam di depan Rea.


******

__ADS_1


Setelah kejadian tadi pagi Jia memutuskan untuk pulang kerumahnya. Jia akhirnya bisa tersenyum setelah berhasil membujuk Brian supaya tidak memarahi pak Sam.


Jia sudah berada di rumah memakai pakaian ala rumahan.


" mama.. Sean mana mah? " tanya Jia pada Renatta yang sedang duduk manis di ruang keluarga.


" Sean tidur sayang, di kamarnya " jawab Renatta.


" mama, ini siapa? " tanya Jia sambil menunjukan foto yang terpajang di nakas ruang tamu.


" itu Bimo, anak bungsu mama, adiknya Brian " jelas Renatta.


" maaf mah, membuat mama sedih mengingatnya kembali " ucap Jia sambil duduk disamping Renatta dan memegang tangan Renatta.


" tidak apa sayang, " Renatta tersenyum.


" sayang, apa kamu dan Brian tidak berencana pergi honeymoon? " tanya Renatta untuk mengalihkan pembicaraan.


" mm.. mm.. Jia belum siap mah.. maksud Jia, Jia masih sibuk mempersiapkan untuk membuka butik " jelas Jia.


" sebaiknya jangan terlalu lama menundanya. habiskan lah banyak waktu untuk berdua saja, merajut kembali cinta kalian " ucal Renatta.


" iya mah, Jia juga menginginkannya. apa mama punya ide, tempat yang bagus untuk pergi honeymoon? " tanya Jia.


" Paris? Jepang? Korea? atau keliling eropa. "


" huh itu membosankan, Jia sering berkunjung dengan mama dan papa ke negara itu "


" ke pulau mungkin? " ucap Renatta.


" mah, Jia sudah tidak suka yang berbau lautan. mengerikan sekali " ucap Jia sambil berkidig, masih trauma masalalu ketika dirinya terdampar.


Renatta hanya menggelengkan kepalanya melihat Jia. Mereka melanjutkan obrolannya, Jia yang begitu manja bergelayut di lengan Renatta. Renatta sangat senang melihat Jia yang begitu manja padanya, dia bisa merasakan seperti ibu yang memiliki anak perempuan.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Hai reader's


ini novel pertama ku, maaf jika masih banyak kesalahan dan banyak typo yang betebaran.


Terimakasih telah setia membaca novel ku.

__ADS_1


jangan lupa like komen dan votenya.


bye bye..


__ADS_2